Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 116


__ADS_3

Di sebuah kantor polisi, seorang wanita cantik dan Dani tengah beradu mulut. Pasalnya wanita itu bilang korban kecelakaan yang di tabraknya menyebrang dengan tiba-tiba. Sedangkan Dani menuntut pertanggungjawaban agar wanita itu di kasuskan.


Tapi, wanita itu menolak dan meminta perdamaian. Dua jam di dalam kantor polisi belum juga menemukan titik temu, membuat pak polisi geleng kepala karna perdebatan sengit antara keduanya.


"Aku tidak salah," bentaknya.


"Lalu kau pikit adikku yang salah?" sentak Dani.


"Lalu siapa lagi? Pak polisi yang salah? Tidak mungkin kan?" sentak wanita itu lagi. Dani membelalakan matanya.


Menatap wanita yang menabrak adik sepupunya membuat dirinya sangat emosi. Micel adik yang sangat disayangi harus terluka karna wanita menyebalkan di depannya.


"Pak polisi, saya adalah korban dari manusia ceroboh yang menyebrang jalan seenaknya. Saya juga mengalami kerugian besar karna mobil saya ringsek. Beruntung nyawa saya masih selamat, jadi tolong bapak bilang pada manusia laknat ini untuk tidak melanjutkan kasus. Kita ambil jalan damai," sentak Emili.


Sebenarnya dirinya sangat takut dan masih syok. Tapi, bagaimana lagi? Dirinya sendiri, Vino dan Willy yang katanya mau menyusul tak juga datang sampai saat ini. Mau tidak mau dia harus menghadapi sendiri manusia menjengkelkan di depannya.


"Apa kau bilang? Manusia laknat?" sentak Dani.


"Lalu apalagi?" bentak Emili.


"Stop, Tuan Dani dan Nona Emyli. Kalian sepertinya sama-sama orang berpendidikan dan bukan orang sembarangan, jadi mohon untuk bisa menjaga emosi," ucap Pak Polisi.


Dani dan Emily saling melirik benci, sedang pak polisi tampak mengamati mereka bergantian.

__ADS_1


"Nona Emyli dan Tuan Dani, mohon maaf, sepertinya jalan damai adalah yang terbaik. Nona Emyli benar, dia juga korban. Adiknya Tuan Dani juga korban, tidak ada yang mau hal seperti ini terjadi, jadi alangkah baiknya kalian saling berdamai. Mungkin untuk biaya kerusakan, bahkan perawatan rumahsakit bisa dibicarakan baik-baik," ucap Pak polisi yang papan namanya bertuliskan Rico itu.


"Tapi, Pak," bantah Dani.


"Maaf, sepertinya itu adalah yang terbaik. Untuk masalah mbak Emyli kita bisa lanjutkan besok lagi. Untuk sementara waktu Nona Emily dan Tuan Dani bisa pulang terlebih dulu," ucap Pak polisi mempersilahkan.


Dani dan Emili segera keluar dari ruangan itu, keduanya saling menatap benci.


"Mungkin disini kau menang, tapi jangan harap kau bisa tenang di luaran sana," ucap Dani.


"Apa yang kau mau? Biaya rumahsakit? Aku akan membiayai semua," ucap Emily.


"Kami tidak butuh uangmu," sentak Dani sambil melangkah maju mendekat ke arah Emili. Emili yang ketakutan mundur dan terus mundur, sampai dia mentok di dinding.


Sepi? Di luar kantor sangat sepi, tak ada satupun manusia yang lewat. Dani tersenyum sinis dan mengarahkan jari telunjuknya di pipi Emily. Mendongakkan wajah Emyli sehingga dia dapat melihat dengan jelas wanita di depannya.


Keduanya saling menatap, entah perasaan apa yang menyelinap masuk. Namun, jantung keduanya tampak berdetak dengan kencang.


Emely mendorong tubuh Dani dan mampu membuat Dani mundur beberapa langkah.


"Jangan kurang ajar, aku memang menabrak, tapi aku tidak salah. Dan kau tidak patut memperlakukan aku seperti ini, aku akan membiayai semua perawatan adikmu." ucapnya kemudian melangkah pergi.


Namun, Dani menarik lengan Emyli. Mungkin terlalu kasar sehingga Emyli terhuyung dan hampir terjatuh, tubuhnya yang lemas karena sejak tadi belum makan adalah alasan tepat dia hampir terjatuh.

__ADS_1


Seakan mengetahui wanita itu lemas, Dani segera menahan dan meraih pinggang wanita cantik itu. Keduanya merapat dan sangat dekat. Mereka kembali saling menatap.


Beberapa detik kemudian, Dani membantu Emili berdiri, Dani menatap lekat wajah itu dan mengamati setiap inci dari wajah wanita itu.


"Kau pikir aku mau apa? Tidak sudi aku menggoda penjahat sepertimu. Yang ada, aku akan mengingat wajah penjahat sepertimu, aku tunggu kedatanganmu beriktikat baik meminta maaf atas kesalahanmu besok siang," ucap Dani kemudian melangkah pergi. Emili memejamkan matanya dan mengusap wajahnya. Netraanya memandang ke arah laju mobil lelaki menyebalkan itu.


"****," umpatnya sambil mengusap pelan wajahnya.


Tak lama dari itu, berhentilah sebuah mobil mewah di depannya. Vino keluar dari mobil dan menghampiri adiknya yang berdiri di depan kantor polisi.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Vino sambil meraih Emyli dalam dekap hangatnya.


"Aku baik-baik saja, kenapa kakak baru sampai?" tanya Emily sambil mengusap air matanya. Air mata yang sejak tadi di tahan di depan manusia laknat yang menyebalkan itu.


"Maaf, kakak dan Wili tadi masih menyelesaikan beberapa hal. Berkas yang kamu bawa tadi sudah kakak ganti yang baru, jadi besok bisa berjalan seperti rencana." ucap Vino. Emili mengangguk.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Vino sambil melepas pelukannya dan menatap ke arah Emily.


"Aku baik, semua bisa diselesaikan dengan jalan damai. Tapi aku harus minta maaf pada keluarga mereka, dan untuk mobil aku minta tolong kakak mengurusnya," ucap Emyli.


"Hem, biar Willy yang mengurus semua besok," ucap Vino.


"Okey, lebih baik kita pulang sekarang, kamu butuh istirahat," ucap Vino lagi dan diangguki oleh Emyli. Keduanya berjalan ke arah mobil dan melaju meninggalkan kantor polisi.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2