Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 64


__ADS_3

Tapi, Nada tak menolak ataupun mencoba menghindar. Meski bagaimanapun, Radit adalah pasangan halal yang bebas melakukannya.


Kedua bibir mereka bertautan. Tubuh mereka sedikit bergetar merasakan s*ns*si panas dingin yang melebur menjadi satu.


C*uman itu semakin m*manas, ciuman yang semula kasar dan memaksa kini berubah sangat lembut. Dengan lembut Radit m-e-l-umat bibir Nada. Mereka terhanyut dalam ci-uman yang semakin lembut, hangat dan manis. Nada hanya pasrah. Radit adalah suaminya, dan jika Radit melakukan lebih. Maka dia harus siap dengan kosekwensi yang ada.


Yang benar saja, Radit malah melepaskan c*umannya keduanya kehabisan oksigen dan menghirup dalam-dalam udara. Radit mengangkat tubuh mungil Nada dan membawanya berjalan ke r*njang. Nada memejamkan matanya. Sesak, bahagia, sedih, kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya. Radit dengan halus memperlakukan Nada, entah bagaimana, rasanya dia ingin menuntaskan ha*ratnya malam ini.


Nada yang mendadak merasakan ha*rat membara, kini dia tak sanggup mengontrol dirinya. Nada menarik tubuh Radit sehingga Radit jatuh di atasnya. Nada menyerang Radit dengan ci*man kakunya. Radit tersenyum smirk dan meladeni c*uman panas dari Nada. Ciuman manis yang membuat Radit gelap mata dan tak sanggup menolak, d*rahnya mendidih, tubuh bagian bawahnya menegang.


Oh ****. Radit memejamkan matanya, apa yang tengah dilakukan gadis cantik ini? Setelah menyiksanya dengan mengatakan mencintai orang lain, kini malah memberikan ciuman yang memabukkan? Kenapa Radit tak sanggup menyudahi? Kenapa c*uman Nada bagai na*kotika yang membuat dirinya candu?


Bibir mereka masih saja bertautan, Radit mulai mera*apkan tangannya diatas gunung himalaya yang masih tertutup dengan balutan bajunya. Nada merasakan geli yang melanda hingga pada akhirnya Radit melepaskan ciumanya. Keduanya saling menatap lekat.


Ada rasa malu di wajah Nada, bagaimana bisa dia seperti ini?Radit menghela napas panjang dan melirik ponsel Nada berbunyi dan menampakan nama Kak Rafa disana. Nada memejamkan matanya, panggilan dari Rafa membuatnya selamat dari Radit. Tanpa harus meminta Radit berhenti, Radit menghentikan aksinya sendiri.


Radit duduk dan menatap Nada yang hanya diam dan melirik ponsel yang terus berbunyi itu.

__ADS_1


"Angkatlah," titah Radit.


"Angkat?" tanya Nada. Tanpa menjawab, kini Radit mengambil ponsel Nada dan menekan tombol lost speker. Dia ingi tau, apa yang akan dikatakan orang yang bernama Rafa itu pada istrinya.


Nada memejamkan matanya sejenak, bagaimana bisa ini terjadi? Kenapa Rafa tiba-tiba menelponya?


"Halo Nad, apa kau melupakan kakak? Kenapa tidak berkabar setelah sampai disana?" tanya suara di sebrang. Ah, selamat, Rafa hanya menanyakan kabarnya.


"Maaf kak, aku sibuk beberapa hari ini." ucap Nada.


Deg, jantung Radit seakan terhantam batu besar. Sepertinya orang ini adalah orang yang dicintai Nada. Rasa sesak menyeruak di dadanya. Radit bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Nada masih terdiam, suara Rafa seakan tak terdengar di telinganya.


Nada bangkit dan mengejar Radit yang kini tampak emosi.


"Yang, mau kemana?" Nada menarik tangan Radit. Keduanya saling menatap. Radit mendorong tubuh Nada hingga menjauh. Dia menarik hendel pintu, keluar dari kamar dan mengunci kamar dari luar.


"Maaf kak, aku tidak ada waktu malam ini," sahut Nada dan mematikan ponselnya. Nada memejamkan matanya dan mencoba membuka pintu yang jelas-jelas tak bisa dibuka.

__ADS_1


Terdengar deruan mobil Radit dibawah sana, sepertinya Radit benar-benar emosi sehingga membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


🙄🙄🙄🤣🤣🤣🤣


Di Sheyna bontique sepeninggalan Radit dan Nada. Dani kini sudah seperti mandor kasir yang mengawasi dua pekerjanya. Setiap orang yang keluar dari Seguna bontiqu dilihat ponselnya dan dihapus semua yang ada gambar Nada dan Radit. Dani memberikan uang tutup mulut sebagai gantinya.


Sifa yang baru saja keluar dari ruangannya terkejut saat di meja kasir benar-benar padat antrian. Sifa dengan emosi yang mengebu menarik tangan Dani. Seketika Dan memberikan amplop pada anak buahnya.


Dani mengikuti langkah wanita cantik yang kini terus menariknya menuju ke luar butik.


"Apa yang kau lakukan? Pergi dari sini dan jangan membuat keributan, apa yang kau cari dari ponsel mereka?" bentak Sifa dengan lantang. Dani hanya terdiam mengamati bibir manusia cantik yang kini mengomel ria di depannya tanpa mendengar ucapannya.


🤣🤣🤣🤣🤣


wkwkwkwkwkkw


nohhh.. ups tambahan buat kalian.. wkwkwkkw.

__ADS_1


__ADS_2