Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Dimana Micela?


__ADS_3

Micel melompat dari lantai dua kamarnya, hatinya masih sakit. Dia menggebu ingin pergi. Hidup dengan Vino sangat menyakitkan baginya. Usianya yang masih sangat muda membuat sifatnya kekanakan kanakan. Harusnya dia di bimbing, harusnya dia derengkuh. Tapi kenapa alasan menjaga yang dilontarkan Vino malah berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan?


Bukan menjaga akan tetapi menyakiti. Micel menggelengkan kepalanya dia ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Vino. Micel berlari ke arah jalanan. Menyusuri jalan dan akan pergi sesuka hatinya. Hais, kenapa dia merasa pernah seperti ini? Di abaikan, di biarkan, dan mencari kebahagiaan diluaran sana.


❤❤❤❤


"Jadi Kita berhasil?" seorang lelaki paruh baya tengah menatap ke arah anaknya dengan bangga.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum bahagia pada papanya. Alexa Asila, wanita itu adalah wanita yang selama ini dicintai oleh Vino. Pergi? Benar sekali. Dia yang memang mengetahui jika Vino dulunya anggota mafia pergi meninggalkan lelaki itu. Keluarganya yang kaya tak mau mempunyai mantu seperti Vino yang dikira hanya orang tak punya.


Asila menatap ke arah beberapa orang tinggi besar di depannya.


"Mereka berada di puncak, teror mereka. Kalau bisa, habisi wanita itu. Dia akan menghancurkan misiku mendapatkan Alvino." ucap Asila pada orang di depannya.


"Baik Nona," jawab mereka serempak kemudian melenggang pergi.


Asila menatap ke arah papanya dan menyalakan rokok, mengepulkan asap yang kemudian tersenyum.


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" tanya Papanya.


"Aku hanya ingin mendapatkan Alvino, aku juga yang mendirikan geng cobra kembali untuk mengintai Vino dan wanita itu. Aku tidak mau Vino tau jika itu ulahku." ucap Asila.


"Jadi kau berulah dan mengkambing hitamkan geng cobra?" tanya papanya. Asila tersenyum.


"Tepat sekali, dengan begitu Vino tak mencurigaiku," ucap Asila sambil mematikan rokok dan menaruhnya di atas asbak.


Asila yang mengetahui Vino dari beberapa berita, bahkan dia tau kedekatan Micela dengan Vino. Mengintai Vino bertujuan agar Vino mengabaikan Micela, akan tetapi ternyata mereka malah menikah.


Asila meminta anggota geng itu mengejar Vino, dengan alasan meminta Vino kembali pada geng. Padahal mereka sudah tau, bahwa pada akhirnya Vino tak mau.


"Lalu kenapa kau meneror mereka jika hanya ingin menyingkirkan Wanita itu?" tanya Papanya.


"Wanita itu bukan wanita biasa, dia adalah salah satu anggota geng Aster yang selalu menggagalkan misi geng cobra," ucap Asila.

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu tersenyum, dan menatap ke arah putrinya dengan bahagia.


"Kenapa tidak menggunakan kesempatan itu? Artinya sebenarnya mereka berselisih, tanpa harus melakukan kekerasan. Pisahkan mereka dengan cara yang cantik. Nona Asila," ucap papanya. Asila menatap papanya dengan sorot mata tajamnya.


"Maksudnya?" tanya wanita itu dengan antusias. Hendri, papa Asila tertawa pelan.


"Kau bisa membuat mereka berpisah dengan cara membeberkan status Vino pada wanita itu," ucap Papanya. Asila terkekeh dan menatap papanya lagi.


"Aku juga akan melakukan itu jika menyingkirkan dengan cara kasar tidak bisa," ucap Asila.


Henri menatap putrinya sambil tersenyum.


"Kau akan berhasil, papa mendukungmu," ucap Henri.


Asila tersenyum kecut dan menatap ke arah papanya dengan tajam.


"Andai saja tidak memintamu meninggalkan dia, pasti kami telah menikah," tegas Asila. Henri menghela napas panjang. Ditatapnya putri satu satunya itu.


"Itu papa lakukan agar kau mempunyai kehidupan yang layak. Jika tau dari awal tentang itu, papa tidak akan memintamu berpisah dengannya," ucap Papanya.


🌹🌹🌹🌹


Vino mengerjabkan matanya, dua jam sudah ia menyelami samudra mimpi, ingatan nya tertuju pada Micela. Vino segera beranjak dari tidurnya, Vino menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul 23.00.


Vino menggaruk garuk garuk kulitnya, makan mi dan telur benar benar menyiksanya. Fikirannya melayang jauh. Ingin meminta bantuan pada Micel untuk mengambilkan obat di kamar.


Vino yang tidak tahan segera menaiki anak tangga. Mencoba membuka pintu yang ternyata di kunci dengan rapat.


"Micel, buka pintunya. Aku mau mengambil obat. Aku tidak tahan Micel. Lihat Micel, aku tidak tahan," Vino mengetuk pintu. Badannya terasa panas. Perutnya sakit dan mual.


Vino mengusap badannya yang terasa gatal. Satu menit, dua menit, tiga menit hingga lima menit dirinya tak mendapatkan jawaban. Sedangkan badannya sudah tidak bisa diajak kompromi.


"Gadis, tolong buka pintunya. Okey kau boleh marah. Tapi tolong buka pintu sebentar," pinta Vino sambil terus menggosok badannya yang memerah dan membengkak.

__ADS_1


Tak ada sahutan, Vino menghela napas panjang. Dengan sisa kekuatan yang ada. Vino segera mendobrak pintu kamar.


Alangkah terkejutnya dia saat tidak menemukan Micel di tempat itu. Vino tampak hawatir. Bahkan tubuhnya yang sakit tidak lagi dia rasakan. Dia kesana kemari mencari Micel.


Wanita itu tidak ada, lalu kemana dia? Micel, dimana kamu? Vino berlari ke kamar mandi. Tak ada Micel, disana. Vino menuju ke balkon kamar. tak ada juga micel disana. Vino mengusap kasar wajahnya. Kemana gadisnya?


"****," umpatnya. Vino segera berlari keluar dari fila. Netranya mendapati beberapa orang bertubuh besar sedang berlalu lalang. Apa Micel dalam bahaya? Segera Vino mengirim pesan pada Rendi dan Willy.


"Micel, dimana kamu?"lirih Vino sambil menancap gas mobilnya.


Vino masih saja berputar mencari keberadaan Istrinya, namun tak juga mendapatkan keberadaan Micel. Vino mencoba menghubungi kontak Micel, nihil ponsel Micel tidak aktif. Nicho? Setelah kesana, disana tidak ada tanda tanda Micel.


"Sial. Kemana lagi kamu pergi? Suka sekali membuatku khawatir," gumam Vino. Vino menancap gas mobilnya, rasa marah, kesal dan khawatir seakan tumpah menjadi satu. Satu jam sudah mencari keberadaan istrinya namun tak juga menemukannya.


Vino yang biasanya sabar seakan emosi. Micel, gadis itu pandai sekali membolak balikan perasaannya.


Beberapa menit kemudian, Vino sudah berada di apartemen Willy. Mencari keberadaan Willy dan juga tidak ada tanda -tanda Willy disana. Vino berlari ke arah apartemen Rendi. Rendi menyambut dirinya dengan antusias.


"Kakak, ada apa? Kenapa tampak panik?" tanya Rendi sambil mendekat ke arah kakaknya.


"Apa Micel tidak kesini?" tanya Vino. Rendi mengerutkan keningnya.


"Bukankah tadi bersama Kakak?" tanya Rendi. Vino mengusap kasar wajahnya yang bengkak dan memerah.


"Coba hubungi ponselnya, aku akan menghubungi Mama, mungkin saja Micel pulang untuk menemui Mama," ucap Vino yang tampak panik.


Vino membuat panggilan untuk Mamanya.


Halo Assalamualaikum Vino, Ada apa lagi?Mana mantu ibu yang cantik?" tanya ibunya dengan nada bahagia.


Vino memejamkan matanya, tak sanggup mengatakan jika ia kehilangan jejak Micel.


"Vino, apa kalian baik-baik saja?" tanya mamanya lagi. Vino menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Vino, dimana Micela? Bukankah tadi bersamamu?" tanya Mamanya dengan tegas.


❤❤❤


__ADS_2