Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Mimpi


__ADS_3

Sampailah mereka di depan kamar utama milik Tuan Muda Vino. Terlihat kamar itu sedikit terbuka dan artinya tidak di kunci oleh pemiliknya. Mbak Arina tersenyum dan menatap ke arah Micel dengan hormat.


"Nona Muda, sepertinya tidak di kunci. Nona muda bisa langsung masuk saja," ucap pelayan itu sambil tersenyum. Micel mengangguk dan meraih ekor bajunya yang kini ada di tangan Mbak Arina.


Micel membuka hendel pintu dan mendorong pintu dengan pelan, dilihatnya kamar luas yang luasnya dua kali lipat ruang kamarnya. Tampak juga sofa di dekat jendela dan TV di atas meja.


Micel memejamkan matanya, bagaimana dia ganti baju? Bahkan satu stel pun dia lupa tak membawa. Micel menatap ke arah Mbak Arina dengan bingung.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Mbak Arina. Mbak Arina adalah asisten yang ditugaskan Vino untuk membantu mempersiapkan segala keperluan Micel. Di pastikan dia tau segala sesuatu yang ada di ruangan Ini.


"Saya tidak membawa baju ganti, apa Mbak Arina bisa membelikan saya keluar?" tanya Micel.


Ibu satu anak itu tersenyum dan memandang ke arah Nona mudanya.


"Tuan Muda sudah menyiapkan baju untuk Nona muda, di sana, akan tetapi bila mungkin Nona muda tidak suka bisa bilang sama saya. Saya akan membelikan yang baru untuk Nona muda," ucap Mbak Arina.


Micel menoleh ke arah walk in closed yang berada di ujung ruangan. Segera dia membuka lemari itu, matanya membelalak kaget saat melihat banyak baju seukurannya memenuhi lemari itu.


"Bagaimana Nona?" tanya Mbak Arina dengan tenang.


"Terimakasih Mbak, ini sudah lebih dari cukup. Mbak bisa ke bawah lagi," ucapnya sambil tersenyum.


"Baik Nona, saya permisi dulu," ucap Mbak Arina pada Micel.


Micel mengikuti Mbak Arina ke pintu kemudian menutup pintu kamar itu. Diambilnya satu stel baju tidur berwarna merah muda bergambar kartun itu.

__ADS_1


Micel berjalan menuju ke kamar mandi, dilihatnya bak mandi yang terisi air jernih dan menggoda dirinya untuk segera mandi. Segera Micel melepas kebaya, dan membersihkan tubuhnya.


Micel berendam di sana sehingga menyegarkan dirinya. Setengah jam berlalu, Micel mengakhiri berendam dan segera memakai baju yang sudah dia siapkan.


Micel keluar dari kamar mandi, tak ada tanda tanda keberadaan seseorang disana sampai saat ini. Micel melirik ke ranjang berukuran besar itu. Matanya terasa mengantuk sekali. Micel membaringkan tubuhnya dan miring ke kanan. Sempat membaca doa dan dirinya memejamkankan matanya dan mengarungi samudra mimpi.


"Amankan anak itu," teriak orang berpawakan tinggi besar yang berada di hadapan Micel, telunjuknya mengarahkan pada seorang anak kecil yang berteriak minta tolong.


Micel juga melihat anak kecil yang lain, dengan mulut yang disumpal dan tangannya di tali. Anak kecil itu hanya tampak mengeluarkan air mata. Dua orang membawa dua anak itu pergi dan berlari entah kemana.


Micel tampak panik. Dengan gerakan cepat Micel mengikuti orang yang yang tadi sempat meneriaki nya pergi mengejar lelaki yang membawa anak itu.


"Kak, kau kesana," teriak Micel pada lelaki itu. Lelaki itu mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya.


Micel berlari memberikan tendangan di punggung orang itu, membuat orang itu terhuyung ke depan dan memutar langkahnya menghadap ke arah Micel. Orang itu memberikan perlawanan pada Micel. Terjadi perkelahian sengit antara Micel dan Lelaki itu.


"Kakak, awas!!!" Teriak Micel dengan keras.


Micel memejamkan matanya, akan tetapi terus saja menggelengkan kepalanya. Vino yang baru saja masuk ke dalam kamar mendekati Micel yang tampak pucat. Vino menepuk-nepuk pelan pipi Micel yang terus mengigo. Ditatapnya wajah cantik yang dipastikan sedang bermimpi itu.


Vino mendekatkan wajahnya ke arah Micel, menatap bibit ranum merah muda yang sangat menggiurkan itu, nalurinya sebagai laki laki seakan bangkit. Terakhir kali dia berciuman adalah bersama dengan Asyla. Berstatus sebagai suami sah membuat Vino tak canggung. Kini Vino mengusap pelan bibir Micel dengan telunjuknya, mendekatkan bibirnya ke arah bibir Micel. Memberikan ciuman hangat mencoba untuk menenangkan istrinya, akan tetapi permainannya tak mendapatkan balasan.


Vino mencoba menjelajah masuk dan merasakan sensasi panas dingin yang membuat dirinya menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman.


Akan tetapi, Micel membuka matanya, di tatap nya wajah seseorang yang kini tengah menciumnya. Micel menyadari apa yang terjadi, dia mendorong tubuh Vino dan duduk. Wajahnya merah merona, dia takut karena mimpi itu, akan tetapi panik karna Vino mencuri ciuman darinya. Micel menatap Vino yang sama sekali tidak merasa canggung.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan?" sentaknya pada Vino yang menatapnya tanpa merasa bersalah itu.


Bukan menjawab pertanyaan Micel, Vino justru meraih gelas yang berada di atas nakas. Diberikan gelas itu pada Micel, Micel hanya menatap gelas itu dengan geram. Vino membantu Micel memegangi gelas itu. Vino juga mengusap dahi Micel yang penuh dengan peluh. Micel menatap ke arah Vino yang menatapnya dengan datar.


"Apa kau mimpi?" tanya Vino.


Micel memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang sedang terjadi.


"Kamu bermimpi, sebaiknya kamu minum dulu. Aku rasa mau protespun percuma, aku tidak melakukan apapun," ucap Vino sambil mengarahkan gelas kecil kepada Micel. Micel membelalakan matanya dan menyentuh bibirnya.


"Apa adegan tadi juga mimpi?" batin Micel.


Micel menatap ke arah Vino penuh dengan berbagai pertanyaan. Micel menggeleng pelan dan berdiri kemudian berjalan ke arah balkon kamar.


Micel yang masih penasaran dengan apa yang terjadi segera mengejar langkah Vino dan mengikuti Vino ke balkon kamar.


"Kak, kamu mencuri ciuman dari ku?" tanya Micel pada Vino yang menatap langit malam sambil memasukkan tangannya di saku celana. Sebenarnya dia sangat malu, hanya saja dia ingin memastikan kebenaran. Kenapa berani sekali?


Vino memutar langkahnya dan menatap ke arah Micel kemudian maju mendekat, membuat Micel mundur beberapa langkah. Vino kembali memajukan langkahnya dan Micel juga kembali memundurkan langkahnya.


"Kak, berhenti. Jangan maju lagi, aku bisa jatuh," protes Micel saat dirinya sudah berada di pinggiran balkon yang pagar pembatasnya terbuka.


Dengan sengaja Vino maju membuat Micel kembali mundur, alhasil Micel benar-benar akan terjatuh. Dengan sigab Vino meraih pinggang Micel, menarik Micel dalam dekapannya. Keduanya saling menatap dan saling beradu pandang.


"Jangan bermimpi terlalu tinggi, kau bisa jatuh dan sakit, Nona Micel. Besok aku akan pergi, tetap di mansion dan jangan pernah pergi tanpa seizinku," ucapnya kemudian melepaskan Micel dan melangkah masuk ke kamar. Micel memejamkan matanya. Vino pergi? Kemana?

__ADS_1


***


__ADS_2