
"Jangan membahas wanita yang dikenalkan ibuku. Bolehlah kapan-kapan kita minum bersama, tentukan dimana kita akan berkumpul. Kalian bisa menghubungiku nanti," ucapnya sambil tersenyum ke arah ke tiga temannya.
"Okey kabari juga aku, tampaknya aku harus segera pergi," ucap Vino kemudian menyambar kunci mobil di atas meja.
"Okey, nanti aku kabari kalian," ucap Delon.
"Aku pergi dulu," Vino berjabat tangan dengan tiga sahabatnya dan melenggang pergi.
Delon dan Nico menyusul kepergian Vino kini tinggal Radit sendiri. Dirinya menyandarkan tubuhnya dikursi putar memandang langit-langit ruangannya dan memejamkan matanya.
Amara, bayangan itu menyelinap masuk dalam benaknya. Penyesalan yang mendalam menghantui otaknya, kenapa dirinya tak menemukan keberadaan wanita cantik itu waktu itu? Kenapa bukan dirinya yang bisa mendapatkan wanita itu? Kenapa dirinya tak diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengutarakan perasaannya? Kenapa mereka dipertemukan kembali saat wanita itu telah berstatus menjadi kakak iparnya?
Radit mengacak kasar rambutnya. Tampaknya wanita memang biang masalah di hidupnya. Radit mengepalkan tangannya dan di saat yang sama, netranya memandang ke arah Mira yang tengah bercengkrama dengan Zifana. Radit memalingkan wajahnya.
"Apa lagi yang akan di perbuat wanita itu pada hidupnya? Tidak puaskah mencampuri segala urusannya? Tidak puaskan menghancurkan hidupnya?" lirih Radit.
❤❤❤❤
"Tante, Zifana harus pamit. Lain waktu akan kesini lagi," ucapnya dengan mencium pipi kanan dan pipi kiri Mira.
"Mainlah ke rumah, pintu rumah terbuka lebar untukmu," ucap Mira dan di angguki oleh Zifana.
Zifana melenggang pergi, dia tersenyum bahagia saat melihat mobil papanya berada di depan sana.
Zhein Raharja Winata Sinatria, pengusaha sukses di bidangnya dengan segudang prestasi yang hampir sejajar dengan MRD group. Zhein mempunyai satu putri dan satu putra yang mempunyai keahlian sama seperti dirinya, putrinya bernama Zifana Manda sinatria dan juga Mario Gino Sinatria, putra kebanggaannya.
Lelaki paruh baya itu tampak berdiri di samping mobil dan merentangkan tangannya menyambut putri tercinta. Dia mengerutkan keningnya. Bahkan, tadi Zifana menolak berangkat ke MRD group. Lalu, bagaimana bisa putrinya itu tersenyum-senyum seperti ini?
"Apa yang membuatmu bahagia? Apa CEO MRD group tua seperti yang kamu pikirkan?" goda ayahnya.
"Tidak Pa, bahkan sepertinya Zifana jatuh cinta padanya saat pandangan pertama." Zifana berucap. Tuan Zhein terkekeh.
"Apa menginginkannya?" tanya Papanya. Zifana tampak menggeleng.
__ADS_1
"Bantu Zifana untuk menaklukan dirinya, pa." sahut Gino yang berada di dalam mobil.
Zhein terkekeh geli. Almarhum Handika begitu tampan, dia yakin putranya tak beda jauh darinya
"Baik, papa akan membantu, Zifana," ucap papanya kemudian mengambil ponsel di sakunya.
"Pa. aku bercanda," sanggahnya.
"Kau diamlah gadis," sahut Gino lagi.
"Halo sahabatku, ku dengar kau akan membuat kerjasama dengan MRD group. Bisakah kita bekerja sama pula dan saling menguntungkan?" tanya Zhein sambil tersenyum. Zifana hanya mendengarkan perbincangan papanya. Sebenarnya dia ragu, tapi entahlah.
"Apa yang bisa aku perbuat untuk membantu?" tanya suara di sebrang.
"Ajukan satu syarat agar kerjasama kalian terjalin, dan syarat yang kau ajukan yang akan menjadi pundi-pundi dariku," ucapnya sambil memandang putrinya.
"Apa syarat yang kau mau, sahabatku?" tanya suara itu lagi.
"Berikan Syarat pernikahan jika kau mau menjalin kerjasama dengan mereka," ucap Zhein.
"Betul sekali. Kau tau, Zifana sangat menyukai CEO MRD group, mungkin hanya dengan cara ini aku bisa meminta Mira menikahkan mereka," ucap Zhein, Zifana tampak tersenyum. Pikirannya melayang jauh, membayangkan bahagia bersama Radit, aish obsesi atau benar benar jatuh cinta?
"Okey, aku akan mengajukan syarat itu. Tapi, jangan lupa memberikan keuntungan untukku seperti apa yang kau janjikan, sahabatku," ucap suara di sebrang di tengah kekehan tawanya.
"Jangan khawatir, aku akan segera mentrasfernya," ucap Zhein kemudian menutup ponselnya. Gino dan Zhein saling memandang, keduanya tersenyum bahagia.
"Bagus pa," ucap Gino pelan dan diangguki oleh papanya.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Di sebuah butik ternama bertuliskan SheyNa Bontique, Nada tengah mempersiapkan beberapa desain yang akan di bawanya untuk meeting bersama dengan pimpinan perusahaan yang mempercayakan jasa padanya untuk pembuatan baju pesta. Baju yang digunakan untuk acara ulang tahun perusahaan.
Nada berkali-kali memperhatikan beberapa dokumen yang berada di file penyimpan di monitornya.
__ADS_1
"Bagaimana Sifa? Apa Desainku kali ini tampak indah?" tanya Nada sambil memegang pelipisnya, memijat dengan pelan pelispisnya dan menyandarkan tubuh lelahnya di kursi putarnya.
Sifa mengamati desain atasannya itu dan mengacungkan jempolnya pada Nada, membuat seulas senyuman yang menambah kecantikan wanita berhijab itu. Lesung pipi di kedua pipinya menambah kesan cantik di wajahnya.
"Seratus untuk Bu Nada," ucap Sifa sambil tersenyum.
Nada merasa bahagia. Dia mengambil berkas dan memasukan ke dalam tas. Nada bangkit dari duduknya kemudian menatap ke arah Sifa.
"Okey, sekarang sebaiknya kita berangkat Sifa. Bismilah, semoga kita bisa memperkenalkan Produk kita dengan baik dan bisa diterima dengan baik pula," harap Nada dan diamini oleh Sifa.
Kedua wanita cantik itu berjalan menyusuri koridor dan menuju ke parkiran. Mereka akan bertemu dengan Tuan Pradikta di sebuah rumah makan mewah bergaya klasik yang tak jauh dari butik.
Beberapa menit berlalu, sampailah Nada di restauran itu. Nada duduk diam sambil menikmati jus jambu yang terhidang di atas meja. Pikirannya melayang entah apa yang dia pikirkan. Sesekali tangannya mengaduk jus dengan sedotan yang ada di gelas itu. Netranya melirik jam yang melingkar ditangannya, jam menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit. Nada menghela napas panjang.
"Apa perlu saya menghubungi bapak pradikta, Bu?" tanya Sifa yang melihat Nada sudah mulai bosan saat menunggu kedatangan klien yang menyepakati datang jam dua tersebut.
"Tidak usah Sifa, kita tunggu saja sebentar lagi," ucap Nada santai.
"Apa ini yang dinamakan tepat waktu?" gerutu Nada .
Nadaa menghela napas panjang menghilangkan rasa gelisah di hatinya.
"Selamat siang Nona Nada, Nona Sifa!" sapa pria yang tiba-tiba berdiri didepan Nada sambil mengulurkan tangannya.
Nada dan Sifa mendongak dan berdiri, kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memyambut kedatangan orang di depannya.
"Selamat siang Tuan, silahkan duduk Tuan! Ucap Sifa sopan.
"Terimakasih Nona,"ucap pria itu sopan juga.
"Maafkan kelancangan saya yang tadi pagi harus telat Tuan Pradikta," ujar Nada, tampaknya dia sengaja menekan kata telat di kalimatnya. Pria itu tersenyum tipis bahkan senyumnya tak terlihat. Wajah dingin dengan seringai itu hanya terdiam kemudian memandang Nada sekilas.
"Maaf Nona ,saya Wili sekertaris pribadi Tuan Muda Pradikta,"ucap pria itu memperkenalkan diri. Nada terkejut, ia pun tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
__ADS_1
😀😀😀😀😀😀