
Radit membolak-balikan berkas yang dibawa Dani kepadanya. Dia melirik Dani yang tersenyum senyum sendiri.
"Kenapa kau senyum-senyum tidak jelas Dani?" tanya Radit sambil meletakkan berkas di atas meja kerjanya.
"Aku bahagia Tuan," jawab Dani sambil membayangkan wajah cantik wanita yang melayangkan satu tamparan pada pipinya semalam.
"Apa yang membuat mu bahagia?" tanya Radit dengan segala keingintauannya.
"Bertemu dengan seseorang,"
Radit tersedak udara mendengar pengakuan Asisten pribadinya itu, bagaimana bisa dia terlalu jujur mengatakan hal itu pada nya.
"Bukan istrikukan?" tanya Radit antusias.
"Kau pikir?" tanya Dani balik. Tadi tampak terdiam dan menatap ke arah Dani.
Dani tersenyum puas menggoda Radit.Tampak wajah Radit yang memerah menahan emosi. Radit tertawa melihat tingkah bosnya.
"Kau itu cemburu, mengaku saja. Sepertinya Nona Nada telah berhasil meracuni otakmu dengan kehadiranmya,"
Dani menepuk pundak Radit, Radit menepis tangan Asisten serta Sahabat nya itu.
"Untuk saat ini aku aku belum bisa mematikan, tapi aku tidak tau beberapa minggu ke depan," ucap Radit. Dani tersenyum.
"Bukalan hatimu, cobalah jujur pada dirimu sendiri Tuan Radit," ucap Dani kemudian berlalu. Radit mengacak-acak
rambutnya kasar. Bayangan Nada menari-nari difikiranya. Seulas senyum terbit dari sudut bibirnya.
"Kamu sedang apa dear?" lirih Radit. Radit mengambil ponselnya dan mencari kontak Baru yang belum disimpan olehnya.
__ADS_1
My Dearπ
Tulis Radit di kontak itu.
Sedang apa?
Radit mengirimkan pesan dan tak kunjung mendapat jawaban. Aish kenapa dia jadi tidak sabaran sekali menunggu jawaban dari Nada.
Dear, sedang apa?
Kirim Radit lagi. Nada yang tengah membersihkan meja kerjanya melirik ponsel yang berulang kali berdering.
"Siapa kak? Bales dulu gih," ucap Micel. Nada merai ponselnya dan terkejut saat kontak bernama Tuan Radit mengirim pesan padanya.
Nada menghela napas panjang dan membuka pesan WA dari suaminya. Seluas senyuman menghias wajah cantiknya sehingga Micel kepo dan menatap kakak iparnya yang tampak merona.
Aku sedang berdiri, Yang.
Radit membuka ponselnya, dan tersenyum. tapi senyumannya perlahan menghilang saat membaca balasan singkat dari Nada yang menyebalkan. Seketika Radit memencet tombol panggil dan menunggu orang di sebrang mengangkat panggilan darinya.
Nada tersenyum, dia tau suaminya akan marah. Dan membuat Radit marah adalah hobi terbarunya. Nada menggeser tombol hijau dan meletakan ponsel di telinganya.
"Halo, assalamualaikum yang, ada apa?" suara Nada terdengar merdu.
"Lagi apa?" tanya Radit. Nada tersenyum mendengar pertanyaan suaminya.
"Assalamualaikum," sahut Nada. Radit terdiam dan memejamkan matanya. Nada tau, pasti Radit sebal padanya.
"Waalaikumsalam, lagi apa? Apa sudah pulang ?Apa Micel sudah disitu?" tanya Radit dengan beberapa pertanyaan.
__ADS_1
Micel hanya tersenyum melihat interaksi kedua orang itu melalui sambungan telepon. Kakak iparnya itu benar-benar bisa mengendalikan kakaknya.
"Apa tidak kurang panjang itu pertanyaan?" tanya Nada.
"Tugasmu hanya menjawab, apa susahnya?" ucapnya tampak emosi tetapi membuat Nada tersenyum.
"Micel sudah disini, mau bicara dengannya?" Nada melirik Micel yang membelalakkan matanya. Nada hanya tersenyum saja.
"Tidak perlu, segeralah pulang," ucap Radit Datar.
"Aku sekalian pamit, ayah akan kembali ke pulau J. Jadi aku mau mampir kesana bersama Micel, apa boleh?" tanya Nada.
"Ayah kembali ke pulau J?" tanya Radit antusias.
"Ya,"
"Tunggu aku, kau bersamaku menemuinya. Suruh saja Micel pulang," ucap Radit kemudian menutup ponselnya.
Nada memejamkan matanya. Radit akan menjemputnya? Seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Kakak kenapa?" tanya Micel.
"Tunggulah, Kak Radit akan datang," ucap Nada sambil menepuk pundak Micel.
Nada dan Micel menunggu di taman depan butik. Tak berapa lama kemudian, muncullah sebuah mobil mewah berwarna merah metalik yang kini berhenti tepat di depan Nada dan Micel duduk.
Tak lama dari itu, tampak seseorang turun dari mobil itu dengan elegan. Dia berdiri sempurna dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, netranya memandang ke arah Nada yang berdiri menyambut dirinya.
Radit melepaskan kaca mata, netranya menatap bidadari berkerudung yang tampak cantik saat menatap ke arahnya. Hembusan angin malam menerbangkan jilbab Nada, membuat Radit tampak terpesona.
__ADS_1
ππππ