
Radit menuju ke arah apartemen Vino yang tak jauh dari Sheyna bontique berada. Dirinya sengaja tidak berpamitan dengan Nada dikarenakan ada Zifana, dan dia tidak ingin sesuatu hal terjadi.
Sempat berbicara dengan Vino beberapa waktu yang lalu membuatnya harus memastikan kesungguhan lelaki itu pada adiknya. Radit segera masuk ke apartemen mewah yang tidak di kunci itu. Vino selalu seperti itu, dan itu membuat Radit hafal.
"Vino," sapanya pada Vino yang menunggu di ruang tamu. Vino berdiri dan menyambut kedatangan sahabat, akan tetapi selalu memiliki keinginan yang berbeda dan selalu Radit yang mendapatkan kemaunnya. Vino menoleh, dengan wajah datar Radit berjalan kearah Vino.
"Selamat malam, Tuan Marvel Raditia Dika," sambut Vino dengan senyuman yang mampu membuat Radit seakan tak nyaman.
"Apa yang kau mau dari Micel? Bukankah aku sudah memperingatkanmu waktu itu?" tanya Radit sambil mendudukan dirinya di sofa. Vino mengambil dua kaleng minuman dan meletakan di meja.
"Santai, bro. Minum dulu," ucap Vino.
"Aku punya hak untuk menentukan hidupku, Tuan Marvel," ucap Vino lagi sambil tersenyum.
"Dia tidak tau apapun, aku tak ingin kau menyakiti dia nantinya." Radit seakan masih belum bisa meyakinkan dirinya untuk menganggap Vino telah melupakan Nada.
Vino terkekeh dan menatap Radit dengan sorot mata teduhnya. Tangannya meraih botol dan meminumnya.
"Jadi kau meragukan Nada? Bukankah cinta Nada padamu begitu besar? Lalu apa yang kau takutkan dariku? Tuan Marvel? Bukankah Nada tidak akan tergoda dengan lelaki manapun? Bukankah kau tak patut meragukannya? Aku tidak akan merebut apapun untuk merebut milikmu, aku selalu mengalah padamu. Bukankah dari dulu seperti itu?" ucap Vino panjang lebar sambil terkekeh dan seolah menyudutkan Radit.
__ADS_1
Ucapan Vino bagaikan kilat yang menyambar, membuat Radit mengepalkan tangannya. Jadi Vino merasa seperti itu? Bukankah dia mendapatkan apa yang dia mau dengan segala usaha kerasnya? Bagaimana bisa Vino merasa selalu mengalah darinya?
"Apa maksudmu?" sentak Radit. Vino tersenyum dan menatap Radit dengan tenang.
"Jika biasanya apa yang menjadi keputusanmu disetujui dengan mutlak oleh Aku, Delon dan Nico. Maka tidak untuk hal ini Marvel, aku ingin Micel menjadi milikku dan aku tidak mau kau ikut campur dan menghalangi langkahku, malam ini aku melamarnya," ucap Vino.
Radit memejamkan matanya, Micel juga bilang hal itu dan dia menyerahkan jawaban pada Radit. Mampukah dia menyakiti Micel jika menolak Vino? Lalu, jika pada kenyataanya nanti Micel hanya menjadi obsesi Vino saja karna Vino tak bisa mendapatkan Nada bagaimana? Bahkan dirinya tidak bisa memastikan kesungguhan Vino. Apa yang sebenarnya dirasakan Vino?
"Jangan sakiti dia," ucap Radit. Micel sudah terlalu menderita sejak kecil, bahkan saat ini dia bingung bagaimana cara melindungi adiknya itu.
"Semua itu sudah aku pikirkan dengan matang, bukankah cinta bisa datang kapan saja? Bahkan Micel sangat menyukai ku, aku dan kau tidak jauh beda denganmu, Tuan Marvel. Micel tak akan pernah menyesal menikah denganku," ucap Vino dengan kepedean tingkat dewa.
Radit membelalakan matanya, tangannya terkepal memberikan satu bogem mentah di pipi Vino. Vino yang terkejut tampak memegang pipinya kemudian membalas hantaman Radit. Keduannya terlibat baku hantam dan saling membagi pukulan dan tendangan.
"Bukankah benar adanya? Kau dan aku tidak jauh beda, lalu apa lagi? Kau tampan, aku juga. Kau kaya, aku sama. Kau mempesona, bahkan aku sangat mempesona. Lalu apa yang kau ragukan untuk menerimaku kakak ipar?" sahut Vino.
Radit memejamkan matanya, hingga pada akhirnya mereka saling berhadapan dan saling memandang, keduanya merasakan sesak yang sama. Saling mencengkram kerah lawan.
"Kau perlu tau Vino, aku tidak pernah ingin menjadi pemenang dengan memaksa. Aku tidak pernah meminta kau mengalah dariku. Jika kau merasa mengalah dariku, aku tidak terima Tuan Rezidan Alvino pradikta, sekarang aku ingin melihat kau memperjuangkan adikku. Tapi ingat, jika pada suatu saat nanti kau menyakitinya, aku akan memaksamu pergi darinya," ucap Radit ketus.
__ADS_1
Radit melepas cengkramanya, keduaya saling merangkul sejenak. Seperti ini akhir dari sebuah keputusan, dari dulu. Radit sadar, mamang dia selalu semaunya sendiri dan selalu mendapatkan apa yang dia mau, meski harus berkelahi dengan sahabatnya untuk mendapatkan kemauanya.
"Sepertinya kau harus berubah Marvel, kau bukan anak SMA lagi," ucap Vino sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Ya, bahkan aku akan menjadi seorang ayah," ucapnya dan mampu membuat Vino terkekeh. Keduanya saling memandang lagi dan saling merangkul kembali.
"Maafkan aku Vino. Bahkan aku baru menyadarinya sekarang bahwa aku memang pemaksa.
"Sama sama Kakak ipar," sahut Vino. keduanya terkekeh bersamaan.
"Kau tau, aku dan Nada sepakat untuk memberimu kesempatan, bahagiakan adikku. Minggu depan dia baru saja akan wisuda, tapi semua terserah padamu, aku tidak akan ikut campur dan memaksa lagi," ucap Radit sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah juga.
"Belajar dari kisahmu dan Nada, aku yakin cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu, Marvel," ucap Vino.
Radit mengangguk, dan dia saat ini memikirkan Nada, belahan hatinya yang masih ngambek dengannya.
"Aku pulang, ku tunggu kau ke rumah nanti malam," ucapnya sambil menepuk pundak Vino kemudian melenggang pergi.
Vino memejamkan matanya, Micel ada dalam pikirannya. Sempat di tolak gadis itu membuatnya semakin ingin memiliki gadis cantik itu. Vino tersenyum tipis.
__ADS_1
"Micel Adelia, tunggu aku," lirihnya.
🎀🎀🎀