Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Pergi


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Micela lagi pada Vino yang kini menatap ke arahnya.


Vino menghela napas panjang dan menundukkan kepala. Sebenarnya di juga ragu. Tapi jujur pada Micela sepertinya sangat tepat untuk saat ini.


Tangan Vino terulur mengambil sesendok mie goreng. Vino menyuap ke arah Micel. Micel yang memang merasakan lapar membuka mulutnya dan mengunyah mie. Vino menyuapkan lagi, tapi Micel menggeleng pelan dan mengambil alih sendok dari tangan Vino.


"Apa Kakak tidak lapar? Makanlah, aku akan makan sendiri," ucap Micel.


Vino meraih piring di depannya dan menatap mie yang dimasak oleh Micel tadi. Micel yang merasa diragukan menghela napas dalam dalam. Apa sebegitu bencinya pada dirinya sehingga seperti itu?


"Apa kakak takut keracunan? Sepertinya tidak harus makan, jika memang seperti itu. Aku akan melihat drama kematian nantinya, kematian karna kelaparan atau kematian karna keracunan makanan buatanku," ucap Micel sambil meletakkan sendok dan garpunya kemudian melenggang pergi. Perutnya sudah lumayan kenyang menghabiskan beberapa suap Mie yang dimasaknya.


Vino memejamkan matanya, menatap punggung Micel yang menjauh darinya. Vino, dia memang sangat lapar sekali. Akan tetapi makan telur dan mie, benar benar dia hindari karna sejak kecil dia akan mengalami bengkak dan alergi karnanya.


Ucapan keputus asaan Micel membuat dirinya prustasi. Tadi siang, dirinya sudah membuat gadis itu bersedih. Lalu apa saat ini akan mengulanginya? Vino menghela napas dalam dalam, entah bagaimana dirinya tak rela gadis cantik itu bersedih untuk yang kesekian kalinya. Vino mengambil mie itu dan melahabnya. Satu suapan, dua suapan dan tiga suapan. Sepertinya masakan Micel bisa diterima mulutnya dengan baik. Dirinya tak mau berhenti makan, tidak tau apa yang akan terjadi nanti, yang jelas dia akan menghabiskan makanan itu.


Beberapa menit kemudian, Vino telah menyelesaikan makan malam. Dia keluar dari ruang makan mencari keberadaan Micel.


Vino berjalan ke balkon, tampak Micel di sana berdiri menatap langit malam. Hawa malam yang begitu dingin diabaikan wanita cantik itu. Vino berjalan ke arah wanita cantik yang telah berstatus sebagai istrinya yang kini tampak bersedih. Entah apa yang dipikirkan olehnya.


"Sepertinya kau sangat pandai memasak, masakanmu tak kalah nikmat dengan restauran yang biasa aku datangi," ucap Vino saat berada di samping Micel. Micel menghela napas panjang dan tersenyum kecut.


Pasti hanya ingin menghibur, ucapan lelaki disampingnya dia abaikan. Micel masih sibuk menatap langit malam yang indah bertaburan bintang. Bukankah tadi lelaki itu mengungkapkan perasaannya? Kenapa tidak jadi? Membuat sebal saja.

__ADS_1


Menyadari Micel diam saja, kini Vino mendekat ke arah wanita cantik yang dari tadi menyita perhatiannya. Micel, wanita itu semakin di pandang semakin menampakan wajah cantik. Bahkan tanpa make up sekalipun wajah itu sangat ayu.


Vino meraih pundak Micel, menghadapkan tubuh Micel ke arahnya.


Vino menghela napas panjang dan mengulurkan tangannya ke arah rambut Micel. Merapikan rambut Micel yang sedikit berantakan itu. Micel merasakan detak jantung yang tak beraturan. Perlakuan manis Vino benar benar membuat dirinya terbuai. Lalu, apa dia harus jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada manusia laknat yang beberapa kali menoreh luka pada dirinya itu?


"Jangan menatapku seperti itu, Kakak akan jatuh cinta padaku nantinya," ucap Micel dengan tawa. Vino terkekeh. Ucapan Micel mampu mencairkan suasana. Ditatap lekat wajah di depannya. Akan tetapi, bayangan Asila juga melintas dipikirannya.


"Micel, aku belum bisa menerjemahkan bagaimana perasaanku padamu, yang pasti aku mau kau tetap berada di sampingku." ucap Vino sambil mengusap lembut pipi Micel yang tiba tiba memerah karna tangisan itu.


Deg, hati Micel merasakan sakit yang mendalam. Iyakan, sakit hati lagi karna ulah lelaki disampingnya? Air mata wanita cantik itu meleleh dengan deras.


Perasaannya hancur, hancur sekali. Mana sanggup bila selalu seperti ini? Vino tak pernah bisa tegas dengan dirinya. Mengikat tetapi menyakiti, apa maunya sebenarnya? Tidak bisa begitu. Micel harus mengambil sikap.


Micel melepaskan tangan Vino dari pipinya, mengusap air matanya sendiri.


"Kak, tolong sudahi saja, bukankah aku sudah bilang tadi jika aku tak sanggup terus seperti ini?" tanya Micel.


"Baby maafkan aku, jika aku hanya menyayat luka di hatimu. Sepertinya memang aku salah memutuskan menikah denganmu hanya karna aku ingin menjagamu. Tapi tolong beri aku waktu agar aku bisa menerimamu," ucap Vino dengan hati yang seakan sama hancurnya dengan hati Micel.


Micel masih terdiam, mencoba mendengar apa yang akan di ucapkan oleh Vino selanjutnya.


Vino menghela napas dalam dalam, menatap Micel dengan sorot mata yang teduh. Mengamati wajah cantik dengan bulu mata yang lentik itu. Wajah cantik dengan mata yang indah, hidung yang indah. Bibir yang menggoda. Bibir manis yang sempat dia cium beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"Baby, beri aku kesempatan untuk memantapkan hatiku. Bantu aku untuk keluar dari semua ini. Kau tau, aku terjebak dalam perasaan yang akupun tak tau bagaimana." Vino berucap.


Menikah sekali dalam hidup adalah keinginannya. Bahkan dia memutuskan menikah dengan wanita yang terlanjur terjebak dalam masalah masa lalunya itu agar bisa menjaga. Memutuskan menikah dengan Micela dan akan belajar membuka hatinya. Akan tetapi kenapa saat ini wanita masa lalunya datang dan seakan menjadi duri dalam pernikahannya?


Micel menghela napas panjang, apa maksud dari ucapan Vino? Apa artinya ada wanita lain selain dia?


"Apa ada wanita lain?" tanya Micel tiba tiba.


Vino terdiam dan Micel tau apa artinya. Ingatannya kembali pada memori tadi siang. Tadi siang pasti suaminya menemui wanita itu. Micel tersenyum kecut dan memandang Vino dengan kebencian.


"Micel tolong bantu aku," ucapnya lagi. Micel menggelengkan kepalanya pelan.


Vino memejamkan matanya. Sejak berpisah dari Asila, dia tak sanggup untuk membuka hati pada orang lain. Namun yang terjadi saat ini begitu membuat hatinya dilema. Dia tak sanggup melihat Micel terluka, akan tetapi dia juga tak mampu mengabaikan Asila. Lalu, bagaimana? Rakuskah dirinya?


"Kak, sepertinya tidak ada yang bisa kita bisa pertahanan dari pernikahan yang tidak jelas ini. Kakak tau, sejak awal niat kakak sudah salah. Kakak mau menjagaku? Menjaga dari siapa? Menjaga dari apa? Akupun tak tau, bahkan tanpa kakakpun aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku punya Kak Marvel, aku punya Kak Dani, aku punya Kak Delon, dan Aku punya Kak Nicho," ucap Micel dengan tegas.


"Sekarang, kakak memintaku memberi kesempatan? Kesempatan yang keberapa? Kesempatan yang seperti apa? Aku yakin, ada orang lain di hati kakak saat ini. Jika memang pada akhirnya kakak tidak bisa mencintai aku. lalu kakak juga masih belum bisa melupakan dia. Sepertinya semua cukup sampai disini. Aku punya hati Kak, aku punya hati dan aku tidak bisa hidup dalam keadaan yang seperti ini. Jangan lagi bingung, dan jangan lagi kakak pusing karna ini. Bukankah aku bukan siapa siapa? Lepaskan aku, dan pertahankan dia," ucap Micel sambil mendorong tubuh Vino kemudian menjauh darinya.


Micel masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya, tangisnya pecah.


"Ya Tuhan, aku baru saja bahagia dengan hangatnya perlakuan manis Kak Vino. Dan saat ini juga aku harus hancur karena ucapannya yang menyakitkan? Apa akan seperti ini selalu? Tidak bisa. Aku harus pergi saat ini juga," ucap Micel sambil menatap ke arah jendela kamar yang berada di sudut ruangan.


Jam menunjukkan pukul 19.30. Micel mengusap air matanya. Entah, keberanian dari mana Micel membuka jendela dan melompat keluar dari sana.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2