Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 155


__ADS_3

Dor


Satu kali lagi Gino melanyangkan satu tembakan ke atas, membuat semua orang yang tampak berkelahi menghentikan aksinya. Mereka menatap ke arah Gino yang seolah sedang murka dan berlari menuju ke atas.


Di saat yang bersamaan, Zifana tengah mendarat sempurna di atas tubuh Delon, tadinya Delon mau menangkapnya. Akan tetapi, keadaanya yang lelah tak kuat menangkap bobot tubuh Zifana, alhasil mereka berdua berguling di atas tanah. Beruntung, dari pada harus berakhir patah tulang atau mati sia-sia.


Zifana dan Delon saling menatap lekat, bahkan Zifana tak pernah membayangkan dirinya bisa selamat. Bukankah Delon sahabat Radit? Bisa saja dia membiarkannya mati konyol, atau tertawa di atas penderitaanya. Akan tetapi, dia mau menolongnya. Hais, hutang nyawa dia pada orang yang berhubungan dengan Radit itu.


"Delon, kau tidak papa?" Vino mendatangi sahabatnya, sehingga Delon dan Zifana tersadar dari lamunannya. Zifana segera bangkit, Delon juga sama. Keduanya saling menatap, ini adalah pertemuan ke dua setelah acara pesta MRD groub beberapa bulan yang lalu. Zifana terdiam.


Delon tampak menatap Zifana dengan sorot mata yang tajam. Bahkan tak sepatah kata terimakasih muncul?


"Apa mulutmu tak bisa bicara? Atau kau memang terlahir tanpa hati? Kau begitu angkuh sombong dan tidak tau diri," sentaknya pada Zifana.


Deg, jantung Zifana merasa sesak. Bahkan memang dirinya sangat angkuh, sombong, judes dan sangat manja. Tapi kenapa sesak sekali saat dirinya dicaci oleh Delon? Zifana masih terdiam, bahkan mulutnya terasa kelu.


"Kau yang melakukan penculikan pada Nada, Nona Zifana? Kau juga yang membuat aku babak belur seperti ini? Sepertinya jeruji besi bisa menyembuhkan pikiran dangkalmu itu," sentaknya kemudian melenggang pergi dan diikuti oleh Vino.


Zifana menghela napas kasar, Zifana dengan karakter sombong, jutek dan keras itu hanya diam mendengar cacian dari Delon. Zifana menatap dua punggung orang yang kini menjauh darinya.


"****, kenapa aku tak mampu menjawab ucapannya?" lirih Zifana. Bahkan setelah ditolong, diapun tak mau menurunkan egonya.


Dengan emosi dirinya mengejar langkah Delon dan menarik tangan Delon dengan paksa. Mereka saling menatap tajam.

__ADS_1


"Bisa kau berbicara sedikit sopan? Bisakah kau melihat keadaan orang lain?" bantah Zifana. Delon tersenyum sinis.


"Kau punya kaca? Apa tidak bisa mengaca? Bahkan dirimu sendiri yang seharusnya kau tanya," ucap Delon.


"Apa maksudmu?"


"Sopan katamu? Bagaimana bisa kau mempertanyakan kesopanan pada orang yang tak kau hargai sama sekali? Kau tau, aku bersikap seperti yang kau lakukan padaku. Kau hargai aku akan menghargaimu. Kau sombong, angkuh dan tak tau diri? Bahkan aku bisa melakukan hal yang sama," sentak Delon. Zifana tampak mengepalkan tangannya. Haish, entahlah, Delon telah merusak otaknya.


"Jangan harap kau akan lepas begitu saja, Nona. Kita bertemu besok lagi," ucap Delon kemudian kembali melangkah pergi.


"****," umpat Zifana.


"Zifa, kau tidak papa?" tanya kakaknya yang kini mendekat dan tampak mengkhawatirkan dirinya. Zifana menatap ke arah Gino dengan murka.


"Zifa, aku kakakmu, bisakah kau berdiam sejenak?" tanyanya.


"Maaf kak, aku harus pulang," ucap Zifana dan melangkah pergi meninggalkan arena hudang tua itu.


🎀🎀🎀🎀


Nada dan Radit beserta Arfan menikmati makan malam di apartemen Radit. Apartemen mereka yang berdekatan membuat Nada memasak makanan banyak dan mengundang kakaknya untuk datang.


Makan malam telah usai dan ketiganya saling berpandangan saja.

__ADS_1


"Jadi apa kakak masih marah?" tanya Nada.


"Enggak juga, hanya saja kakak sebal," keluhnya.


"Okey, biar kakak tidak sebal lagi, anggap saja keponkan kakak yang mengerjai," ucap Nada. Arfan tampak menatap Nada.


"Keponakan?" tanya Arfan.


"Hem, aku hamil kak," ucap Nada pada Arfan yang memang belum tau kabar ini.


"Alhamdulilah, kakak bahagia mendengarnya." Arfan menghela napas dalam-dalam.


"Kamu harus segera menghubungi ibu," ucapnya dan diangguki oleh Radit.


"Oh iya, kakak ingin menanyakan tentang gosib itu bagaimana? Apa kamu bisa mengatasi?" tanya Arfan.


"Aku akan berusaha mengatasinya Kak," ucapnya dan Radit bersamaan membuat mereka bertanya tanya.


"Okey. kakak percaya pada kalian," ucap Nada sambil tersenyum.


"Bismilah. semoga lancar tanpa halangan," lirih Nada lagi.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2