
Micel mengikuti langkah Vino yang kini terus saja menarik tangannya. Entah seberapa jauh jarak yang mereka tempuh. Mereka terus melewati jalan setapak yang begitu sempit dan menemukan tempat yang dirasa sudah aman.
Vino dan Micel bersandar di bawah pohon yang besar, duduk diatas rerumputan.
"Istirahatlah, pasti kamu lelah," ucap Vino sambil melepaskan genggaman tangan Micela.
Micel menghela napas panjang dan menatap ke arah Vino yang tampak menatap ke atas sana.
"Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka selalu menggangguku? Apa Kakak mengenal mereka?" tanya Micel pada Vino yang kini tampak tenang. Vino terdiam, akan tetapi pikirannya melayang.
Siapa mereka? Vino menghela napas panjang. Mereka adalah geng Cobra, teman lama yang bergelut dalam dunia hitam. Saat ini mereka dikendalikan Asila untuk mengintai Micel. Geng Aster? Mereka selalu ingin menggagalkan misi dari geng Cobra. Lalu, bagaimana bisa mereka datang? Bagaimana bisa mereka muncul. Padahal selama ini tak ada kabarnya. Apa ada orang terdekat yang masuk dalam anggotanya? Vino menatap ke arah Micel. Benarkah Micel juga anggota mereka sehingga dilindungi? Tentang itu, Vino tak mengetahui jawabannya.
Tiba tiba saja, segerombolan orang dari geng Cobra sudah ada di sekeliling Vino dan Micel. Akan tetapi, Vino dan Micel yang masih berada dalam pikiran masing masing tak menyadari kedatangan orang orang itu.
"Sepertinya kalian merasa nyaman sekali disini, Tuan Alvino dan Nona Micela," ucap seseorang yang telah berdiri di depan Micela dan Vino sambil memutar mutar pistol di jari telunjuknya.
"Siapa kalian? Apa mau kalian?" sentak Micel sambil berdiri kemudian menatap tajam ke arah orang di depannya. Matanya menatap dengan waspada ke arah orang orang itu.
Vino langsung berdiri dan maju satu langkah, melindungi Micela sambil memegang pistol yang siap untuk menyerang.
"Siapa kami? Tanyakan pada orang di depanmu, sepertinya dia lebih tau siapa kami," ucap salah satu anggota geng Cobra sambil melirik ke arah Vino yang kini tampak mengeratkan rahangnya.
Micel menatap Vino dengan penuh tanya. Apa maksud mereka?
"Kakak mengenal mereka?" tanya Micel. Vino menggelengkan kepalanya. Baginya saat ini, dia tak ada urusan dengan geng itu. Yang terpenting baginya adalah keselamatan Micela.
Dor
Kembali terdengar suara tembakan, beberapa orang tampak tumbang. Terlihat Willy dan Rendi sudah ada di depan Vino dan Micel, menatap tajam ke arah manusia yang tadi mencoba menghasut pikiran Micel.
"Apa kalian baik baik saja?" tanya Rendi dan Willy bersamaan.
Vino dan Micel mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Rendi dan Willy.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Rendi. Kedua belah pihak saling menatap waspada. Mereka masih terdiam di tempat masing masing.
"Apa yang kalian inginkan? Jangan membuat masalah yang nantinya akan membuat kalian menyesal telah hidup di dunia ini," ucap Rendi sambil mengamati gerak gerik orang yang menggunakan baju berwarna hitam berlambang cobra itu.
Orang itu tersenyum dan menatap Rendi dengan tatapan yang tajam.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, urusanku hanya dengan wanita itu. Serahkan dia padaku maka kalian akan baik baik saja," ucap orang itu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah Micela.
Vino dan Micel saling memandang. Micel tampak pias, Tangan Vino kembali terulur untuk menggenggam tangan Micela. Tangan Micel terasa dingin. Vino tau, Micel menahan rasa sakit yang timbul di kepalanya.
__ADS_1
"Kau, berani sekali berucap seperti itu. Wanita itu adalah kakakku. Langkahi dulu mayatku bila ingin mendapatkannya,!" sentak Rendi. Tanpa aba aba Rendi melesatkan satu tembakan.
Dor,
Suara tembakan mulai terdengar, baku hantam, baku tembak telah kembali terjadi. Willy mendekat ke arah Vino dan Micel mencoba untuk melindungi. Sedangkan Vino sendiri juga menyerang sambil melindungi Micela yang berada di belakangnya.
Tak lama dari itu, beberapa orang dari geng kobra lainya mulai berdatangan dan membantu menyerang. Rendi dan Willy tampak kualahan. Akan tetapi, Geng Aster kembali datang dan menyerang. Vino dan Micel kembali berlari. Pimpinan geng Aster melirik ke arah sepasang suami-istri itu. Ada rasa sesak yang menyeruak di dadanya. Diapun kembali menyerang lawan tanpa ampun.
Pertarungan sengit terjadi di arena hutan yang gelap itu. Beberapa anggota geng Cobra ambruk. Sedangkan Willy dan juga Rendi telah berlari mengejar langkah Vino dan Micel. Mereka berjaga dan berharap Tuan Muda dan Nona Muda mereka baik baik saja.
Kini hanya ada beberapa orang dari geng Aster yang masih ada di sana dengan kemenangannya. Enzi dan beberapa orang lagi berlari entah kemana.
"Ketua, sebaiknya kita menyusul mereka. Bukankah Micela dalam bahaya? Alvino orang yang berbahaya. Kita tidak bisa membiarkan Micela berada di tangan orang itu," ucap salah satu dari mereka.
Ketua? Ketua mereka adalah Nicho, orang yang sedari tadi menghawatirkan keadaan Micela Adelia Dika. Nicho tampak berdiam. Apa yang harus dilakukan?
"Ketua, Maaf. Kami harus bergerak untuk menyelamatkan Micela," ucap mereka. Nicho mengepalkan tangannya. Apa yang harus dia lakukan? Nicho segera mengarahkan jalannya mengikuti arah anak buahnya.
Vino dan Micel tampak ngos ngosan. Mereka berhenti di sebuah lahan yang kosong dan gelap hanya sinar bulan yang saat ini meneranginya. Vino menatap ke arah Micel yang tampak panik. Micel menatap ke arah suaminya.
"Kak, siapa mereka? Kenapa mereka mengincarku?" tanya Micel pada Vino. Vino mengusap pipi Micel dengan lembut. Menatap Micel dengan teduh.
"Jangan berpikir apapun gadis, kau aman bersamaku. Walau bagaimana mereka mengejarmu, aku akan berusaha menjagamu, walau pada akhirnya nyawa yang menjadi taruhannya," ucap Vino dengan tenang.
Deg
Perasaan aman dan nyaman bercampur di dalam hati Micel. Micel masih saja memejamkan mata indahnya, merasakan kehangatan yang diberikan oleh Vino. Micel mencoba untuk menenangkan hatinya, tidak mau saja bila nantinya dia akan merasakan luka yang sudah berulang kali terjadi pada dirinya.
Aku bahagia dalam pelukanmu Kak, tolong jangan lepaskan. Tetap berdiri disampingku walau apapun keadaannya. batin Micel.
Tak lama dari itu, segerombolan orang telah sampai di dekat Vino dan Micel lagi. Micel menghela napas panjang, baru saja merasakan nyaman kini harus dalam kekhawatiran lagi. Hidupnya saat ini seperti menantang maut. Vino manarik tangan Micel untuk menghindari akan tetapi Micel menggelengkan kepalanya.
"Kak, aku lelah. Aku mau disini saja kak. Kita lawan bersama mereka," ucap Micel.
"Serang," ucap salah satu dari mereka.
Mereka yang datang adalah geng Aster, Mereka salah paham dengan apa yang mereka lihat Dia pikir Micela dalam bahaya bersama dengan Vino, sehingga kini mereka menyerang Vino.
Enam orang maju bersamaan dan yang mendominasi adalah Nicho. Tak lama kemudian, Nicho mengambil alih perlawanan dan seolah meminta anak buahnya untuk mundur.
Hingga saat ini, Nicho saja yang melawan Vino. Bukan apa apa, Nicho hanya ingin meluapkan emosinya, Vino telah membuat Micel hampir celaka. Dan dia harus memberikan pelajaran pada Sahabatnya itu.
Micel menatap ke arah mereka dengan panik, Pimpinan geng Aster? Dia seperti Mengenalnya, mau membantu Vino? Akan tetapi saat ini langkahnya terhenti oleh cekalan orang disampingnya.
__ADS_1
"Micel, dia lawanmu. Kenapa membantunya? Biarkan ketua menghabisinya," sentak orang itu.
Deg
Jantung Micel merasakan sesak yang bertubi. Kepalanya terasa pusing, terasa berat. Semakin sakit ketika melihat Vino seakan dalam bahaya.
"Lepaskan," teriak Micel. Akan tetapi tak sekali pun orang di sampingnya melepaskan dirinya.
Dor.
Seseorang melesatkan satu peluru di dekat Vino, Hingga tembakan itu seperti sebuah peringatan untuk menyerang ke arah Vino. Vino melesatkan peluru ke sembarangan arah, larut dalam baku tembak yang menegangkan.
Micel hanya bisa mematung melihat pemandangan di hadapannya. Dimana Willy? Dimana Rendi? Dimana mereka? Batin Micel menagis.
Micel menggerakkan sikunya, sehingga orang di sampingnya terhuyung mundur. Pistol yang dibawa orang itu terjatuh. Micel menangkap pistol itu.
Micel tersenyum sinis, netranya mengamati beberapa orang yang kini sedang saling adu kekuatan. Micel menatap ke arah gerombolan itu, kemudian menatap pistol itu.
Micel masih terpaku menyaksikan pertempuran. Kepalanya yang tadinya seakan mendapatkan tekanan yang kuat tiba-tiba saja ringan tanpa beban.
Micel menutup mulutnya rapat, air mata mengalir deras dipelupuk matanya.
Bayangan demi bayangan terekam jelas dimomorinya, Micel memandang ke arah seorang yang tengah menyerang dengan simbol geng Aster. Pandangannya juga menatap ke arah Vino.
Micel menggelengkan kepalanya. Rasa sesak menyeruak di dadanya, airmata tak mau berhenti mengalir.
"Kak Vino? Kak Nicho?"
Perlahan ingatannya kembali, Vino? Lelaki yang dia kagumi adalah suaminya? Senyuman terlukis di bibirnya, akan tetapi dirinya mengingat torehan luka yang diberikan oleh Vino.
Nicho? Nicho adalah sosok yang selalu ada dalam setiap dukanya. Dulu, bahkan hingga saat ini.
Micel merasakan sesak yang begitu dalam. Air mata terus berjatuhan. Sambil memandang dua manusia yang sama-sama berarti baginya, yang saat ini saling mengeluarkan emosi dengan ototnya.
"Hentikan....!"
Dor Dor
Peluru mulai meluncur dari senjata api yang dibawa oleh Micel, Micel mengarahkan tembakan ke arah Vino dan Nicho. Tatapan mata tajamnya seakan mengintimidasi orang orang-orang itu.
Mereka mendadak berhenti melakukan aktivitas. Tembakan itu seperti aba aba untuk menghentikan aktivitasnya. Vino yang tampak kelelahan memandang ke arah Micel yang kini seperti seorang pembunuh. Nicho juga menatap ke arah Micel dengan tatapan yang dingin.
"Lanjutkan perkelahian kalian sampai menuju ke pintu neraka," ucap Micela kemudian melemparkan pistol entah kemana.
__ADS_1
❤❤❤❤❤