
"Apa benar begitu Yang?" Nada mengusap pelan wajah Radit dengan tatapan sendu. Radit membalas perlakuan lembut istrinya.
"Benar, aku tidak bersalah Dear," ucap Radit tepat disamping telinga Nada. Napas Radit terasa ditelinganya. Aroma wangi tubuh Radit membuat jantung Nada berdetak tak beraturan. Ditengah rasa kaget atas ucapan Radit, Nada memejamkan matanya.
Nada yakin bahwa Allah SWT selalu bersama dengannya. Allah SWT tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan makhluknya.
"Bisa membuktikan semua padaku?" tanya Nada. Radit mengambil ponselnya di celana dan membuka galeri Vidio. Radit memberikan rekaman yang dikirim oleh Delon padanya, Radit juga memberikan beberapa berkas yang di kirim oleh Delon.
Nada menutup mulutnya. Gino benar benar serakah. Apa yang sebenarnya di pikiran mereka? Kenapa mereka jahat sekali. Zifana? Terakhir kali mereka berjumpa di sheyna bontique dan akan bekerja sama. Akan tetapi pesan WA dari Zifana menghentikan kerja sama itu.
Maaf Nada, aku tidak bisa melanjutkan kerja sama kita. Butik milikku dijual kakakku. Aku sudah tidak punya wewenang lagi. Lebih baik kita akhiri sampai disini Terimakasih telah menerima tawaran bekerja sama ini, walaupun harus berhenti sebelum melangkah. Zifana Manda.
Nada menghela napas panjang. Zifana ikut terlibat? Atau malah jadi korban? Entahlah. Wanita itu dikabarkan menghilang. Entah karena apa.
"Lalu bagaimana dengan Selena?" tanya Nada.
"Selena dan ibunya di bawa kerumah sakit oleh Delon. Ke depan belum tau, mungkin Delon akan membantu Selena dan ibunya. Selama ini Selena bekerja di clup. Sekarang dia hamil. Pasti mereka kesulitan untuk biaya hidup," ucap Radit.
"Apa kamu tidak bercita cita membantu mereka yang?" tanya Nada. Radit menghela napas panjang.
"Apa kau tidak marah?" tanya Radit sambil menatap ke arah Nada dengan penuh cinta.
"Aku tidak akan marah jika kamu berbuat baik," ucap Nada dengan bahagia. Nada mengusap pelan dada bidang Radit.
Radit merasakan bagian bawah tubuhnya bangun karna sentuhan itu.
"Dear, ada yang bangun," ucap Radit.
"Apa yang? Apa aku terlalu cerewet sehingga membangunkan seseorang?" tanya Nada.
"Kamu harus bertanggungjawab Yang," sahut Radit.
"Aku harus apa yang?" tanya Nada.
"Membiarkan dia masuk dan tidur kembali setelah capek," ucap Radit. Nada membelalakan matanya. Astaga bang Radit.
😂😂.
"His, menyebalkan." ucap Nada.
"Mau kemana Dear?" ke dalam.
__ADS_1
"Celanaku sobek, apa tidak papa aku ikut masuk?" tanya Radit. Nada terkekeh.
"Kenapa lewat situ sih Yang?" tanyanya.
"Tak ada yang membuka pintu untukku Dear," ucap Radit.
"Seperti kau amnesia, kenapa tidak menelpon saja," kekeh Nada lagi. Membuat Radit semakin sebal.
"Apa yang terjadi Nak?" suara seseorang membuat mereka menoleh bersamaan. Dilihatnya Pak satpam dan Ayah Hasan berada di samping pintu yang menghububungkan balkon dengan kamar nada. Nada segera berdiri tegak.
"Mana malingnya, Non?" tanya Pak satpam yang tampak membawa balok kayu besar.
Nada hanya diam dan nyengir saja.Pak satpam dan Ayah Hasan saling berpandangan.
"Astaga, Ayah sampai kaget lo," keluh Ayah Hasan saat melihat Nada dan Radit saling berangkulan.
"Maaf Yah," ucap Nada sambil tersenyum.
"Maaf Tuan, Saya kebawah lagi. Tadi Non Nada teriak lantang sekali. Non Nada juga sempat menelpon saya, sayakan jadi hawatir Pak," ucap Pak Satpam sambil menoleh ke arah Nada.
Mendengar ucapan pak satpam dan papanya membuat Nada memukul pelan lengan Radit sambil tersenyum.
"Ya sudah, turun lagi Pak. Maaf ya," ucap Ayah Hasan yang kemudian diangguki oleh pak satpam.
"Ya sudah, lanjut lagi. Ayah ke bawah dulu," ucap Ayah kemudian melenggang pergi.
Nada dan Radit saling berpandangan dan tertawa. Bagaiamana bisa ini terjadi?Kenapa mereka malah membuat onar? Nada melenggang pergi diikuti Radit. Nada mengambil baju ganti untuk Radit dan menyerahkan pada suaminya. Nada sendiri masuk ke dalam kamar mandi.
Radit menunggu Nada yang sedang membersihkan dirinya di kamar mandi. Radit selesai ganti baju dan duduk di depan TV.
Beberapa saat kemudian Nada keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama doraemon yang menggemaskan, penampilan Nada membuat Radit tersenyum tipis.
"Sudah sholat belum?" tanya Nada. Radit menggeleng pelan.
"Belum," sahut Radit sambil tersenyum tipis.
"Mau sholat tidak? Cepetan berwudhu."ucap Nada. Radit menyeringai tipis,mengusap pelan puncak kepala Nada kemudian melangkah pergi.
tiga puluh menit kemudian Nada dan Radit sudah menyelesaikan sholat isya dan dua roka'at sholat sunah. Nada menghadap ke belakang dan mengulurkan tangannya kepada Nada. Nada mencium tangan Radit. Radit mengecup pelan puncak kepala istrinya. Nada tersenyum kemudian menatap ke arah Radit.
"Aku minta minta maaf, Yang. Atas segala salahku. Aku harap kita membuka lembaran baru." ucap Nada. Radit menggenggam tangan Nada dan menatap Nada dengan tenang.
__ADS_1
"Hemmm,aku juga menginginkan hal yang sama. Aku sangat mencintaimu, aku tambah bahagia lagi jika anak kita segera lahir dengan sehat," ucap Radit kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Nada. Nada memandang Radit dan mengusap pelan kepala Radit.
"Amin, aku juga berharap seperti itu. Baru Empat bulan jalan. Semoga Allah mengabulkan doa kita," Radit tersenyum singkat dan membawa wajah Nada mendekat ke wajahnya.
"Allah akan mengabulkannya jika kita juga berusaha untuk sehat juga. Siapkan tenaga untuk olah raga malam ini. Semoga Allah memberikan berkahnya." ucap Radit pelan dan mampu membuat wajah Nada merona merah.
Nada hanya diam membisu dengan kedua mata memandang wajah Radit. Nada ingin menjawab sesuatu tetapi lidahnya seakan kelu.
Radit kembali duduk, sedangkan Nada melipat mekena dan meletakkan di tempatnya. Radit memegang dagu Nada dan Mengusapnya dengan lembut. Radit melirik bibir Nada sekilas sebelum kembali menatap mata Nada lagi.
"Kenapa Dear?" tanya Nada.
Radit meraih dagu Nada dan menyambar bibir mungil yang membuat dirinya panas dingin itu. Mendaratkan kecupan manis yang membuatnya seakan terbang melayang. Nada dengan tenang membalas ciuman Radit yang semakin dalam dan semakin menuntut itu.
Menerima balasan ciuman dari Nada membuat sesuatu dibawah sana merespon dengan cepat. Radit memejamkan matanya karena menahan desakan tubuh bagian bawahnya yang meronta dan terbangun.
"Apa kamu mengijinkan belut raksasa menjenguk anak kita?" tanya Radit dengan suara beratnya. Nada mengangguk pelan, Radut tersenyum tipis dan kembali menyambar bibir mungil Nada.
Nada meletakkan kedua tangannya di dada Radit, yang dirasakan Radit seperti sengatan listrik. Netranya menatap ke arah Nada, seolah ingin memangsanya saat ini juga.
Keduanya kini memejamkan mata, menikmati kehangatan dan rasa manis yang tercipta, lidah keduanya saling bertautan, bermain lebih dalam dan kemudian Radit berkelana ke bawah, semakin ke bawah memberikan rasa geli yang nikmat sehingga membuat Nada mengeluarkan ******* yang membuat Radit semakin bergairah.
Dengan gerakan cepat Radit menyambar tubuh Nada, mengangkatnya ke atas ranjang. Radit melepas pakainya dengan tenang. Kemudian juga membantu Nada melepaskan pakainnya dan menyisakan kain tipis disana.
Nafas mereka semakin berkejar tak beraturan, terdorong oleh hasrat yang menggebu di dada keduanya. Kini Keduanya larut dalam kehangatan dan keintiman, saling memiliki dan saling mencintai.
Tubuh Nada dan Radit kini bermandikan peluh setelah melakukan adegan panas beberapa ronde.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, Yang. Aku lelah sekali."ucap Nada terdengar manja, setelah mereka mencapai puncak kenikmatan beberapa kali. Nada masih berada di atas, membuat Radit tersenyum tipis dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.
"Okey, untuk malam ini cukup sampai disini.Kita lanjutkan besok lagi."ucap Radit kemudian berbaring disamping Nada. Radit mengusap pelan puncak kepala Nada yang tampak kelelahan, kemudian mencium mesra kening Nada.
"Terimakasih untuk malam ini."ucap Radit.
"Hemm. Tapi lain kali jangan selama ini. Aku capek sekali Yang." sanggah Nada.
"Bukankan kamu suka,hemm?" goda Radit membuat Nada malu kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Radit terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Nada telah tertidur lelap di dalam pelukan Radit. Radit menatap wajah cantik istrinya. Radit begitu bahagia dengan segala takdir yang digariskan untuknya dan Nada. Apapun yang terjadi, Nada ternyata sangat mempercayai dirinya.
"Aku mencintaimu selalu, Nona Nada Aira Azzahwa."
__ADS_1
❤❤❤❤🌹