
Vino mengusap kasar wajahnya. Kenapa dia gelisah ketika membuat Micel bersedih?
Vino mencoba berlari, namun sayang sekali Micel sudah pergi entah kemana. Vino memejamkan matanya dan mengusap kasar wajahnya.
🎀🎀🎀
Di sebuah danau yang indah, namun keindahannya tertutup oleh suasana hati yang sakit dan tertutup dengan malam yang sunyi. Micel menyedekapkan tangannya menahan hawa dingin yang menusuk ditubuhnya. Memikirkan ucapan Vino tadi sore membuatnya sangat sedih.
Air mata terus saja mengalir, baru saja sedikit luka hatinya terobati dengan indah perlakuan Radit kepadanya. Kini harus merasakan sakit kembali karna ucapan Vino.
Tiba-tiba seseorang memberikan segelas teh hangat kepadanya. Diapun menoleh,
tampak Vino dengan wajah datarnya menyodorkan Teh hangat itu padanya. Vino yang merasa khawatir mencari tau arah Micel pergi dari CCTV terdekat.
Micel meraih teh yang disodorkan Vino dan meletakkan di sampingnya.
"Seharusnya tidak kau ambil jika hanya kau biarkan disitu, aku memberikan nya agar kau merasa hangat dan tidak kedinginan," ucapnya sambil menatap hamparan danau yang indah. Micel tersenyum sinis.
"Apa perduli mu, aku tidak membutuhkan perhatian mu Tuan Vino," sahut Micel ketus. Vino terkejut, gadis periang yang biasanya cerewet itu tidak biasanya berkata ketus. Namun, saat ini begitu dingin. Apa dia sangat keterlaluan tadi sore?
"Memang aku tidak peduli, hanya membuang waktu peduli dengan orang sepertimu," ucap Vino kemudian melangkah pergi.
Micel membiarkan Vino menjauh, rasa kagum yang menghantui otaknya sirna sudah karna ucapan Vino tadi siang. Rasa simpati pada Vino yang dipikirnya baik dan ramah seperti di seminar beberapa minggu lalu telah hilang entah kemana. Nyatanya Vino sama dinginya dengan Radit.
Micel duduk dan memeluk lututnya, hatinya merasakan kesedihan, ketika dia menerima kenyataan hidupnya begitu hampa. Mamanya tak peduli dengannya, selalu mengendalikan semuanya. Kakaknya? Bahkan baru saja dirinya memulai hubungan baik.
Air mata Micel mengalir, Micel menangis tersedu. Hanya nenek tempatnya mendapat kasih sayang. Hanya Nana tempatnya berbagi, tapi beberapa minggu ini waktunya benar-benar tersita karna ujian sehingga Nana dan dirinya tak pernah bersama.
Saat itu seseorang meletakkan jasnya diatas punggung nya, menghilangkan sedikit rasa dingin yang sejak tadi menusuk tubuhnya.
Micel diam dan tidak merespon, Micel menyembunyikan air mata yang terus saja tumpah membasahi wajahnya. Orang itu duduk di samping Micel.
"Menangislah, jika itu membuatmu merasa lega," ucapnya dengan tenang.
__ADS_1
Micel tetap diam, namun dia tau, suara itu adalah suara Vino. Mungkin dia tidak tega meninggalkan nya sendiri. Pikir Micel.
Micel berdiri, hampir saja melangkahkan kakinya. Namun Vino menarik tangannya.
"Tetaplah disini, kurasa dirimu tidak baik-baik saja, bahaya jika kau pergi-pergi."
Micel tidak mengindahkan perkataan Vino. Dia menarik tangannya dan berjalan menjauhi Vino. Vino bangkit dari duduknya, berjalan kearah Micel kemudian membopong tubuh kecil gadis 18 tahun itu kemudian berjalan kembali ke tempat semula.
Micel terkejut, ia mengayunkan kakinya. Memukul pundak dada bidang Vino.
"Turunkan aku, turunkan aku!" sentaknya.
"Aku akan menurunkanmu, jika kau duduk kembali! Aku akan membuangmu ke dalam sana jika kau masih saja mengabaikanku," sentak Vino.
Micel terdiam, Fik Vino benar-benar sama persis dengan kakaknya. Pemaksa.
Vino menurunkan Micel di tempat semula, Micel pun Kembali duduk menatap danau di depanya, danau tempatnya berbagi suka dan duka dengan Nana.
"Berbagilah padaku, mungkin bisa membantu melegakan perasaan mu," Vino membuka suara, sedang Micel masih berdiam, tidak menyahut ucapan Vino.
Micel mendongak dan meraih kerikil di sampingnya. Micel melemparkan kerikil kecil ke dalam danau.
"Kau tenang saja tuan Vino, aku bisa pulang sendiri. Meskipun memang banyak orang tak peduli denganku, tidak pernah ada yang sayang padaku, tapi aku peduli dengan diriku sendiri. Tak akan pernah aku merugikan diriku sendiri dengan bertindak murahan seperti yang kau tuduhkan tadi," ketusnya.
Vino memandang wajah cantik di sampingnya, ia memahami arah pembicaraan Micel. Dia tau, gadis kecil itu masih marah padanya.
"Aku minta maaf," ucap Vino.
Micel tersenyum getir, ya memang tidak ada yang peduli dengannya. Micel menghela napas panjang.
"Jangan merasa sendiri. Pasti banyak orang yang menyayangimu, hanya saja kau tidak menyadarinya." Vino menasehati.
Micel menoleh, dia menatap wajah Vino yang tanpa ekspresi itu. Aish, hatinya luluh kembali?
__ADS_1
"Kau itu tidak pantas bersedih, wajahmu begitu jelek jika menangis," ucap Vino lagi.
"Memangnya menurutmu aku cantik jika bahagia?" sahut Micel.
Vino menghela napas mendengar ucapan ucapan Micel. Vino menggelengkan kepalanya. Namun, angin malam seakan tak terima dengan jawabannya, hingga hembusan angin menerbangkan rambut Micel yang digerai. Menampakkan wajah cantik yang sangat tenang dan bersinar.
Netranya terpesona dengan wajah ayu gadis cantik yang biasanya cerewet dan menyebalkan. Namun, gadis itu mampu menarik perhatiannya ketika dia diam dan bersikap dewasa. Sangat berbeda, apa gadis di depannya mempunyai dua kepribadian? (sama kayak Radit 😀)
"Jangan bohong, Aku tau aku cantik, nenek selalu bilang aku cantik. Buktinya kakak juga terpesona denganku sampai tidak berkedip," ucap Micel. Wajah yang tadinya tampak melow kini berubah jadi sumringah.
Vino terkekeh pelan, entah bagaimana, Micel yang kembali cerewet itu membuatnya merasa lega. Dibandingkan melihatnya menangis seperti tadi, Vino lebih bahagia melihat Micel bahagia. Aish, kenapa perduli dengannya? Vino meraih teh hangat yang tadi dibawanya, ia menyerah kan pada Micel.
"Minumlah, itu akan mengurangi rasa dinginmu," Micel hanya menatap teh hangat itu.
"Kalau tidak mau gratisan, kau bisa mengganti besok siang. Kau bisa mentraktirku makan siang di cafe mawar, meja VVIP. Aku tidak mau meja biasa," ucap Vino sambil menyerahkan teh hangat itu. Micel tersenyum dan meraih teh hangat itu.
"Okey, besok siang aku kesana." ucap Micel antusias.
"Dari mana kakak tau aku disini? apa kakak membuntuti ku?" tanyanya sambil menyeduh teh hangatnya.
"Tidak penting, segera habiskan coklat itu, aku akan mengantarmu pulang," Micel tidak lagi memberontak, hatinya sudah tenang, ia mengangguk dan segera menghabiskan teh nya. Setelah teh itu habis, keduanya berdiri.
"Aku antar," ucap Vino.
"No, aku bisa pulang sendiri. Terimakasih tawaranya kak. Kakaku tidak suka kalau wanita pergi dengan orang yang baru dikenalnya," ucap Micel. Ya dari buku catatan Radit yang dibacanya dia tau Radit tidak suka hal itu.
Vino mengangguk, ada rasa kagum pada gadis cantik di depannya. Gadis yang lebih tampak cantik jika bersikap dewasa seperti ini.
Angin malam kembali berhembus, menerbangkan anak rambut Micel yang berantakan. Vino yang semula agak jauh mendekat ke arah Micel dan menyelipkan anak rambut di telinga gadis itu.
Keduanya saling memandang dan saling berhadapan. Vino menatap wajah cantik itu dengan tenang, bahkan nyatanya wajah itu begitu sangat menggiurkan. Vino mendekatkan wajahnya, entah magnet apa yang menariknya.
Namun, Micel yang memang tak pernah sekalipun dekat dengan pria yang jauh di atasnya merasakan deguban jantung yang tak beraturan. Micel mendorong Vino menjauh darinya.
__ADS_1
"Maaf Kak, aku harus pulang, jangan lupa besok aku mau bayar utang, Kafe mawar ya." ucap Micel kemudian berlari. Vino terkejut, aish, kenapa dia begitu agresif pada gadis kecil itu?
🎀🎀🎀🎀