
Di sebuah danau yang indah, seharusnya membuat hati terasa tenang. Namun, Kini seorang gadis cantik tengah meratapi kesedihannya.
Nada Aira, gadis cantik 23 tahun itu harus merasakan sakitnya mencintai dalam diam. Nada menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bayangan Rafa sangat menyiksanya. Entah, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang yang menganggapnya adik? Kenapa semakin mencoba melupakan semua malah dia terbayang wajah tampan lelaki itu?
"Astagfirullah," lirihnya. Berkali-kali kalimat itu dia ucapkan, mencoba menerima kenyataan yang ada.
Akan lebih mudah untuk menyembuhkan luka yang diberikan orang lain dari pada luka yang diberikan oleh orang yang dicinta.
Orang yang dicintai? Ya, hanya aku yang mencintainya.
Memang hanya aku yang mencintaimu. Yang selalu meneteskan air mata, dan berharap bisabersanding denganmu.
Dan hanya aku yang sering kecewa, dengan cinta yang kuharapkan darimu, tetapi cintamu tidak pernah ada untukku.
Kau seperti ombak yang datang dan pergi tak beraturan, membuatku menunggu dan terus menunggu sesuatu yang jelas-jelas tidak pernah ada untukku.
Betapa bodohnya aku, hanya mampu memendamnya. Merasakan sakit sendiri, dan tak pernah mampu untuk mengutarakan.
"Nada, berhentilah berbuat bodoh. Tolong, jadilah wanita yang kuat. Lupakan dia, lupakan dia," ucap Nada lirih sambil menupuk dadanya yang terasa sangat sesak.
Nada berdiri setelah melihat jam yang menunjukan 21.00, tiga jam sudah dia berada disini. Menikmati indah danau dilengkapi dengan terpaan angin yang memberikan sedikit ketenangan pada hatinya.
Tangan Nada terulur meraih botol yang ada di sampingnya, meluapkan emosi hatinya dengan melempar botol itu ke sembarang arah dengan kekuatan yang ekstra.
__ADS_1
Namun, botol berisi air itu malah nyasar pada orang yang berjongkok di sana.
"Shith." Lelaki yang tengah berjongkok disana terdengar mengumpat kesal. Dia meraih botol yang tergeletak di tanah dan berjalan menghampiri Nada yang tampak panik.
"Kau yang melempar?" suara itu membuat Nada terkejut dan menatap orang yang sekarang berdiri di depannya sambil memegangi jidatnya.
"Ma'af. Aku tidak sengaja. Aku tidak tau kau berjongkok di sana," ucap Nada panjang lebar.
Lelaki yang semula menunduk itu mendongak mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Kau," ucap Nada dan Radit bersamaan.
Keduanya saling berpandangan, mencoba memastikan pengliahatan mereka dan mengingat pertemuan sebelumnya yang sangat menjengkelkan, juga pertemuan di bar yang sampai sekarang belum sekalipun Nada berterimakasih padanya.
"Kenapa aku selalu sial saat di dekatmu? Sepertinya kau harus mandi kembang 7 rupa supaya tidak membawa sial!" cerca lelaki itu sambil menatap tajam ke arah Nada.
Radit yang baru saja keluar dari hotel memutuskan untuk pergi ke danau. Alangkah sialnya dia harus kembali bertemu dengan wanita satu M di depannya. Wanita satu M? Sebutan yang muncul di otaknya membuat dirinya geli sendiri.
"Aku tidak sengaja? Kau pikir aku sengaja melakukannya? aku tidak tau kau berjongkok di sana," ucap Nada ketus, sambil mengamati jidat Radit yang merah karna ulahnya.
Radit menghela napas panjang, keduanya tampak berdiam kemudian melenggang pergi.
"Tuan," panggil Nada sedikit kikuk. Radit menghentikan langkahnya dan memutar langkahnya menatap ke arah Nada.
__ADS_1
"Kau pikir aku tuanmu?" tanya Radit ketus lagi.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja," ucap Nada lagi ketika menyadari Radit tampak emosi padanya.
"Lupakan saja nona, aku tidak perlu permintaan maaf dari wanita sial sepertimu. Mau berapa kali minta maaf dan dimaafkan, lain waktupun kau akan melakukan hal yang sama," ketus Radit.
Nada mendengus kasar. Dia benar-benar jengkel pada manusia di depannya. Ini bukan pertama kalianya mereka bertemu, dan selalu saja dalam sebuah pertemuan mereka sekalu terlibat percekcokan.
"Hei tuan, aku sudah bersusah payah meminta maaf, lalu kau masih menyebutku sial?" sewot Nada dengan suara nada tingginya.
Radit diam tak menanggapi ucapan Nada, membuat Nada semakin emosi tingkat dewa. Benar, memang dia mempunyai hutang padanya. Lalu, apa tidak bisakah dia bersikap lebih baik?
"Aku bilang tidak butuh permintaan maafmu, apa kau tidak paham bahasa manusia? Harus dengan bahasa apa aku berkata padamu?" tanya Radit lagi dan melenggang pergi. Tak ada manfaatnya berdebat dengan wanita di depannya, justru malah akan membuat dirinya semakin pusing saja. Masalahnya sudah banyak dan dia enggan untuk menambah lagi.
"Tuan, aku belum berterimaksih padamu. Terimakasih telah menyelamatkanku kemarin, aku akan melunasi hutangku secepatnya," ucap Nada saat Radit mulai menjauh darinya.
Radit seketika berhenti melangkah, bahkan dirinya tak pernah berharap uang itu kembali. Sama halnya dengan berkencan dengan wanita di luaran sana. Aneh, nominal segitu bisa untuk berkencan dengan lima wanita. Lalu kenapa dia menghargai Nada se ekstrim itu? Entahlah.
"Tuan, kau mendengarku?" Nada kini berhenti di depan Radit.
Sosok tinggi tegap itu dengan jelas bisa melihat wajah cantik dengan kelopak mata yang indah, hidung yang sempurna, bibir merah muda yang menawan. Nada bagaikan rembulan yang bersinar di tengah kegelapan, Radit gelagapan saat nyawa keduanya tiba-tiba bangun menyesakan celananya. Oh, ****, Pantas saja banyak lelaki yang menawarnya di bar waktu itu. Kenapa Radit bisa terlambat menyadarinya. Terpesona? Tentu saja. Netranya masih mengamati wajah cantik yang tersimpan dalam balutan kerudung pink yang menambah kesan cantik untuknya.
🎀🎀❤❤❤🎀
__ADS_1
Hayokkk ritual jangan kendor yak. Like, koomen hadiah....