Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 163


__ADS_3

"Selamat Siang Nona Angkuh," sapanya.


Deg, jantung Zifana berdetak kencang. Apa dia yang diajak bicara? Wajah sombongnya seakan hilang entah kemana, ingin rasanya menoleh tapi dirinya tampak ragu.



Delon menatap wajah di sampingnya dengan takjub. Tak disangka, wanita di sampingnya begitu cantik. Aish, cantik tapi angkuh dan sangat jutek sekali. Jahat dan berhati iblis.


"Tak disangka kita bertemu lagi disini, Nona sombong. Padahal niatnya mau aku bawa polisi ke rumahmu." Delon kembali pada posisinya, menatap ke depan sana. Zifana menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya, ada sahabat Radit di sini yang pandai sekali mengobrak abrik hatinya dengan kata tajam setajam pisau asahan.


Keduanya saling diam menghadap ke depan, keduanya saling diam. Bahkan Zifana masih berhutang nyawa pada lelaki di sampingnya, tapi untuk sekedar berterimakasih rasanya lidahnya begitu kelu. Kelu sekali, selama ini tak pernah dia temukan orang seketus orang yang ada di sampingnya.


Alhasil, Zifana memikmati pemandangan panggung megah yang begitu menyita perhatian itu. Harapanya hanya bisa bergabung dan bekerjasama dengan Sheyna bontique agar bisa membantu papanya. Orang disampingnya? Entahlah, anggap saja angin lalu yang tak ada gunanya untuk di dengarkan.


Zifana mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Sifa.


Nona, saya sudah hadir di acara ini. Saya duduk tepat di depan panggung. Saya menunggu untuk bertemu dengan anda dan ouner Sheyna Bontique nanti. Kirim


Okey Nona, setelah acara, kita berjumpa. Tunggulah. Sebentar lagi ounernya akan memberikan sambutan dan kita akan berbincang setelah itu. Jawab

__ADS_1


Mendapat balasan pesan, sudah seperti angin segar yang memberikan kesejukan. Zifana tersenyum tipis.


Di dalam ruangannya, Nada tampak memandang ke bawah, acara sudah hampir saja berakhir dan suaminya tak kunjung datang? Mau sampai kapan harus menunggu? Apa suaminya itu tak mau memberikan semangat untuknya? Nada memejamkan matanya.


Sifa yang sedari tadi melihat tingkah bosnya tampak mendekati Nada dan mengusap pelan pundak Nada.


"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Sifa.


"Mas Radit, kenapa dia tidak datang? Aku sangat mengharakan kehadiranya Sifa. Entah kenapa aku gugup, rasanya ingin dia ada di sampingku." Nada menatap ke arah Sifa dengan wajah yang gelisah.


"Kamu bisa, Nada. Aku yakin kamu bisa," ucap Sifa mencoba untuk menyakinkan Nada.


Di luar ruangan semua hadirin memperhatikan depan, semua menikmati acara dengan antusias. Pembawa acara membawa acara dengan baik dan sangat runtut. Sehingga sampailah pada acara inti, yaitu sambutan oleh owner Sheyna bontique kemudian istirahat.


"Untuk Nona Cantik Ouner Sheyna bontique, dengan segala hormat waktu dan tempat kami persilahkan." Pembawa acara mempersilahkan.


Nada yang berada di di dalam ruangan menoleh kepada Sifa. Mereka tampak saling berpandangan.


"Keluarlah, sudah di penghujung acara," ucap Sifa. Nada mengangguk pelan, menghela napas panjang.

__ADS_1


"Nona Cantik Ouner Sheyna bontique, dengan segala hormat waktu dan tempat kami persilahkan." Pembawa acara mempersilahkan lagi.


Dengan langkah tenang dan tampak elegan, Nada segera keluar dari ruangannya. Wajahnya yang cantik dan sangat mempesona terlihat berseri. Nada menapaki anak tangga dan berjalan menuju ke atas panggung.


Tak Tak Tak


Hentakan sepatu Nada tersengar nyaring, membuat hening suasana menjadi tampak teggang.


Mata semua hadirin berfokus ke atas panggung, ingin segera mereka mengetahui wajah yang sekian lama berada di balik layar.


Delon, menghela napas panjang. Radit memintanya ke sini? Siapa pemilik Seyna bontique?


Vino hanya diam. Nada akankah muncul? Bukankan waktu itu dia tidak muncul?


Zifana menatap ke arah panggung dengan antusias. Dia ingin tau wajah orang yang nanti akan berbincang dengannya.


Nenek Amy, Mama Mira juga antusias memandang ke atas.


Micel terdiam menatap sudut ruangan ini, sepertinya dia tak asing dan sangat dekat dengan ruangan ini.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2