
Radit masih termenung di depan gedung apartemen yang menjulang tinggi. Pikiranya terasa berat. Sanggupkah dia hidup di antara kehidupan kakaknya dengan Amara?
Bagaimana bila imajinasi liarnya terhadap Amara menguasai dirinya dan tak sanggup mengontrol dirinya? Bukankah itu akan membahayakan hubungan baiknya dengan Micho? Radit mengusap kasar wajahnya, apa menjauh dari kehidupan Amara dan Micho adalah jalan terbaik? Lalu, bagaimana dengan ibu?
Radit memejamkan matanya rasa sakit dan terkejut bercampur menyesakkan dadanya. Bagaimana bisa dunia seakan sempit sekali? dari sekian banyak wanita yang kencan dan bersenang-senang dengannya kenapa harus wanita yang mencintai kakaknya yang bisa menggetarkan hatinya? Kenapa harus wanita yang ada hubungan dengan kakaknya? Bagaimana bisa?
Radit mengepalkan tangannya kuat, disaat yang bersamaan bayangan ibu kandungnya juga mengusik hatinya. Kenapa? Kenapa dia harus menjalani takdir yang seperti ini? Radit membuat satu pukulan di pohon yang kini ada di sampingnya. Darah segar mengucur deras dari sela jarinya, akan tetapi sakit di hatinya lebih menyakitkan dari luka di tangannya.
****
Di malam yang sama di tempat yang berbeda, seorang lanjut usia tengah bersandar di kursi kebesaranya. Walaupun usianya telah lanjut, tapi masih tetap terlihat sehat dan bugar.
Seulas senyum terbit dari bibirnya, sepuluh tahun cucunya pergi dari rumah dan enggan menggunakan fasilitas serta kemewahan yang ada. Lalu dengan tiba-tiba notif masuk dari ponsel milik Radit yang di pegangnya memberitahukan pengeluaran 1M?
Kakek Rey menekan ponselnya dan meminta Hendra Asisten pribadinya, beserta Dani, asisten pribadi Radit untuk datang ke ruangannya.
Tok... tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar, tak lama kemudian muncul dua orang laki-laki berbeda generasi masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf Tuan besar, ada apa kami dipanggil kesini?" tanya Hendra setelah sampai di depan Kakek Rey.
"Aku hanya ingin tau, apa yang dilakukan cucuku hari ini?" ucap Kakek Rey. Netranya memandang kedua orang kepercayaannya dengan tenang.
Pak Hendra tampak menatap ke arah Dani, semua yang berhubungan dengan Tuan Muda memang berada dalam tanggung jawab Dani.
"Tuan muda menggunakanya untuk ..." ucapan Dani terhenti, dirinya tidak enak untuk memberitahukan pada Tuan Besar jika kelakuan Radit selama ini begitu jauh dari kata baik.
__ADS_1
"Dani, apa kau mendengarku?" tanyanya lagi. Dani tersenyum kemudian memberitahukan sebuah Vidio kepada Tuan besarnya. Kakek Rey menyunggingkan senyumanya.
"Apa kebiasaanya selalu seperti ini?" tanya Kakek Rey lagi. Dani tidak bisa berbohong, pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Jadi Marvel mengambilnya untuk itu? Kenapa baru kali ini? Sepenting apakah wanita itu baginya, sampai-sampai dia mengistimewakannya," batin Kakek Rey.
"Okey Marvel, kita lihat saja kakek akan melakukan sesuatu." Seulas senyum dari bibir Kakek Rey kemudian meminta Dany dan Pak Hendra untuk kembali ke tempatnya.
"Apa yang kau pikirkan Kek? Tampaknya kau mempunyai cara untuk membuat perhitungan pada cucu kita," Nenek Amy yang baru saja datang tampak tersenyum ke arah Kakek Rey.
"Bukankah kau juga merindukan Marvel?" tanya Kakek Rey dan diangguki oleh Nenek Amy.
"Kita harus bekerja sama untuk itu," ucap Kakek Rey sambil tersenyum pula. Nenek Amy mengangguk pelan, kerinduanya pada cucunya membuat dirinya jatuh sakit beberapa hari ini. Sehingga dia menyetujui apa yang akan dilakukan suaminya.
"Rencana apa yang akan kau buat?" tanya Nenek sambil meletakan secangkir teh hangat di atas meja.
"Kau hanya butuh diam dan melihat apa yang akan aku rencanakan," lirih Kakek Rey sambil merangkul pundak belahan jiwanya.
🎀🎀🎀🎀
Kakinya yang semalaman tak bisa bergerak kini sudah membaik, tadi pagi Amara menghubunginya dan akan mengajaknya ke pantai. Namun, dirinya menolak karena kakinya terasa masih sakit. Sampai saat ini pun dia belum pulang ke rumah dan masih berada di apartemen.
"Apa Amara jadi ke pantai?" tanyanya pada dirinya sendiri. Nada mengambil ponselnya dan menekan kontak Amara.
Tak lama dari itu, layar ponselnya menampakan wajah cantik sahabatnya yang tampak ceria, tidak seperti kemarin yang mengenaskan dan menyebabkan dirinya berurusan dengan pria jahat. Mengingat itu, kini ingatanya melayang pada sosok pria yang menolong dirinya.
"Hai Asalamualaikum beb, jadi ke pantai?" tanyanya sambil bersandar di pinggiran ranjang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," Amara tersenyum dan memperlihatkan pantai di sepanjang jalan yang dia lewati.
"Indah sekali, sayang sekali aku tidak bisa ikut denganmu," ucap Nada tampak prustasi.
"Memangnya kenapa bisa terkilir? Apa kak Rafa tidak menjagamu dengan baik?" tanya Amara sambil tersenyum.
"Kau pikir aku bersamanya? Kau tau, aku mengalami hal yang menyedihkan semalam," ucap Nada.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Amara. Nada hanya diam, disamping Amara ada Micho, dan dia tidak enak untuk bercerita.
"Aku terpeleset, saat pulang dari apartemenmu tadi malam," ucap Nada.
"Kau pulang malam? bukan tadi pagi?" tanya Amara tampak terkejut. Nada mengangguk pelan.
"Hem,"
Lama mengobrol dengan Amara, pada akhirnya mereka mengakhiri pembicaraanya. Tak lama dari itu ponsel Nada kembali berdering. Ada satu nama yang membuat dirinya tersenyum. Nada menggeser ponselnya dan meletakan di telinganya.
"Asalamualaikum Kak Rafa," Nada tersenyum sambil meletakan tangan kananya di dada. Dia merasakan dadanya berdetak tak beraturan saat ini. Panggilan dari Rafa membuatnya berbunga-bunga.
"Waalaikumsalam, Nada. Apa kau sudah membaik?" tanya Rafa yang berhasil membuat Nada seperti melayang ke udara.
"Aku baik Kak," jawab Nada.
"Bisakah kita bertemu? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap Rafa di sebrang. Nada memejamkan matanya, rasanya jantungnya ingin melompat dari tempatnya.
"Aku..."
__ADS_1
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu," ucap Rafa kemudian menutup ponselnya. Nada mendadak mendapatkan suasana hati yang bahagia, hingga kakinya kini tak lagi merasakan nyeri.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀