Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCCC 2. Nada VS Radit


__ADS_3

"Dear, kumohon maafkan aku. Kita harus bicara," Radit kembali menarik Nada. Dia tau, mungkin Nada sangat kecewa karna ketidak jujuran dirinya dari awal. Tapi semua itu karna dia juga sangat mencintai istri cantiknya itu. Salahkah dia?


"Tidak ada yang harus dibicarakan, Tuan Marvel.Tunggulah disana," ucap Nada sambil mengulurkan tanganya menghadap kearah kursi di depannya lagi.


Nada melangkah ke kanan, Radit mengikutinya, melangkah ke kiri Radit juga mengikutinya. Nada memutar tubuhnya, menghindari Radit. Namun, Radit menarik tanganya, mendorong tubuh Nada hingga mentok didinding, mengunci gerakan Nada dengan kedua tanganya.Satu tanganya menarik rahang Nads.


Radit mencium Bibir Nada. Dia sangat rindu dengan istrinya. Nada mencoba memberontak, tapi tetap saja tak mampu kekuatan Radit jauh lebih kuat dari penolakanny.


Nada terdiam air matanya meleleh, rindu begitu menggebu, sejujurnya dia begitu bahagia mendapat sentuhan Radit, sentuhan yang begitu lembut. Namun, amarahnya saat ini masih menguasai hatinya. Ketidak jujuran Radit sangat mengecewakannya.


Plak


Nada melayangkan satu tamparan keras di pipi Radit. Nada menatapnya dengan tajam. Nadaa sangat marah. Namun, Radit tersenyum dan menggenggam erat tangan Nada. Air mata Nada mengalir, apa yang dia lakukan? Kenapa tak sejalan dengan apa yang dia mau? Dia sangat mencintai Radit, tapi kenapa tak mencoba mendengarkan dulu.


"Oke Dear, Kamu boleh menampar lagi, disini."


Radit mengarahkan tangan Nada di pipi kanannya dengan gerakan tenang.


"Disini." Mengarahkan tangan Nada di dahinya. Netranya menatap Nada dengan tenang. Senyuman menghiasi wajahnya.


"Disini." Mengarahkan tangan Nada di pelipisnya. Radit menghela napas panjang dan memajukan tubunya mendekat ke arah Nada.


"Lakukan sepuasmu, jika itu bisa membuat perasaanmu bahagia. Lakukan saja apa yang kamu mau, tapi biarkan aku tetap berada di dekatmu, m" ucap Radit sambil mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya. Nada semakin terisak dan memalingkan wajahnya.


Rasa sakit seakan-akan menghilang, akan tetapi dia masih ingin sendiri.


"Jangan menangis, aku sudah banyak membuatmu menangis sejak dulu," Radit menarik dagu Nada agar mata mereka saling bertemu. Merapatkan tubuhnya, meraih pinggang Nada.


Nada mengalihkan pandangannya lagi, dia enggan menatap bola mata Radit yang seakan membuatnya luluh begitu saja.

__ADS_1


"Lepaskan aku." Nada Bentak Nada, Radit mengabaikan bentakan Nada, tangannya terusan saja memeluk tubuh Nada.


"Aku bilang lepaskan aku Tuan Marvel, maafkan aku jika aku menamparmu, aku mohon lepaskan aku." Nada benar-benar muak, benar-benar benci dengan kebohongan Radit. Nada yang tak ingin melihat wajah Radit memalingkan wajahnya dari Radit.


"Aku merindukan mu, Dear," Radit berbisik pelan, sangat pelan, tetapi masih terdengar di telinga Nada yang memang begitu dekat dengannya. Ungkapan rindu itu benar-benar membuat sesak di dada Nada.


Cihhh, apa dia bilang, Rindu??? Omong kosong macam apa yang sedang diperankan? Sejak kemarin mengabaikan dirinya dan tak memperdulikannya, dan sekarang seenaknya bilang Rindu? Apa dia tidak punya perasaan sehingga tidak juga menjaga perasaan orang lain? Berontak Batin Nada..


Nada hanya diam, diam tak menjawab satu katapun,dia hanya ingin lepas dari Radit yang mengunci akses jalannya.


"Aku merindukanmu Dear, aku sangat merindukan mu," bisik Radit lagi dan mampu membuat Nada tersenyum kecut.


"Jangan mengatakan rindu kepadaku, Tuan Marvel Raditia Dika. Perlu kamu tau, aku bukan Nada yang selalu merindukan mu, aku bukan Nada yang mencintaimu, aku bukan Nada yang sudi menggodamu, aku bukan Nada yang selalu sabar menghadapi sikap egoismu. Dan kamu juga perlu tau Tuan Radit, Nada yang saat ini ada di hadapanmu adalah Nada yang begitu membencimu. Aku membencimu, Tuan Marvel!" ucapnya, tak melepaskan pandangannya. Radit tersenyum, dan menatap Nada dengan lembut.


"Membenci? Aku tau kamu berbohong Dear, tolong. Tenanglah, kasihan baby kita Dear," ucap Radit.


Bukan meluluh, Nada malah kembali memberontak, Radit kembali mengunci Nada dalam dekapan nya. Tak memberikan kesempatan untuk menghindarinya. Radit memeluk erat Nada, mengusap pundaknya memberi ketenangan di tengah isyakan tangis Nada


"Kamu bilang merindukan ku, setelah mengabaikan ku? Meninggalkan ku tanpa kabar, dan bersenang-senang dengan wanita lain dibelakang ku?" Nada menjawab dengan marah, sekali lagi dia berusaha memberontak dari pelukan Radit membiarkan air mata terus saja mengalir di wajah cantiknya.


Radit terus saja mencoba menenangkan istrinya yang tengah emosi itu. Dia tau dia salah, dan membuat Nad salah paham.


"Dear, dengarkan aku, aku merindukanmu, apa kau tidak merasakan kerinduan yang sama? Maafkan aku, Dear. Kumohon kita bicara baik-baik, kita butuh waktu untuk saling berbicara," Radit mencoba membujuk.


"Apa masih ada yang harus dibicarakan lagi, Tuan Marvel? Setelah ada benih lain yang harus juga kamu jaga? Jangan menambah dosa, nikahi dia." ucap Nada dengan deraian air mata. Sakit sekali harus meminta suaminya untuk menikahi orang lain.


Radit tersenyum tipis, mengusap air mata istrinya, memandang wajahnya penuh cinta, dia begitu tau jika istrinya menyakiti dirinya sendiri dengan berkata seperti itu.


"Dear, kumohon kita harus bicara baik-baik!" Pintanya tulus.

__ADS_1


Nada menghela nafas panjang, berusaha untuk memberi kesempatan untuk Radit da mengangguk pelan.


Radit menghela napas lega, berharap Nada tau posisinya. Keduanya berjalan ke arah sofa duduk saling berhadapan. Nada tidak ingin berlama-lama menghadapi Radit, baginya kebohongan sangat menyakitkan, Radit harus mendapatkan hukuman dari kesalahannya.


"Apa yang ingin anda bicarakan Tuan Radit?" tanyanya. Nada memandang laki-laki tampan di depannya. Laki laki yang menghalalkan dirinya sejak empat bulan yang lalu.


"Maafkan aku," Radit meminta maaf, memandang Nada dengan penuh cinta. Menggenggam erat tangan Nada.


Radit berlutut dihadapan Nada mencium kedua tangan istrinya. Nada mencoba menepis, namun percuma, dia pun memalingkan pandangannya, tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.


"Aku memaafkanmu, segera urus perpisahan kita dan kau bisa berbahagia bersamanya," lirih Nada. Hatinya begitu sakit mengucapkan nya, sejujurnya cinta dan rindu untuk suaminya sangat besar. Dua hari berpisah saja membuat dirinya rindu. Lalu bagaimana nanti?


"Dear, apa tidak ada maaf bagiku? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Radit dengan senyuman kesedihan di bibirnya.


"Sudah aku katakan aku membencimu, apa tidak dengar tadi? Pergilah!" bentak Nada. Mungkin kesabarnya sudah ditelan amarah yang kini masih saja menggelora di dalam jiwanya.


"Apa kamu akan bahagia berpisah denganku? hem? Apa kau bahagia jika bersanding dan bebas berkeliaran dengan lelaki muda di luaran sana?" tanya Radit. Nada mebelabakkan matanya. Lelaki Muda? Dia pergi bersama Micel, siapa lelaki muda yang Dimaksud? Rendikah?


"Apa-apan ini. kenapa kamu malah balik menyalahkan aku? Memangnya aku pergi dengan siapa? Aku hanya pergi dengan Micel," sengak Nada. Dengan kekuatan ekstra Nada menarik tangannya dari genggaman Radit, kemudian melangkah menuju dekat jendela, Nada terdiam.


Nada memandang pemandangan indah di luar sana, bangunan menjulang tinggi dengan segala kemewahan nya, Nada menyandarkan tubuhnya disudut jendela.


"Apa setelah membohongiku dan mengecewakan aku, kamu juga menuduhku? Kamu itu manusia atau bukan, dimana hatimu?" bentaknya lagi.


Radit berdiri dan berjalan mendekati Nada. memeluk Nada dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak Nada. Nada memejamkan matanya. Air mata mengalir deras, dan membuatnya terisak. Rasa rindu yang begitu menggebu, kecewa, bahagia, semua bercampur menjadi satu di dalam benaknya. entah apa yang dirasakan sebenarnya.


"Aku hanya bertanya, aku juga hanya menerka, bukankah aku boleh menerka semauku? Seperti kamu menerka semaumu tentang apa yang aku lakukan, sehingga kamu marah seperti ini sebelum mendengar penjelasanku? "


Nada seperti ditampar mendengarkan celotehan Radit, sampai disini Nada menyadari bahwa, tidak semua yang dia lakukan adalah sebuah kebenaran. Meskipun Radit suaminya melakukan kesalahan, tidak seharusnya dia membenci dan marah tanpa mendengar penjelasan.

__ADS_1


"Apa lagi yang harus ku dengar? Kamu mau menjelaskan bahwa kamu bahagia menikmati semalaman bersama wanita lain? Mau menjelaskan betapa mesranya kalian menikmati kebersamaan sehingga mengabaikan aku dan telepon dariku? Tolong jangan lagi memberiku luka, yang aku pun tak tau bagaimana menyembuhkannya. Pergilah Tuan Radit pergilah!" bentak nya lagi, Nada mengusap air mata yang begitu deras mengalir di pipinya.


😘😘😘😘😘


__ADS_2