Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 100


__ADS_3

Mira melirik ke arah Zifana dan mencoba untuk tetap tenang.


Mereka menikmati makan dengan khidmat, hanya dentingan sendok yang terdengar. Kakek dan nenek yang telah selesai segera membubarkan diri dari ruang makan menuju ke taman belakang. Micel juga ikut, sedangkan Mira dan Zifana kini saling menatap dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.


"Tante, lihat sendirikan bagaimana Marvel memperlakukan wanita yang kata tante adalah wanita bayaran itu. Kenapa mereka tidak keluar, bahkan Marvel juga tidak ada batang hidungnya. Bagaimana bisa aku mendekati dia kalau dia tidak muncul?" tanya Zifana.


Mira memejamkan matanya, bahkan dirinya juga masih tercengang karna kejadian ini. Radit yang mau menempati kamar utama masih menjadi misteri yang kini menggelayut di dadanya.


"Aku pastikan hari ini juga aku harus tau wajah wanita itu, aku tidak akan tinggal diam. Dia harus pergi dari sisi Marvel," ucap Zifana.


"Tetap stay di sini sampai sore nanti sayang, tante yakin wanita itu juga akan keluar dari sana," ucap Mira sambil mengusap pelan pundak Zifana.


"Tidak Tante, aku harus pulang. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu, biar orangku yang akan mengurusnya." ucap Zifana. Mira menghela napas panjang.


"Okey, tante percayakan padamu. Tante yakin orangmu bisa memberikan informasi tentang gadis itu secara detail," ucap Mira.


"Kalau begitu aku harus pergi, sampai jumpa lain waktu Tante," ucap Zifana sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Mira.


"Hati-hati, sayang," ucapnya.


😘😘😘😘


Nada dan Radit sudah selesai sarapan, kini Radit menatap Nada yang terlihat tampak bosan di kamar.


"Yang, boleh aku keluar? Aku pengin ketemu Micel, pengen ketemu nenek, kakek," ucap Nada sambil tersenyum.


"Sejak kapan kau dekat dengan gadis itu? Jangan dekat-dekat dengannya," ucap Radit.


"Micel gadis yang baik," ucap Nada.


"Aku tidak suka kau dekat dengannya," jawab Radit.


"Tidak ada alasan aku untuk menjauh darinya, dia adik iparku." tegas Nada.


"Aku bilang jangan dekat!" geram Radit.


"Kenapa yang?" tanya Nada.

__ADS_1


"Apa karna kamu membenci mama, lalu kamu melibatkan Micel? Micel tak ada salah," desis Nada.


"Bahkan aku yakin mama juga tidak pernah membeberkan alasan kemarahanmu pada Micel. Jadi, percuma juga kamu membuang tenaga untuk membenci Micel," ucap Nada.


Radit menghela napas panjang, melihat wajah Micel yang begitu mirip dengan Mira membuat dirinya sangat benci pada gadis itu. Nada mengusap pelan dada Radit dan menatap intens wajah suaminya itu.


"Cobalah untuk berdamai dengan keadaan, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan emosi. Kau tau, ketika dirimu hancur karena mama melakukan kesalahan, bisa jadi juga Micel melakukan hal yang sama. Mungkin bila dia tau kebenaran tentang dia yang di lahirkan karna sebuah perselingkuhan, dia akan marah dan kecewa." ucap Nada panjang lebar.


Radit memejamkan matanya, sakit mendera batinya. Kenapa dia tidak pernah berpikir demikian? Bahkan sejak kecil Micel hidup terpisah dari mamanya dan baru diakui di mansion ini setelah 7 tahun. Bukankah dia tidak mendapatkan kasih sayang yang layak dari ibu? Radit mengepalkan tangannya. Mira, kenapa dia begitu geram dengan wanita itu?


Terdengar gelakan tawa dari bawah sana, Radit dan Nada saling berpandangan.


"Sepertinya di bawah sangat seru, ada nenek kakek dan Micel, apa boleh aku ke bawah?" tanya Nada.


Radit tampak terdiam, dia menatap ke arah taman yang memperlihatkan kehangatan nenek, kakek dan Micel adiknya. Adik? Aish setelah 18 tahun lamanya tak mengakui Micel, kini dia baru menyebutnya adik? Aish, entahlah Radit memejamkan matanya dan mencoba mengabaikan desiran aneh ketika melihat senyum dan tawa Micel.


"Turunlah," ucap Radit.


"Yes," desis Nada dan terdengar jelas di telinga Radit.


"Setengah jam, lebih dari itu aku hukum," lanjut Radit. Nada memejamkan matanya. Hukum?


"Dear, kau lewat mana? Lewat sini saja." Radit memencet tombol dan membukalah sebuah dinding yang memperlihatkan sebuah lift. Nada tampak tercengang dan menatap ke arah Radit.


"Pintu rahasia menuju taman, hanya aku dan Dani yang tau, biasanya manusia laknat itu yang sering menggunakan akses ini untuk bisa masuk ke kamar ini." ucap Radit.


Nada tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dani? Sudah hampir seminggu dirinya tak bertemu dengan manusia itu. Nada segera melangkah dan menekan tombol menuju ke taman.


Radit hanya menatap punggung wanita yang dia cintai. Keberadaan Zifana di mansion ini telah dia ketahui, hingga dirinya melarang Nada untuk keluar. Namun setelah kepergian Zifana, dirinya merasa Nada dalam keadaan lebih aman.


Radit memejamkan matanya dan meraih ponselnya, menekan tombol panggil pada kontak yang bernama Dani.


"Halo bos," sapa suara di sebrang.


"Bagaimana kondisi disana?" tanya Radit.


"Semua berjalan seperti yang kita mau, wanita itu sudah membenahi segala yang dia sabotase. Hanya saja untuk menekan dia untuk bicara masih belum terlaksanakan," ucap Dani.

__ADS_1


"Biarkan, tapi jangan lengah. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya. Cepatlah pulang, aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi," ucap Radit.


"Ya, aku memang sudah sangat merindukan pulau X. Terlebih senyum Nona Nada yang bikin meleleh itu," ucap Dani sambil terkekeh.


Ucapan Dani membuat Radit mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya.


"Dani, kau mau mati?" desis Radit dengan suara beratnya.


Mendengar suara Radit bukannya takut, Dani malah tertawa bahagia.


"Selain itu aku juga merindukan melihat ekspresi wajahmu yang sangat jelek saat cemburu seperti ini," goda Dani. Radit menutup ponselnya. Dia menggeleng pelan dan tersenyum, Dani selalu bisa membuat dirinya tertawa.


Radit keluar dari kamar dan berdiri di balkon kamar, dia menatap ke bawah menyaksikan kehangatan antara kakek, nenek, Nada dan Micel di bawah sana.


"Kak, memang kakak kenapa sampai lemas, memang kakak tidak makan?" tanya Micel yang tak merasa berdosa itu.


Sebenarnya Micel pikir Nada lemas karna masuk angin dan terlambat makan. Tak tau saja ucapannya malah membuat ambigu di telinga orang lain, ya tentu saja salah paham. Lemas? Aish, pengantin Baru. wkwkwkkw.


"Anak kecik nggak boleh tau," sahut nenek. Kakek tertawa. Nada? Aish, kenapa dia sangat malu dan tak mampu menjawab? Padahal dia lemas hanya gara-gara di gelitik. Aish, semua ini gara-gara Radit yang menyampaikan hal yang kurang akurat.


"Kakak makan kok," sahut Nada.


"Hem pasti sedikit, harusnya yang banyak kak, biar kuat dan tidak lemas,"😂😂😂 ucap Micel.


Nenek dan kakek yang tertawa terpingkal pamit untuk pergi. Tidak tau saja mereka jika apa yang mereka maksud dan yang di maksud Micel bersebrangan arah. 🤣🤣


"Udah ah, Micel jangan bahas itu. Kakakkan malu," ucap Nada.


"Kenapa malu kak? Harusnya kakak bilang kalau masih lemas, mau aku kerokin? Masuk angin bahaya lo kak kalau dibiarkan," ucap Micel sambil menatap Nada dengan khawatir.


"Uhuk, uhuk," Nada tersedak udara.


"Masuk angin? Jadi Micel pikir dia masuk angin? Astaga, kenapa otak mikir aneh sih? Nenek, kakek? Aish, pasti mereka berpikir hal yang sama. Ya ampun Micel," Batin Nada menggerutu.


"Kakak kenapa? Apa perlu aku antar ke kamar?" tanya Micel tampak khawatir. Nada menggeleng pelan.


Radit tertawa terpingkal di atas, dia tau pembicaraan yang bersebrangan itu. Kenapa dia baru menyadari Micel sangat polos? Dia selalu berkata kasar di depan Radit dan membentak ternyata tetap anak-anak yang sangat lucu.

__ADS_1


"Micel," lirih Radit.


😘😘😘😘😘


__ADS_2