
Suasana bandara pagi ini sangat ramai, lalu lalang orang kesana kemari membelah jalanan. Nada yang tengah berjalan beriringan dengan Radit melirik anak kecil yang berdiri di pojok ruangan, anak kecil yang tengah bahagia bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka saling bercengkrama dan bercanda bersama. Nada mengusap perutnya yang berdenyut. Usia kandungannya sudah memasuki lima bulan. Itu artinya bayinya sudah ditiupka ruh.
"Mama berharap Kamu tumbuh dengan sehat, baik baik di sini dan jangan rewel Sayang. Kita berdoa, semoga papa bisa segera menyelesaikan urusannya dan kita bisa hidup bahagia," ucap Nada sambil mengusap perutnya yang semakin membesar.
Radit yang samar samar mendengar ucapan Nada menggenggam erat tangan wanita cantik yang berada di sampingnya. Sedari tadi Nada diam, banyak masalah yang pastinya sangat mengganggu pikirannya.
Radit tidak mengatakan apapun karna bisa saja memancing emosi ibu hamil di sampingnya itu, yang bisa dia lakukan saat ini adalah bersabar dan membuat Nada nyaman.
Mereka berjalan ke arah pesawat setelah melakukan beberapa prosedur. Perjalanan antara Pulau ini dan Pulau J bisa ditempuh satu jam perjalanan. Itu artinya tak lama dari itu Nada dan Radit akan bertemu dengan orang tua yang dirindukan.
"Dear, kamu tidak papa?" tanya Radit saat mereka telah memasuki pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke pulau J.
Nada menggeleng, akan tetapi sepertinya tubuhnya tidak bisa berbohong karna dirinya merasakan pusing. Radit mengetahui ekspresi lain istrinya, segera Radit mengangkat tubuh Nada ke arah kamar yang berada di dalam ruang pesawat itu. Radit membaringkan Nada dan meminta Nada untuk istirahat.
Radit mengepalkan tangan kanannya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Dirinya bisa membuktikan oada istrinya jika memang dia bukan ayah kandung dari anak yang dikandung oleh Selena. Delon sudah mememberikan informasi terbaru, dan segala hal yang terjadi mengarah pada satu keluarga yang memang sangat licik.
"Sabarlah, Dear. Tolong jangan memikirkan apapun, sehat sehat bersama baby kita," lirih Radit sambil mengusap pelan puncak kepala Nada yang mulai memejamkan mata indahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Vino telah tiba di parkiran Pradikta group, perusahaan yang memproduksi beberapa sepatu dan tas. Vino segera turun dan berjalan menuju ke arah dimana ruangannya berada. Beberapa kkaryawan yang duduk kini berdiri menyambut kedatangan bos yang beberapa hari ini tidak masuk dikarenakan diberitakan menikah.
Banyak karyawan yang kecewa, karna pada akhirnya Vino menambatkan hati pada wanita yang belum sama sekali diketahui wajahnya. Mereka masih penasaran dengan wajah dari istri Vino yang katanya adalah adik dari sahabat baiknya.
Vino melangkahkan kaki menuju ke ruangan, Willy sudah menunggu disana untuk membahas beberapa hal yang penting.
"Willy, kabar apa yang kau bawa untukku?" Vino membuka pintu dan langsung saja bertanya pada asisten pribadinya itu.
"Tuan, beberapa orang yang menyerang Nona Micel waktu itu bukan dari orang lama anda. Hanya saja mereka ada disaat kejadian," ucap Willy.
"Lalu, pergerakan apa yang dilakukan? Apa mereka merencanakan sesuatu?" tanya Vino.
"Mereka menginginkan Tuan membantu mereka kembali, mereka mempunyai banyak misi untuk mendapatkan uang. Sedang, saat ini musuh mereka selalu menjadi perusuh dan menggagalkan aksi mereka sehingga tidak mendapatkan uang," ucap Willy.
"Musuh? Maksudmu beberapa orang yang entah dari mana datangnya itu?"
"Ya, beberapa komplotan yang selalu membela target, dan selalu menggagalkan rencana jahat dari geng Cobra," ucap Willy yang memang sudah tau masalalu Vino. Vino menghela napas panjang.
__ADS_1
Geng Cobra adalah salah satu geng bayaran yang menerima pekerjaan apapun dari kliennya. Membunuh, merampok sekalipun. Namun, disetiap aksi mereka dulu, selalu ada sekelompok orang yang selalu menggagalkan. Salah satu di antara geng yang mengganggu aksinya adalah sekelompok geng yang dipimpin oleh satu lelaki dewasa dan satu perempuan kecil yang menguasai ilmu bela diri dengan mahir.
perempuan? Benar sekali, bahkan gadis kecil itu sangat pandai sekali. Sembilan tahun menghilang dari dunia hitam itu. Mungkin gadis kecil itu tengah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Hais, kenapa jadi memikirkan gadis kecil itu? Mana tau kalau dia sudah tidak berada dalam geng itu.
"Biarkan, keberadaanku terlanjur diketahui mereka. Tugas kita selalu waspada, Micel pasti dalam incaran mereka. Mereka pasti akan melakukan apapun agar bisa menekanku untuk kembali, maka dari itu jaga selalu istriku dan keluargaku," ucap Vino.
"Sepertinya kau sudah membuka hati untuk Micela dan melupakan Asila," ucap Willy saat melihat Vino yang menggebu menjaga wanita itu.
"Aku hanya ingin dia selamat, dia adik dari sahabatku," ucap Vino.
"Kau tak berniat untuk menjadi pendamping hidupnya sampai nanti?" tanya Willy. Vino terdiam.
"Aku belum memikirkannya," ucap Vino.
"Kau bisa melepaskan Micela untukku bila tidak mencintainya," suara itu membuat Willy dan Vino menoleh. Mereka melihat Rendi menyedekapkan tangannya di dada dan mengangkat satu kaki bersandar di dinding.
Vino tersedak udara mendengar pengakuan Asisten pribadinya itu. Bagaimana bisa dia terlalu jujur mengatakan hal itu pada nya.
"kau," Vino mengepalkan tangannya. Rendi adalah orang kepercayaan papanya dan terlihat tampak dekat dengan Micela.
Rendi tersenyum puas, menggoda Kakak angkatnya. Tampak wajah Vino yang memerah menahan emosi. Willy tertawa melihat tingkah bosnya.
Willy menepuk pundak Vino, sedang Vino merespon dengan menepis tangan Asisten serta Sahabat nya itu.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan jatuh cinta padanya," ucap Vino.
"Mulutmu yang mengatakan bisa bohong, tapi hati? tidak mungkin bisa berbohong." ucap Rendi kemudian berlalu pergi, Vino mengacak-acak
rambutnya. Bayangan Micel nenari-nari di pikiranya.
"Sepertinya kau memang harus tegas tentang perasaanmu, kabar lain lagi yang aku bawa untukmu adalah Tentang Asila," ucap Willy dan mampu membuat Vino menatapnya dengan berbagai pertanyaan.
💕💕💕
Jam menunjukkan pukul 11.00 Micel yang baru saja selesai memasak menyiapkan tiga rantang bekal makan. Diapun segera bersiap dan keluar dari dapur. Setelah tiga puluh menit bersiap, pada akhirnya memesan taksi online.
Dia menunggu taksi online yang ia pesan. Sebenarnya bisa saja menyetir sendiri. Akan tetapi dia ingin merasakan naik kendaraan umum.
__ADS_1
Tak lama kemudian taksili pesanannya datang, ia segera masuk dan memberi tahu alamat kantor suaminya pada Sopir taksi. Tak lama kemudian, ia telah sampai di depan Pradikta group. ?Micel berjalan menyusuri lorong dan menanyakan ruang suaminya.
"Maaf, ruangan Tuan Vino di lantai berapa ya mbak?" tanyanya pada resepsionis.
"Apa sudah membuat janji mbak?" tanyanya sambil mengamati Micel yang hanya menggunakan celana jins dan kaos oblong berwarna putih. Rambutnya diikat satu, penampilan Micel jauh dari kata Feminim. Dia membawa rantang makanan di tangannya. Penampilan Micel berbeda sekali dengan Wanita yang dulu pernah ditunjukkan fotonya oleh temannya. Foto seorang wanita cantik yang diduga adalah kekasih dari bosnya.
"Iya, katakan padanya Micela ingin menemui nya," ucap Micel sambil mengusap peluh di dahinya.
Resepsionis itu terkejut mendengar nama istri dari presdirnya itu. Dilihatnya wajah cantik Micel yang tersenyum ramah. Istri presdir kah? Apa benar masih bocah seperti ini? Memang Micel yang tampak kesiangan tidak mau ribet dan pada akhirnya tampil ala kadarnya.
"Maafkan saya nyonya, anda bisa langsung menemui Tuan Vino, ruangan nya ada dilantai tiga puluh lima," ucap resepsionis itu.
"Terimakasih mbak," jawab Micel.
Micel berjalan menuju lif dan menekan tombol tiga puluh lima. Tak lama dari itu dia keluar dari life, diapun berpapasan dengan Vino yang saat itu hendak masuk ke dalam lif.
"Kak," Micel menyapa dengan senyuman indah yang menghiasi wajahnya.
Vino yang saat itu bersama dengan Willy berhenti sejenak. Micel tersenyum kepada Willy asisten pribadinya suaminya itu.
"Kau temani istriku makan siang, aku akan keluar beberapa saat," ucap Vino sambil melangkah ke dalam.
Micel terkejut, ada rasa kecewa yang menyeruak di dadanya.
"Kak, mau kemana? Aku memasak untuk kakak," ucap Micel pada Vino yang tampak tak mendengar ucapannya dan malah masuk ke dalam lif.
Micel memejamkan mata indahnya, sejak pagi dia bergelut dengan dapur bersama bi ira dan hanya begini reaksi yang diterima? Setitik Air mata membasahi wajah Misela.
Willy merasa tidak enak, tidak tau jika Micel ke sini. Tadinya dia memberi tau pada Vino jika Asila telah kembali dari luar negri dan tengah di rawat di rumah sakit yang tak jauh dari kantor.
Micela yang tak dihiraukan hanya menahan sesak di dadanya, meski begitu ia tetap tersenyum kepada Willy.
"Mari nona, kita ke ruang istirahat," ajak Willy. Micel menggeleng pelan. Dia juga kembali masuk ke lif. Rasanya sakit sekali, ingin rasanya dia berteriak dengan lapang.
Willy mencoba mencegah kepergian Micel, akan tetapi bos ciliknya itu tak mau mendengarkan ucapannya.
Micel telah sampai di bawah, dia juga masih bisa melihat kepergian Vino dengan mobil mewahnya. Lagi lagi air mata Micel mengalir, Micel berjalan ke arah jalan raya, dia ingin pergi entah kemana. Netranya menatap rantang makanan yang di bawanya, netranya juga melihat tong sampah yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Hampir saja Micel melempar rantang makanan itu. Akan tetapi, sebuah tangan kekar menahannya. Micel menoleh, hatinya yang sakit seakan ingin mencari sandaran. Micel berhamburan memeluk orang yang kini berada di depannya, melupakan segala keluh kesah di hatinya di dada bidang milik pria itu.
😂😂😂