
"Peluklah Micel sebentar saja," ucap Nada. Radit memejamkan matanya kemudian melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan jam 12.30 tak terasa waktu begitu singkat bergulir dan memberikan kesan yang sangat indah untuk hari ini.
"Sebaiknya kita kembali, sudah siang," ucap Radit seakan mengabaikan ucapan Nada. Tidak memaksa dan tidak juga menuntut, Nada menganggukkan kepalanya. Seiring berjalannya waktu, pasti suaminya bisa menerima Micel tanpa adanya pemaksaan.
Sepasang suami istri itu mendekat ke arah Micel dan Dani yang masih saja cekcok. Memang mereka sangat dekat, Dani sudah menganggap Micel seperti adik kandungnya sendiri.
"Kita cari makan siang, waktuku sudah habis meladeni dua wanita ini," ucap Radit pada Dani yang kemudian menatap bosnya dengan tenang.
"Oke, berangkat," sahut Dani.
Nada membelalakkan matanya, menghela napas panjang. Apa tidak bisa berkata lebih halus? Mengajak makan adalah tanda perhatian. Lalu, kenapa selalu saja bahasanya menyebalkan. Selalu menyiratkan keketusan di dalam perhatian. Nada merasa suaminya benar-benar bisa berubah dalam sekejap. Selalu menjadi kucing saat bersama dirinya dan selalu menjadi singa saat diluaran sana.
"Micel, tak tau saja kalau kakakmu itu sebenarnya selalu menyayangimu dalam keketusannya." batin? Nada menggerutu.
Mereka ber empat segera berjalan ke arah Mobil, mereka mencari sebuah restauran di dekat pantai itu. Banyak menu yang di sajikan, mereka menikmati makan dengan tenang, hanya Nada yang tampak kesusahan karna cadarnya.
Di sana, di pojok ruangan, seseorang mengambil gambar Nada yang tak jelas wajahnya. Meski begitu dia mereka harus melakukan untuk laporan pada atasannya. Dan dan Radit, mereka tau pergerakan orang di sana, mereka mencoba tenang dan waspada.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi ponsel Dani berbunyi, segera Dani mengangkat ponselnya.
"Selamat siang Tuan Willy," sapanya pada asisten pribadi Vino Pradikta itu.
"Siang Tuan Dani, saya ingin memberitahukan bahwa besok ada meeting untuk pembahasan proyek baru kita bersama dengan beberapa orang lainya. Mohon diagendakan kedatangannya bersama dengan Tuan Marvel di acara akbar tersebut, surat undangan sudah kami email kan, tapi Nih bos meminta saya untuk langsung menghubungi anda," ucapnya.
"Okey, terimakasih Tuan Willy. Sampai bertemu besok," ucap Dani kemudian menutup ponselnya.
"Ada apa?" tanya Radit.
"Meeting tentang proyek pembangunan mol yang ada di pusat kota, besok pertemuannya." ucapnya.
"Okey." jawab Radit.
"Segera habiskan dan kita segera pulang," ucap Radit.
"Kak, kalau aku nanti berhenti di toko buku apa boleh?" tanya Micel pada Radit dengan gugup.
Tak ada jawaban dari Radit. Nada dan Dani saling memandang, beeharap lelaki itu mau untuk menjawab pertanyaan Micel.
"Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa, aku ikut pulang saja," ucap Micel lagi. Radit masih diam sambil menyeruput teh hangat. Nada menatap ke arah Micel yang tampak terdiam kemudian menatap ke arah suaminya. Hampir saja Nada meminta suaminya menjawab. Tetapi, tanpa diminta pun Radit mau memjawab pertanyaan adiknya.
"Berhenti saja, gunakan ini untuk keperluanmu," ucap Radit sambil meletakan sebuah kartu diatas meja.
__ADS_1
Nada dan Dani tampak terkejut, apalagi Micel yang hanya memandang kartu tanpa batas itu.
"Tapi aku ada tabungan Kak," ucapnya.
"Terima atau tidak boleh pergi sama sekali?" ucap Radit ketus. Nada memejamkan matanya, iyakan pemaksa. pikir Nada. Selalu ingin yang terbaik untuk orang lain, dengan cara yang sangat menyebalkan.
Micel meraih kartu itu dan tersenyum canggung ke arah kakaknya.
"Terimakasih kak," ucapnya. Micel memejamkan matanya. Beberapa hari ini adalah kemajuan yang pesat diantara hubungannya dengan kakaknya itu. Sangat istimewa, dan semua karena Nada.
"Dani, kita pulang sekarang juga," ucapnya tanpa mau menyahut ucapan Micel. Ke empat orang itu kemudian pergi meninggalkan restauran.
🎀🎀🎀🎀🎀
Di sudut ruangan seseorang sedang memberi laporan pada atasannya.
"Mereka telah pergi bos, tapi aku belum bisa mendapat foto jelas dari wanita itu," ucapnya. Wanita di sebrang tampak mendengus kasar.
"Awasi dia, dan kau harus segera bertindak, aku tidak mau tau. Hari ini juga kau harus mendapatkan informasi tentang wanita itu," ucap atasannya.
"Baik Nona," ucap orang itu sambil menutup ponselnya.
Bahkan, Baru 3 hari saja pendapatannya berkurang 50 persen, lalu apa yang harus dia lakukan? Zifana memijit pelipisnya.
Hidupnya seakan banyak ancaman kegagalan karna wanita-wanita misterius itu. Siapa ouner sheyna bontique? Siapa juga wanita bayaran Marvel? Aish, semua mengganggu pikirannya.
Demi mendapatkan informasi tentang istri Radit, dirinya mengerahkan orangnya, namun sayang sekali, tidak semudah itu untuk mendapatkan informasi. Mira? Bahkan untuk sekadar bernapas saja wanita itu dalam pengawasan, lalu bagaimana bisa membantu? Mira tidak bisa membantu apapun.
"Kau kenapa?" tanya suara orang yang baru saja datang itu.
"Kakak," sahutnya.
"Apa yang kau pikirkan? Tenanglah, rilex. Besok kita ke Pradikta Groub. Persiapkan dirimu, disana kita akan bertemu banyak klien penting untuk membahas proyek besar, persiapkan dirimu untuk itu." ucap Gino. Zifana menatap ke arah kakaknya dan tersenyum.
"Proyek baru?" tanya Zifana dan diangguki oleh Gino.
"Okey, aku akan sedikit bisa melupakan soal butik," ucapmya.
"Kau tenang saja, kakak akan membantumu," ucap Gino.
Zifana tersenyum dan berhambur ke pelukan kakaknya.
__ADS_1
"Terimakasih kakak," ucapnya.
"Kakak dari mana?" tanya Zifana.
"Aku baru saja dari Bar," jawab Gino tenang.
"Apa kakak main lagi?" tanya Zifana lagi.
"No, aku mencari wanita 1 M itu, sudah beberapa minggu dan aku tidak menemukannya. Aku tertarik padanya, aku menyesal waktu itu menyerahkannya pada orang lain," ucapnya sambil mengusap pelan pundak adiknya.
"Kakak menyukainya?" tanya Zifana.
"Kakak penasaran, lama sekali kakak tidak merasakan jantung berdebar hebat seperti ini saat memikirkan orang lain," jawabnya.
"Semoga lekas ketemu," ucap Zifana.
🎀🎀🎀🎀🎀
Dani menepikan mobilnya di sebuah toko buku di sebelah Danau yang indag. Micel segera turun dan menatap kenarah Nada dan Radit.
"Aku pergi dulu kak, assalamualaikum," ucapnya kemudian melangkah pergi saat salam darinya di jawab Nada.
"Hati -hati Micel sayang," teriak Nada. Dani kembali melajukan mobilnya.
"Jangan panggil sayang," sahut Radit.
"Kenapa?" tanya Nada agak sewot.
"Panggilan itu khusus hanya untukku," ucap Radit.
uhuk uhuk...
Sebelum menjawab, Nada dan Radit menatap ke depan. Khawatir saja pada Dani yang tampak tersedak udara karna terkejut dengan ucapan Radit.
"Kau baik-baik saja?" tanya Radit.
"Aku tidak papa, Bos,"
"Syukurlah jika begitu, aku harap kau masih panjang umur," ketus Radit. Dani membelalakkan matanya. Nada tertawa pelan.
🎀🎀🎀
__ADS_1