
Radit dan Dani berada disebuah gedung yang Mewah. Seorang bodyguard mengikuti langkah seorang wanita yang tampak kesakitan karna tak mau bekerjasama dengannya.
Wanita yang tampak begitu seksi berjalan ke arah dimana Radit dan Dani berada. Radit dan Dani menoleh, mendapati wanita di depannya yang tangannya terikat oleh tali. Ada sebuah rasa kesal yang menusuk jantung keduanya.
"Duduklah!" ucap Dani. Wanita itu mendudukan bokongnya dengan kasar. Wanita itu Menatap dua orang di depannya.
Radit tampak berdiam, netranya memandang wanita itu dengan jijik. Bagaimana bisa wanita itu berpakaian seksi, dengan bagian dada menyembul dan begitu ketat? Aish, kenapa sekarang dirinya mengukur kesopanan dengan gaya Nada? Bukankah memang Nada berbeda dari wanita-wanita itu?
"Apa yang sebenarnya ingin kalian bicarakan?" tanyanya. Radit dan Dani saling berpandangan. Wanita itu tampak dingin.
"Aku ingin kamu bertanya apa maumu? Aku tau, kau hanya orang yang disuruh untuk melakukan ini pada perusahaan ku, kembalikan seperti yang aku mau. Apa aku yang akan memaksamu?" ucap Dani dengan tatapan sinis, bahkan mampu membuat wanita di depannha tampak ketakutan.
"Kau akan bebas jika mau mengatakannya.
, dan kita harus bekerjasama untuk menstabilkan perusahaanku kembali," ucap Dani.
"Apa kau setuju?" tanya Dani lagi.
"Selain kau licik ternyata kau juga serakah Tuan Dani," ucap Wanita itu. Dani berdecih sinis Memang Dani menyekap anak dan suami wanita itu untuk mendapatkan kesepakatan.
"Baik, aku bisa melakukan jika kau juga melakukan suatu hal untukku," ucapnya.
"Apa yang kau mau?" tanya Dani. Radit hanya menatap interaksi dua manusia yang sedang bernegosiasi itu. Entah, biasanya dia yang kejam, kini tampak merasakan sesuatu yang hilang. Sedari malam bahkan dirinya tak bisa tidur nyenyak.
__ADS_1
"Jangan menanyakan siapa pelakunya padaku, aku cukup membenahi kekacauan yang aku buat. Dan kalian lepaskan anak dan suamiku, bagaimana?" tawarnya. Dani menghela napas dan sedikit menahan emosi mendengar ucapan wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Dani. Dia hanya ingin memastikan bahwa dirinya Tak salah memahami.
"Bukankan kau berbuat licik untuk menjebakku? Dan sekarang kau memintaku untuk menstabilkan perusahaanmu? Aku mengajukan syarat itu. Bagaimana?" tanya wanita itu.
"Perusahaan itu kacau karna ulahmu!" bentak Dani.
"Tapi aku sudah menebus kesalahanku disini. Aku ingin kalian menjamin juga keselamatan keluargaku," bentak wanita itu kembali. Dani mengepalkan tangannya. Dia ingin tau dalang dibalik semua yang terjadi. Tetapi wanita itu menolak untuk memberi tahu, lalu apa yang harus dia lakukan?
Dani bergerak maju dan hampir saja mengambil sebuah tali. Namun, Radit menghentikan aksi dani dengan mengibaskan satu lambaian tangannya.
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa kau tampak ketakutan?" tanya Dani.
"Jangan memukulnya, turuti yang dia mau. Yang terpenting saat ini adalah kesetabilan perusahaan." ucap Radit kemudian melenggang pergi.
"Bawa dia pergi," ucap Dani pada bodyguard. Mereka mengangguk dan melangkah pergi.
😍😍😍😍
Nada yang selasai memasak, kini bersiap untuk berangkat. Hari ini adalah acara gladi bersih acara fashion mode yang diadakan Emyli besok pagi. Dia harus mempersiapkan segala sesuatunya.
Nada memoles sedikit wajahnya kemudian terburu untuk segera menuju ke bawah. Nenek dan kakeh kembali melakukan cek up kesehatan nenek yang kemarin tertunda. Kini Nada mendapati ibu mertuanya yang tengah menikmati teh hangat di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Pagi, Ma," sapa Nada.
Mira menatap ke arah Nada yang tampak cantik dan elegan. Mira yang selalu mengira Nada memanfaatkan Radit kini berdiri dan menatap ke arah Nada dengan sorot mata tajam.
"Mau kemana kamu?" tanya Mira sinis.
"Aku mau bekerja Ma," ucap Mira sambil mendekapkan tangannya di dada.
"Kau pikir kau siapa disini? Disini kau hanya istri bayaran, dan tugasmu tidak lain adalah sebagai pembantu, jadi bertidaklah seperti apa yang seharusnya, Nada," ucap Mira.
Nada merasakan sesak yang menghujam hatinya. Kenapa ibu mertuanya begitu membencinya?
"Tapi Ma, aku harus pergi," ucap Nada. Mira menghela napas panjang.
"Lepaskan semua benda yang melekat di tubuhmu, kau tidak pantas memakainya,," ucapnya lagi.
"Tapi Ma," sanggah Nada.
Mira meletakan telunjuknya di bibirnya seakan meminta Nada untuk berhenti bicara. Mira maju beberapa langkah. Mira menggelandang Nada berjalan mengikutinya ke dalam kamar pembantu. Mira mendorong Nada ke atas ranjang sehingga Nada terkejut.
"Aku sudah menyiapkan beberapa helai baju untukmu, disini tempat yang seharusnya kau huni," ucap Mira sambil mengamati ruangan kecil yang sangat pengap itu kemudian melangkah pergi.
Nada menutup pintu kamar dengan keras, air mata mengalir deras. Langkah yang salah membuatnya terjebak dalam suatu keadaan. Hatinya terpaut dengan Radit yang tak pernah mau membuka pintu hati untuknya.
__ADS_1
Nada menatap ke arah ranjang, busa kecil tampak terlihat di kamarmya itu. Nada menghela napas panjang. Lagi-lagi sesak menyeruak di hatinya.
😊😊😊😊