
Vino menghela napas panjang, menatap kepergian Emyli yang menjauh dari pandangan matanya.
Vino menyandarkan tubuhnya di kursi putar. Bayangan Radit dan Nada berputar hebat di kepalanya. Pertemuan mereka selalu bersamaan apa hubungan keduanya?
🎀🎀🎀🎀
Nada dan Radit kini menatap layar TV sambil menyeruput teh dan kopi. Waktu menunjukkan pukul 21.00 setelah mereka membersihkan diri. Terdengar ketukan pintu dari luar sehingga keduanya berdiri.
"Aku saja yang membuka Yang," ucap Nada dan diangguki oleh Radit.
Nada berjalan dan membuka pintu, dilihatnya ibu mertuanya kini berdiri dan memandang dirinya dengan tak suka.
"Mana Marvel?" tanyanya.
Radit yang mendengar suara langsung saja berdiri dan melangkah ke arah dimana ibunya dan Nada berada. Nada segera masuk, tak mau mengganggu ibu dan anak itu.
"Dimana Micel?" tanya Mira. Radit menautkan alisnya dan melihat jam yang menunjukkan pukul 21.00. Micel belum pulang?
"Dia tadi ke toko buku." jawabnya asal.
"Sekarang jam berapa dan Micel belum pulang? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi," sentak Mira.
Radit menghela napas panjang, memang selama ini Micel tak pernah keluar. Lalu, kenapa dia tak kunjung pulang saat ini?
"Jangan sok perhatian, bahkan anda tak pernah punya kasih sayang untuknya," ucap Radit santai.
Mira menghela napas panjang, memang dia tak begitu memperdulikan Micel. Bahkan entah apa yang dilakukan putrinya dua tahun belakangan ini di kamar dan tak pernah keluar selain kuliah dia pun juga tidak tau. Gadis yang akan menginjak 20 tahun beberapa hari lagi itu selalu mengurung diri.
"Micel putriku, aku mengkhawatirkannya." sentaknya.
"Buang kekhawatiran palsumu itu Nyonya Mira," sentak Marvel tak mau kalah.
"Palsu atau tidak yang penting aku menyayanginya. Kau, bahkan tak pernah menerima keberadaannya, kau selalu menganggap dia pembawa sial karna statusnya yang lahir dari ayah yang berbeda saat pernikahan mama masih dengan papamu. Lalu apa bedanya mama dengan kamu yang saat ini baik padanya?" Bentak Mira.
Deg,
__ADS_1
Micel yang saat ini berada di tangga dan akan menuju ke kamarnya mendengar segala penuturan mamanya. Air matanya mengalir deras. Jadi dia dan kakaknya bukan saudara sedarah? Apa yang dilakukan mamanya sehingga kakaknya begitu membencinya? Anak siapa dirinya?
Micel terdiam. Dia ingin tau kelanjutan dari perdebatan ini. Meskipun hatinya sakit sekali dan air matanya tak mau berhenti.
"Aku dan kau beda Nyonya," sentak Radit.
Mata Radit memerah, bukan dia tak sayang dengan Micel. Tapi, dia selalu memberikan kasih sayang pada adiknya itu dengan keketusannya. Memperhatikan segala yang dilakukan Micel, selalu dia memberikan surat kaleng yang dia taruh di kamar Micel untuk menyemangati. Memberikan dukungan pada Micel agar adiknya itu menjadi wanita yang hebat sejak Micel kecil.
Bukan dirinya sendiri yang menaruh, tapi dia meminta pada Dani. Bahkan sampai pada akhirnya Micel menganggap bahwa Danilah yang menulis surat-surat itu untuknya. Karna Micel beberapa kali memergoki Dani masuk di kamarnya.
Bahkan Radit juga menulis di surat kaleng itu agar micel giat belajar, mengambil jurusan bisnis agar bisa meniti karir dan menjadi wanita yang tangguh dan sanggup meneruskan bisnis keluarga.
Menyarankan Micel mengambil kelas Akselerasi dan mengambil 2 tahun S1. Radit tau, Micel adalah wanita yang luar biasa.
Radit tau adiknya itu mampu, sehingga di usia 20 tahun ini dia mampu mewujudkan apa yang ditulis Radit dalam surat kaleng itu. Ya Micel tak pernah keluar karna dia belajar dan terus belajar, bulan depan adalah wisudanya dengan gelar S1.
Radit bangga, sehingga Radit mengajak adiknya itu jalan-jalan dan memberikan kartu tanpa batas sebagai hadiah karna kerja kerasnya. Hanya satu yang belum dia berikan, yaitu adalah pelukan hangat. Air mata Radit luruh tanpa di minta.
"Aku tidak pernah menunjukkan, tapi aku sangat menyayangi Micel dengan tulisan kaleng yang selama ini ada di kamarnya," ucap Radit dengan air mata yang hampir saja tumpah.
Deg
Micel membelalakkan mata indahnya, air matanya tak mau berhenti. Jadi bukan dari Dani, tetapi semua tulisan itu dari kakaknya?
Micel melangkahkan kaki ingin memeluk Radit karna bahagia. Akan tetapi ingatan Micel tertuju pada satu kata mamanya, dimana mamanya yang menyakiti kakaknya dengan kehadiran dirinya. Dia merenggut kebahagiaan Radit. Pantas saja selama ini Radit tampak membencinya, jadi ini alasannya? Bukan kakaknya yang salah, tapi ini salah mamanya.
"Tulisan apa? Micel tidak butuh tulisan!" sentak Mira. Radit terdiam karna air matanya tak sanggup di bendung. Mira juga tampak berkaca.
"Aku sangat butuh, bahkan karna tulisan itu Aku bisa sampai di detik ini." ucap Micel.
Mira menoleh dan menatap ke arah Micel.
"Kak, terimakasih selalu ada selama ini. Maaf juga karna aku merebut kebahagiaan kakak," ucap Micel lagi, kemudian berlari menuruni tangga.
Radit dan Mira yang masih syok karna ternyata ada Micel yang mendengar perdebatan mereka saling berpandangan.
__ADS_1
"Micel," teriak Radit kemudian berlari.
Dia tau Micel sedang tidak baik-baik saja. Dia pasti sangat terluka. Dengan sedikit tergesa Radit, Mira dan Nada mencoba mengejar Micel.
Micel yang terus saja mengusap air mata sambil berlari tak melihat kesana dan kesini.
Radit melangkah lebar menuju ke arah mobil yang berada di sebrang sana. Nada juga sama, Netranya mendapati sebuah mobil yang melaju kencang dari arah sana. Micel? Nada membelalakkan matanya saat melihat Micel melintas tiba-tiba. Tanpa berfikir panjang mereka berlari kearah dimana Micel berada.
Brakkk
Tubuh Micel terlempar saat sebuah mobil menghantamnya. Mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan.
"Micel," teriak Radit yang terhuyung di sebuah rerumputan. Radit mencoba kuat dan berlari mendekati Micel. Nada menyusul, sedang Mira masih tampak syok.
Darah segar keluar dari kepala Micel, membuat Radit panik, dengan sisa tenaga Radit yang mengangkat tubuh Micel ke pangkuannya.
Nada menelpon ambulan, dan orang-orang tampak berdatangan mengevakuasi korban di mobil.
"Ka-ka-k aku ba-ik ba-ik saja. Jan-ngan Ber-se-dih," ucapnya sambil mengusap pipi Radit dan hilang kesadarannya.
Radit meletakkan tubuh Micel dan memeluk erat tubuhnya. Pelukan yang ingin dia lakukan sejak dulu dan baru sekarang dia melakukanmya. Dilakukan saat Micel dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Arrghhhhhhhhhhhh,,, Tuhannnnn aku menyayanginya. Micel bangunlah, kakak memelukmu. Kakak memelukmu, kakak menyayangimu," rintihnya sambil memeluk erat tubuh adik yang sebenarnya sangat disayanginya.
"Micel," lirih Nada. Dengan langkah gontai Nada mendekati mereka. setetes Air mata mengalir di pelupuk matanya. Nada memeluk tubuh Radit dan mengusap puncak kepala Micel.
"Maafkan aku Micel," lirih Radit yang tenggelam dalam rasa penyesalan dan rasa bersalah yang luar biasa.
"Ini salahku, Dear, " ucapnya lirih dan mampu di dengar oleh Nada.
beberapa saat kemudian, datanglah mobil ambulan dengan sirine yang mencengangkan. Juga terdengar mobil polisi.
🎀🎀🎀❤❤❤
Kita melipir dulu biar g bosen, Cerita NaRa pasti tatap sweet kok.. wkwkw.
__ADS_1