Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Nada VS Radit


__ADS_3

"Aku tidak akan pergi, aku suamimu," jawabnya singkat.


"Bukankah setiap orang bebas memilih hidupnya sendiri? Kali ini aku memilih untuk menjauh darimu," ucap Nada sambil memalingkan wajah cantiknya. Wajah cantik yang kini berderai air mata.


"Pilihanmu hanya aku, kita tidak akan pernah berpisah. Kamu milikku, kamu Nadaku, aku tidak akan pernah memberimu pilihan, kamu tidak mempunyai pilihan lain, pilihanmu tetap berada di sampingku," Radit mempererat pelukannya, merasakan kenyamanan yang begitu melegakan hatinya. Nada terdiam pelukan Radit membuat dirinya tenang.


"Apa benar-benar membenciku. Hem? Apa tidak mau mendengar penjelasanku?" Radit berbisik pelan, memutar tubuh Nada, sehingga mereka saling berhadapan dan saling menatap. Radit mengusap pipi Nada.


"Kau tak perlu menjawab, aku tidak memaksamu. Yang jelas aku tau, kamu sangat mencintaiku." ucap Radit, Nada sedikit tenang. Dia menjatuhkan dirinya di pelukan Radit, mecari kenyamanan di dada bidang suaminya. Air mata Nada tumpah sehingga membuat kemeja milik Radit basah karenanya.


Semakin lama semakin hangat membuat debaran jantung keduanya tak beraturan. Radit melingkarkan tangannya membalas pelukan dari Nada. Mengusap pundak Nada dengan lembut.


"Kau tau, aku tidak pernah berencana untuk membohongimu. Kau sangat berharga bagiku Dear, tolong bantu aku untuk keluar dari masalah ini. Doakan aku, jangan tinggalkan aku di saat yang seperti ini. Setidaknya kamu percaya padaku, bahwa di dalam rahimnya bukan benihku," ucap Radit pelan.


Deg, hati Nada seakan kembali merasakan sesak. Nada bangun dari pelukan Radit dan menatap Radit dengan tenang.


"Jika saja aku tau dari mulutmu sendiri, mungkin aku bisa memahami, hidupmu di masa lalu memang aku sudah tau. Tapi, aku mendengar semua dari wanita itu. Dia meminta pernikahan dengan suamiku, lalu disaat yang sama suamiku malah mengabaikan aku. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Nada. Radit terdiam.


"Yang aku lakukan hanya ingin menjaga perasaanmu, oke aku salah menyembunyikan semua darimu Dear. Tapi tolong dengarkan aku," ucap Radit.


"Menjaga perasaan dan berujung menyakiti? Seharusnya kamu lebih terbuka, agar kita bisa mencari jalan keluar bersama." ucap Nada kemudian menghela napas panjang.


"Sayang aku minta maaf, tolong maafkan aku. Aku janji, lain kali akan terbuka padamu. Lupakan Selena, oke," ucap Radit sambil meletakkan kedua tanganya di pipi Nada.


"Mana bisa aku melupakan? Aku wanita, Selena juga wanita, mungkin apa yang dirasakan Selena tidak beda jauh dengan apa yang aku rasakan," ucap Nada.


"Tapi dia bukan siapa siapa, kenapa harus memikirkannya? Kamu hamil Dear, dan aku tidak mau kamu kenapa napa," ucap Radit.


"Aku hamil, tapi dia juga hamil," sanggah Nada.


"Kau hamil anakku, dan dia belum tentu, aku yakin itu bukan anakku," ucap Radit.


Nada memejamkan mata indahnya, merasakan sakit yang mendera.


"Aku butuh bukti! Jika memang kamu bisa membuktikan bahwa itu bukan anakmu, kita akan terus hidup bersama berdua. Tapi, jika memang benihmu, kita tidak bisa bahagia diatas penderitaan Selena. Kau harus juga memberikan kebahagiaan pada Selena, dengan mempertanggung jawabkan perbuatanmu," ucap Nada. Meskipun rasanya sakit, tapi mungkin itu yang terbaik.

__ADS_1


Sanggupkah bila nanti harus hidup berdampingan dengan madunya? Lalu, sanggupkah Radit berbuat adil pada mereka? Bukankah jika berpoligami harus adil? Maka jangan sekalipun berpikir untuk melakukan poligami jika nantinya tidak bisa adil, karna hanya akan berbuat dosa.


"Oke aku akan bertanggungjawab jika terbukti itu anakku, tapi tidak harus menikah dengannya juga bukan? Dulu aku sudah membayarnya, bukankah seharusnya sudah selesai?" tanya Radit. Nada memejamkan mata indahnya dan tersenyum kecut.


"Jika kamu bertanggung jawab dengan orang yang tidak punya status apapun denganmu di depan istrimu sepanjang hidup, apa itu namanya menjaga perasaan istri? Mau berapa kali kamu menyakitiku? Lain halnya jika menikah, jika dia istrimu juga, bertanggung jawab sebesar apapun padanya memang sudah menjadi hak untuknya dan kewajiban seorang suami," ucap Nada.


Radit memejamkan matanya, jika bisa mengulang waktu. Mungkin dia tidak akan melakukan hal jelek di masa lalu. Karna setiap perbuatan akan mendapatkan akibat. Berbuat baik akan mendapatkan kebaikan, begitu juga sebaliknya.


Radit menghela napas panjang dan menatap Nada dengan tenang.


"Aku yakin di dalam perutnya bukan anakku, aku akan membuktikannya," ucap Radit.


"Oke, aku akan menunggu. Untuk itu beri aku izin untuk menyembuhkan luka dan menyendiri di rumah ayah dan ibu," ucap Nada.


Radit memejamkan matanya, harus berpisah dengan Nada? Berapa lama?


"Dear, tetaplah disampingku." ucap Radit. Nada memejamkan mata indahnya dan tersenyum ke arah Radit. Mengusap pipi Radit dengan lembut.


"Kau tau, berpisah dua malam saja denganmu membuat aku kelimpungan," ucap Radit.


"Aku hanya ingin memastikan kesungguhanmu, agar semua bisa cepat selesai. Jika memang iya segera bertindak, jika tidak maka kita bisa hidup bahagia. Kadang, berjauhan adalah jalan terbaik agar kita bisa saling ber intropeksi diri," ucap Nada.


"Itu terlalu menyakitkan." ucap Radit. Nada mendorong pelan dada bidang Radit. Namun, Radit kembali meraih pinggang istrinya.


"Aku butuh waktu untuk sendiri," jawab Nada.


"Waktu untuk bertemu dengan Rafa disana?" tanya Radit. Nada membelalakkan matanya.


"Mana ada seperti itu. Tuan Marvel Raditia Dika yang terhormat?" ucap Nada agak membentak, membuat Radit terkekeh, ini adalah Nada yang sesungguhnya. Nona Nada yang tegas dan selalu membuatnha jatuh cinta.


"Kenapa tertawa?" tanya Nada.


Radit terdiam, memandang wajah Nada dan berhenti di bibir Nada. Tak tahan dengan bibir Nada yang dari tadi menggodanya. Radit menyambar bibit ranum merah muda itu dan membuat gigitan kecil, Nada yang sempat terkejut kini membalas ciuman hangat suaminya. Mereka meluapkan emosi dengan cinta. Menghilangkan sesak dengan sayang.


"Bagaimana dengan rencana selanjutnya?" tanya Radit. Nada mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Rencana apa?" tanya Nada.


"Aku pikir kamu bisa berubah pikiran, dan tidak jadi pergi."


"Aku harus tetap pergi, kau harus dihukum karna membohongiku. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, kamu tau Yang? Semuanya begitu tiba-tiba. Dan aku tidak bisa untuk menjabarkan bagaimana perasaanku," ucap Nada sambil mengusap air matanya. Radit menghela napas panjang, mungkin dia memang harus mem erj waktu pada Nada. Pada akhirnya Radit mengangguk pelan.


"Berapa lama? "tanyanya.


"Dua minggu," ucap Nada.


"Seminggu saja," Radit menawar.


"Sepuluuh hari" jawab Nada.


"Dua hari," jawab Radit lagi. Nada menatap wajah Radit. Dirinya merasa jengkel, kemudian berhambur kedalam pelukan Radit.


"Lima hari" ucap Nada sambil mengusap pelan pundak Radit.


"Aku tidak sanggup, Dear. Jangan meninggalkan aku terlalu lama," ucap Radit. Nada menghela nafas panjang, melepas pelukannya kemudian kembali menatap Radit.


"Kenapa selalu menawar? Kapan kita sepakat kalo begini? tanya Nada. Radit tersenyum tipis kemudian memandang ke arah Nada.


"Itu semua karna aku tidak sanggup kita berjauhan."ucap Radit lagi.


"Lima hari saja," rengek Nada.


Akhirnya. Radit tampak berpikir kemudian mengangguk pelan.


"Baik, aku akan mengantarmu besok ke rumah ayah dan ibu. Besok pagi pagi sekali," ucap Radit.


"Terimakasih Yang,"


"Sama sama Dear, maafkan aku." ucap Radit sambil mencium puncak kepala Nada dan perut Nada yang sudah tampak membuncit.


😘😘😘😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2