
"****," umpat Radit kemudian melangkah pergi. Radit melangkahkan kakinya menuju ke mobil dia ingin segera menemui Nada. Entah kenapa perasaannya tak menentu.
Radit duduk di belakang kemudi, kini sorot mata tajam Radit memandang ke arah lalu lalang orang yang yang kini tengah menikmati malam yang dingin di luaran sana. Radit memejamkan matanya, hatinya bergemuruh marah mengingat ucapan Mira pada Nada. Ya, Radit menyaksikan perdebatan antara Mira dan Nada. Walau bagaimana dia memperlakukan Nada dan sesinis apa. Tetapi, melihat Nada diperlakukan tidak baik oleh orang lain membuatnya sesak dan terluka.
Radit mengeluarkan ponsel dari sakunya, di bukanya galeri yang memperlihatkan beberapa foto bersama dengan Nada. Foto pernikahan yang diambilnya dari Dani. Radit menghela napas panjang dan mengusap wajah Nada yang tampak cantik dengan balutan baju pengantin yang memukau. Ada Rasa bahagia, sebal, sesak, dongkol, semua berkumpul menjadi satu.
Pernikahan itu terjadi karna pemaksaan Dani, Nada? Wanita itu hanya korban dari pembisnis selicik Tuan Tan. Lalu, kenapa dia memperlakukan Nada dengan tidak baik? Bukankah Nada menyelamatkan dirinya dari ancaman kebangkrutan?
Oh, ****. Radit beberapa kali mengumpat. Pikirannya kacau, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Radit melirik foto Nada lagi.
"Kenapa kau selalu membuat aku emosi tingkat Dewa? Di dekatmu membuat aku jengkel, tapi jauh darimu membuat aku stres. Lantas aku harus bagaimana?" Radit mengusap kasar wajahnya. Bayangan wajah cantik istrinya tengah memenuhi otaknya.
"Shitt," umpatnya lagi. Radit lagi-lagi menghela napas kasar. Dadanya semakin sesak saat mengingat nama Rafa yang mencoba menggoda Nada. Vino yang menyukai Nada.
"Nada aira," gumamnya pelan.
Radit mencengkram setiran mobil. Mengepalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
"Prang," Radit juga mencengkram botol minuman hingga pecah. Tetesan darah mengalir bercampur dengan air dari tangannya.
Perih? Luka itu tak sebanding dengan hatinya yang merasakan sesak dan entah di sebabkan oleh apa.
Bahkan, nama Amara tidak diingatnya sama sekali. Hanya wajah Nada yang selalu menghantuinya. Entah perasaan yang bagaimana yang bertekstur di hatinya. Benci, sayang atau bagaimana Radit tak sanggup mengartikannya.
Radit menggeser lagi galeri di ponselnya, menatap wajah cantik Nada yang diambilnya secara diam-diam, mengambil foto Nada sesaat setelah ijab qobul.
"Nada Aira," gumamnya lagi sambil melihat foto wajah yang tersenyum dan mampu menggetarkan hatinya.
Ya, pernikahan kala itu adalah pertemuan yang sangat sepesial bagi Radit. Meski tidak saling mengenal, tetapi ijab kabul kala itu benar-benar membekas di hatinya. Memberikan perasaan haru dan bahagia yang sulit untuk diungkapkan.
Nada memejamkan matanya, sedari siang dirinya belum makan, bahkan tadi malam dia juga tidak makan karna Radit menguncinya di kamar. Kini Nada memegang perutnya dan begitu terasa sakit. Nada mencoba berjalan ke arah pintu dan melirik jam dinding yang menujukan pukul 03.00
Nada mencoba mengetuk pintu, mencari pertolongan. Namun, sekuat apapun dia berteriak. Tak ada satupun orang yang mau membuka pintu kamar itu.
Mira tersenyum bahagia, ya dia yang melarang semua orang membuka pintu untuk Nada. Tak ada satupun pelayan yang bisa menolak permintaan nyonyanya itu. Nenek dan kakek? Sedari sore mereka pergi untuk cek up kesehatan dan biasanya akan menginap semalam di rumah sakit.
__ADS_1
Tengah malam yang sunyi itu , Micel keluar dari kamarnya. Telinganya mendengar ketukan pintu dari arah kamar Radit. Segera Micel memdekat. Mencoba memastikan pendengarannya.
"Tolong aku," lirih Nada dan masih bisa didengar Micel samar.
"Siapa di dalam?" Micel memegang hendel pintu yang tengah di kunci. Tak ada jawaban dari penghuninya, segera Micel mencari kunci cadangan yang berada di laci depan kamarnya.
Micel membuka pintu kamar Radit, alangkah terkejutnya dia saat melihat wanita cantik terkapar tak berdaya dengan wajah yang sangat pucat. Micel mengamati wajah cantik yang terlihat pucat itu, alangkah terkejut dirinya menyadari bahwa dia mengenal wanita cantik itu.
"Tolong, Bi. Tolong," suara Micel menggelegar meminta pertolongan. Siapa wanita cantik ini? Bagaimana bisa dia ada di kamar kakaknya? Tak berapa lama kemudian, beberapa pelayan masuk ke dalam mereka membantu Micel membawa Nada ke atas ranjang.
"Terimakasih, Bi. Apa kalian tau dia siapa? Bagaimana bisa dia ada disini?" tanya Micel.
"Dia Nona Nada, istri dari Tuan Marvel Nona," jawab Bi lastri. Micel membelalakkan matanya. Istri? Lalu, bagaimana bisa dia mengurung istrinya di kamar? Sangat keterlaluan.
Micel meletakan ponselnya di meja rias, netranya melirik kearah foto pernikahan yang terpampang disana. Mengusap pelan foto yang menampakan wajah tampan kakaknya dan wanita yang kini sedang terbaring lemah di atas ranjang.
Micel mengedarkan pandangannya. Hatinya berdesir ngilu, sesak tiba-tiba. Micel memejamkan matanya. Bagaimana bisa kakaknya menikah dengan orang baik seperti Nada? Kenapa juga harus mengurung kakak iparnya di dalam kamar? Aku harus memberinya pelajaran.
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘