
Gino hanya diam, mau menjawab apa diapun seakan tak bisa. Ada Nada di sana, dia pikir tadi Nada masih memakai tutup matanya. Ternyata tidak seperti yang dia pikirkan.
Gino menarik tangan Zifana dan pergi ke ruangan depan dan meninggalkan Nada. Nada yang merasa aman berjalan ke arah dimana pisau yang di bawa oleh Zifana terjatuh. Hatinya tak karuan, ingin segera lepas dari jeratan tali itu.
Nada mengambil pisau itu dengan tangan yang sedikit bisa di gerakan. Berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tali dari pergelangan tangannya. Kakinya memegang pisau itu dan meletakan tangannya yang bertali di pisau itu.
Beberapa kali meleset karna dia tergesa, membuat sedikit kulitnya tergores dan menimbulkan luka.
"Ah," keluhnya di tengah mulut yang tertutup sebuah lakban hitam.
Darah segar mengucur dari jarinya, Nada meringis kesakitan. Netranya mengamati pintu dan berusaha secepat mungkin untuk bisa lepas dari jeratan tali itu.
Beberapa menit berlalu, Nada berhasil lepas dari jeratan tali yang yang menyakiti tangannya. Rasa lega menghampirinya. Nada melepas lakban yang membelenggu mulutnya, mengusap peluh yang mengucur dari dahinya.
Takut dua manusia itu kembali, pada akhirnya Nada mendekat ke arah pintu, dengan hati hati Nada mengunci pintu dengan kunci yang berada di sana.
Ceklik,
Pintu berhasil di kunci dari dalam, membuat Nada merasa lega. Diraihnya ponsel yang berada di saku gamisnya.
Dengan tergesa Nada menghubungi nama Radit disana. Tak ada jawaban, hingga Nada mengirimkan pesan pada suami yang saat ini dia rindukan.
Yang, tolong aku. Aku berada di gudang, entah dilokas mana. Yang jelas aku takut. Tolong aku.
Beberapa kali Nada membuat pesan, menyilen ponselnya kemudian membuat pesan siaran di ponselnya.
Siapapun yang membaca, tolong aku. Aku ada di sebuah gudang yang berada entah dimana.
Nada memejamkan matanya, merasakan gejolak yang kini menyiksa perutnya. Rasanya mual sekali, air mata menetes dia panik. Panik sekali, apa yang harus dia lakukan?
Nada memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan dirinya. Gino dan Zifana? Rasanya dia tidak bisa tenang ketika masih ada dalam sandraan mereka.
Zifana? Kenapa wanita itu? Kenapa tiba-tiba saja seolah tak mau menyakitinya? Entah lah, Nada mondar mandir sambil mencari cara agar bisa keluar dari gudang ini. Bagaimana caranya? Di tengah detakan jantung yang tak beraturan, Nada melihat sebuah pintu yang berada di ujung ruangan.
Nada mengambil beberapa kunci yang menggantung di pintu dan mencoba membuka pintu keluar itu. Karna sedikit terburu, beberapa kali kunci itu terjatuh, membuat Nada berulang kali mengucap istigfar.
Nada memejamkan matanya, mencoba tetap tenang dengan keadaan yang ada.
__ADS_1
Nada menghela napas panjang, menghela napas panjang dan berulang kali mencoba untuk tetap tenang.
"Bismilah," lirihnya. Dan pada akhirnya Nada bisa menemukan satu kunci yang bisa digunakan untuk membuka pintu yang di tujunya itu.
❤❤❤❤
"Jelaskan padaku, apa kakak mencoba menghasutku?" tanya Zifana. Gino memejamkan matanya, netranya menata Zifana dengan marah. Apa apaan adiknya ini?
"Apa maksudmu?" sentaknya.
"Kak, karna semua yang kakak ucapkan membuat aku menggebu. Kakak tau, bagaimana aku menolak Marvel saat itu. Lalu, apa karna ingin merebut Nada kakak mencoba untuk menghasutku?" tanya Zifana menggebu.
Gino terdiam, bahkan dia tau Zifana memang tadinya menolak. Dia yang saat itu mengetahui Zifana tampak terpesona dengan Marvel menjadikan kesempatan itu untuk manjangkau Marvel menjadi bagian dari keluarganya kembali. Memanfaatkan perasaan Zifana agar adiknya itu bisa sepemikiran dengan papa dan dirinya.
Seperti sebuah kebetulan yang menguntungkan saat tau bahwa istri Marvel ternyata adalah Nada, orang yang menjadi obsesinya. Keinginan untuk mempersatukan Zifana dan Marvel semakin menggebu. Dan keinginan memliliki Nada semakin menjadi, membuat dirinya seolah lebih gencar memainkan hati Zifana.
Zifana, adiknya itu memang jutek, judes dan sangat ketus. Zifana juga tampak sombong sekali, akan tetapi wanita cantik itu sebernya memiliki hati yang lembut. Meskipun manja dan sangat dekat dengan kakak dan papanya, tapi pemikirannya tak pernah sejalan dengan kedua orang itu.
"Zifa, bisakah kau diam? Bukankah kau memang mencintai Marvel?" sentaknya.
Zifana menghela napas panjang, mencintai Marvel? Benar cintakah? Bahkan dia tak tau apa yang ada di benaknya.
"Berjaga dengan ketat, targer sandraan sepertinya mencoba kabur," ucap Gino sinis kemudian menutup ponselnya dan menatap Zifana dengan sorot mata tajamnya.
"Jangan banyak bicara Nona Zifana, aku yakin kau tau pasti apa yang aku mau. Kau, seharusnya kau mendukungku. Bukan menghancurkan segala impian manis yang telah aku bangun," sentaknya kemudian melangkah menuju ke arah pintu di ruangan Nada berada.
Beberapa kali Gino mencoba untuk membuka, dan hasil tetap sama, pintu itu tak dapat di buka. Gino mengepalkan tangannya erat.
"Nada, jangan mencoba bermain-main denganku," ucapnya dengan emosi yang menggebu.
Zifana menghela napas panjang, apa yang harus dia lakukan saat ini? Zifana melihat dengan jelas Gino berlari ke belakang, dan disana adalah lorong yang bisa menghubungkan dengan jalan yang Nada lalui jika Nada berhasil keluar dari kamar tempat dimana dirinya di sekap.
🎀🎀🎀🎀
Vino kini berada dalam mobil yang ditumpangi Radit. Beberapa kali Radit mengumpat dan mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan, membuat Vino dan Delon tampak khawatir.
"Marvel, jangan membahayakan nyawamu," bentak Vino dengan suara yang sedikit meninggi. Berulang kali dia mengingatkan dan tak di dengar oleh Radit.
__ADS_1
"Bahkan nyawaku tidak berguna, jika Istriku sampai celaka. Kau diamlah Vino, tak ada artinya semua ocehanmu yang tak bermutu itu," bentak Radit. Vino diam.
Saat ini bukan saat yang tepat untuk menasehati sahabatnya itu, dia merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Radit saat ini. Khawatir pada Nada, jika dirinya saja khawatir, lalu bagaimana dengan Radit yang amat sangat mencintainya?
"Ini Salahku, kenapa aku menjadi bodoh seperti ini. Kenapa aku meninggalkannya, arghhh..." kesalnya.
"Shittt...!" umpatnya lagi ketika lampu merah menyala.
"Marvel, tenangkan dirimu!" bentak Vino. Vino mengambil alih kemudi, dia tidak mau gegabah dan kehilangan nyawa secara sia-sia.
🎀🎀🎀🎀🎀
"Aduh," Nada memekik saat jari tangannya yang berdarah kini semakin terasa nyeri. Nada terkejut, air matanya hampir lolos begitu saja saat melihat beberapa orang berjaga di depan sana. Mencoba untuk kembali bersembunyi, akan tetapi dirinya terlanjur ketahuan dari salah satu penjaga itu.
"Wahhh ada bidadari cantik," ucap salah satu dari penjaga sambil menatap Nada dari unjung kepala sampai ujung kaki.
Nada terdiam, namun orang itu menarik tangan Nada.
"Lepaskan, jangan kurang ajar!" sentaknya penuh dengan emosi.
"Kembali ke tempatmu, atau aku yang akan memaksamu Nona cantik?" tanya orang itu.
"Jangan harap aku menuruti kemauanmu," ucap Nada tampak tenang, meskipun sebenarnya sangat ketakutan.
"Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Biarkan aku pergi," ucap Nada
"Ha...ha...ha"
Terdengar tawa mereka menggelegar, Nada berjalan mundur dan menjauh dari orang yang terus saja maju. Nada mencoba terus saja menghindar dan mencoba memberikan penawaran agar orang itu tak menyakitinya.
"Aku mohon jangan sakiti aku, tolong bebaskan aku, aku akan memberikan konpensasi yang sama besar nantinya," ucap Nada dengan hati-hati.
Namun naas, kini dirinya sudah mentok di dinding dan tak lagi bisa menghindar dari penjaga yang pastinya mencoba menangkapnya dan menyerahkan kembali pada bosnya.
Namun, melihat kecantikan Nada, penjaga itu terus mendekat. Menatap ke arah Nada dan seakan terpesona, telunjuknya membelai pipi mulus Nada. Nada menepis tangan itu dengan kasar. Dengan gerakan cepat, orang itu mengunci tubuh Nada di dinding.
"Aku akan mengabulkan apa yang kamu mau, asal kau bersenang-senang dulu denganku," ucap orang itu sambil memegang tengkuk Nada, mengunci kedua tangan Nada sehingga Nada tak bisa bergerak.
__ADS_1
"Yang tolong aku," lirihnya. Netranya menatap ke arah manusia jahat yang mungkin usianya tak jauh beda dengan suaminya itu.
🎀🎀🎀🎀