
"Wa'alaikumsalam," Nada menghela napas panjang. Sepertinya dia harus menemui Radit sekarang juga.
Nada menatap ke arah cermin, memastikan penampilannya sudah rapi. Yang benar saja, wajahnya tampak ayu dan mempesona di balik kerudung warna ungu yang membalut wajah cantiknya.
Nada meraih tas tangannya kemudian keluar dari kamarnya. Nada menapaki tangga dan melihat ayah beserta ibunya tengah duduk rapi di ruang tamu. Hari ini tampaknya ayahnya ada peninjauan di lapangan, sehingga jam segini masih ada di rumah.
"Assalamualaikum, ayah, ibu,"
"Waalaikumsalam, anak ayah yang cantik. Mau kemana? Tampaknya kamu sangat cantik sekali," ucap ayahnya menggoda Nada sehingga menerbitkan senyum ayu dari anak gadisnya itu.
"Ayah, ibu sudah membicarakan keputusan Nada untuk kembali ke butik lebih cepat?" tanya Nada. Ayahnya meletakan teh yang di bawanya dan menatap ke arah Nada.
"Kamu tidak mau mempertimbangkan dulu penawaran ayah kemarin? Dia orang baik, Nad," ucap ayahnya.
"Ayah, Nada hanya bisa berdoa semoga Allah mempertemukan Nada dengan jodoh yang baik. Jika dia saat ini belum baik, semoga Allah segera memperbaikinya memberikan hidayah untuknya," ucap Nada dan disambut tawa oleh ayahnya.
"Gadis ayah pandai sekali ngelesnya, bilang saja mau menghindar," ucap ayahnya. Nada tersenyum dan bersaliman pada kedua orang tuanya.
"Jadi kamu mau kemana?" tanya ibunya.
"Nada mau menyelesaikan urusan dengan teman, Bu,"
"Teman?" tanya ibunya sambil tersenyum dan disambut kekehan geli dari Nada.
"Udah ah, Nada berangkat dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, hati-hati nak,"
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀
Nada menghela napas panjang kemudian menancap gas mobilnya menuju ke alamat yang berada di kartu nama Radit.
Nada menikmati alunan lagu yang membuat tersenyum, sesekali ingatannya tertuju pada satu hal yang membuatnya harus mencari keberadaan lelaki mesum itu.
"Nada, kamu harus segera menyelesaikan urusanmu dengannya," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Beberapa saat kemudian, Nada keluar dari mobilnya setelah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi yang bertuliskan Pratama group.
Netranya mengamati gedung itu kemudian tersenyum singkat. Nada berjalan menuju kearah pintu masuk.
"Selamat siang, Nona. Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang satpam di depan pintu. Nada tersenyum dan mengangguk pelan.
"Maaf, saya mau mencari Bapak Radit. Apa beliau ada? " tukas Nada sambil mengarahkan kartu nama Radit kepada satpam. Satpam itu tampak mengamati tulisan itu dan tersenyum.
"Ada apa Pak?" tanya seorang resepsionis cantik yang ramah.
"Kau tau wanita cantik di depan sana?" tanya Pak Satpam sambil menunjuk ke arah Nada yang masih berdiri di depan.
"Kenapa, Pak?"
"Dia mencari pak Radit," ucap pak Satpam. Resepsionis tampak mengamati Nada dengan seksama. Ada urusan apa wanita cantik itu dengan Pak Radit? batinya.
"Wanitanya Pak Radit?" celetuk resepsionis itu. Pak satpam menggeleng pelan.
"Nggak tau juga, mana tau urusan pekerjaan," ucap pak satpam.
__ADS_1
Resepsionis tersenyum mendengar jawaban pak satpam. Bukan lagi hal baru ketika seorang Radit di cari wanita kesini. Namun, saat ini kenapa wanita yang mencari begitu cantik dan sopan, kemudian juga menggunakan busana tertutup? apa calon istrinya? Resepsionis itu bertanya-tanya.
"Pak Radit kan di tugaskan ke pulau seberang sejak kemarin, bilang saja adanya kakaknya," ucap resepsionis pada pak satpam.
"Oh, iya. Aku lupa, kalau begitu aku kesana dulu," ucapnya.
"Bagaimana pak? Apa bisa saya bertemu dengan Pak Radit?" tanya Nada dengan senyuman menawannya.
"Maaf, Nona. Pak Radit kebetulan ada tugas di luar pulau. Jadi beliau tidak ada," ucap pak satpam. Nada tampak kecewa. Bagaimana bisa dia menyelesaikan urusannya kalau begini?
"Kalau boleh tau berapa hari pak?" tanya Nada lagi.
"Maaf Nona, kami kurang tau. Yang jelas sepertinya dalam jangka waktu yang lama. Atau mungkin nona mau bertemu kakaknya?" tanya pak Satpam.
"Oh, terimakasih pak, saya hanya perlu sama pak Radit. Kalau begitu terimakasih pak, saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Nada kemudian melangkah pergi. Nada menghela napas panjang.
Radit pergi? Lalu bagaimana ini? Nada masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk dan mencoba berpikir. Pada akhirnya Nada mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Radit. Dia tidak bisa terikat hutang terlalu lama. Namun, masih belum juga rezekinya karna pada saat ini kontak itu tidak bisa menyebabkan pada Radit.
"Astagfirullah," lirih Nada.
Nada menggelengkan kepalanya, dia akan segera pergi dari pulau ini. Lalu, bagaimana dengan Radit?
"Oke Nada, kamu tenang dulu. Lelaki itu lama bertugas, sebaiknya kamu tetap berangkat besok dan menyelesaikan urusan kamu lain waktu," ucap Nada menasehati dirinya. Nada menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.
Kak, sepertinya aku belum bisa bertemu dengan orang itu. Aku kembalikan dulu uang kakak. Lain waktu aku akan meminta dari kakak jika aku membutuhkan lagi.
Nada mengirim pesan untuk kakaknya. mengingat Arfan juga membutuhkan uang itu.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀