Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 88


__ADS_3

Nada menyiapkan beberapa piring makanan di atas meja. Setelah berkutat dengan dapur setengah jam, pada akhirnya dia bisa menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Dari tangga atas terdengar hentakan kaki Radit yang kini tengah melipat lengan kemajanya.


Dengan mesra Radit memeluk erat Nada dari belakang dan mendaratkan ciuman pagi di pipi istrinya.


"Bisa lepaskan Yang? Aku tidak bisa bergerak," ucapnya sambil meletakkan piring.


"Aku lepaskan tapi ada syaratnya," Radit berkilah. Nada memutar tubuhnya sehingga mereka saling merapat dan sangat dekat.


"Apa lagi syarat konyol yang akan kamu ajukan?" tanya Nada sambil membenarkan dasi milik suaminya yang tampak berantakan. Radit tersenyum-senyum, dia seperti abg labil yang tengah jatuh cinta.


"Jangan hadir di Fhasion mode itu, Dear," pinta Radit sambil mengeratkan pelukannya pada Nada. Nada terkejut, namun segera dia menguasai hatinya. Nada tersenyum dan mengusap pelan wajah Radit. Dia tau, ada Vino yang ternyata adalah sahabat baik Radit. Cemburu? Nada tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Nada.


Radit memandang lekat wajah cantik Nada. Memandang setiap inci wajah istrinya dengan sayang. Vino? Tentu saja itu adalah alasan utama yang membuat dirinya takut membiarkan wanitanya yang sangat cantik ini untuk pergi.


Zifana? Desainer penuh dengan ambisi itu pastinya juga ada di sana, dan itu semua bisa jadi membahayakan keberadaan istrinya.


"Jangan pergi aku bilang," ucap Radit. Nada tampak kecewa. Tapi dia berusaha untuk mengendalikan suami tercintanya.


"Yang, tidak bisakah kamu membiarkan aku pergi sebentar saja?" tanya Nada penuh harap. Radit terdiam dan tak menanggapinya.


"Ini impianku," ucap Nada sambil mengusap pelan dada Radit, membuat Radit memejamkan matanya. Merasakan desiran cinta yang merayap dan menjelajahi hatinya.


"Dear, ada Vino disana. Apa kamu memang sengaja ingin menggodanya?" ucap Radit sambil memandang wajah Nada yang sangat ayu itu.


Radit menatap dengan tegas, seakan menegaskan pada Nada bahwa dialah pemilik hatinya dan segala yang melekat padanya.


"Apa yang kamu takutkan Yang? Hatiku milikmu, lalu apalagi?" tanya Nada.

__ADS_1


Radit memejamkan matanya. Pantaskah dia menekan Nada? Bukankah kafir Nada ada jauh sebelum mengenal dirinya?


"Kamu bisa menyuruh asistenmu itu, kalau perlu biar Dani yang membantu," ucap Radit sambil memegang kedua pipi Nada.


"Dani? Bukankah dia masih ada di negara sebrang?" tanya Nada.


"Dia bisa datang kapanpun bila aku memintanya," ucap Radit lagi.


"Sarapan dulu, berdebat nanti. Aku masak makanan kesukaanmu," ucap Nada sambil mengusap pelan dada Radit. Radit tersenyum kemudian mendudukan Nada di kursi depannya.


"Suapi aku," pinta Radit. Nada menghela napas kasar. Sepertinya dia sudah serasa memiliki bayi. Aish, bayi? Bahkan malam pertamanya saja masih tertunda.


"Yang, apa yang kamu pikirkan? Suapi aku," ucap Radit dan diangguki oleh Nada.


Radit menarik kursi dan duduk. Nada memberikan suapan pertama, Radit tampak menikmati makanan itu.


"Kamu tau, belum apa-apa aku sudah seperti memiliki bayi, bayi besar yang tampan," ucap Nada sambil terkekeh geli. Radit terkesiap dan memandang perut rata Nada. Membuat Nada menutup mata Radit dengan kedua tangannya.


"Ya, sebentar lagi aku pastikan akan ada nyawa di sini. Kamu akan memiliki dua bayi, bayi besar dan kecil," bisik Radit di telinga Nada sambil mengusap pelan perut Rata Nada. Aish, bulu kuduk Nada merinding, seperti ada setan yang meniup. Nada seketika berdiri, dipastikan wajahnya merah merona.


Radit terkekeh, Nada-wanita galak itu ternyata begitu manis. Bahkan dia mempunyai sejuta pesona yang mampu menggapai cintanya. Radit berdiri kemudian mencium puncak kepala Nada.


"Jangan dipikirkan, aku bercanda. Sebulan atau beberapa bulan, yang pasti kita akan melewati malam panjang untuk pemrosesannya," ujar Radit lagi. Nada mendorong tubuh Radit dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ah, dia sangat malu.


"Yang, jangan mesum. Aku malu," ucap Nada. Radit terkekeh dan mengusap puncak kepala Nada.


"Kamu istriku, kenapa malu. Kamu sangat istimewa, bahkan aku takut kamu akan pergi karna aku tak layak di sampingmu, " ucap Radit terdengar melow. Bahkan, suara Radit mampu menghentikan rasa malu Nada.


Entah, sepertinya Nada belum benar-benar mengenal Radit. Pasti, ada suatu kejadian yang membuat dirinya seakan memiliki dua kepribadian.

__ADS_1


Nada menatap Radit yang tampak bersedih, dia mengusap wajah tampan suaminya itu dan menatapnya dengab tenang.


"Jangan berpikir seperti itu, aku milikmu. Jika aku tidak boleh pergi tidak masalah, aku akan dirumah, aku akan..." sebelum Nada melanjutkan perkataannya Radit menyambar mulut mungil istrinya dan melu*at dengan hangat, Radit merapatkan tubuhnya dan merayapkan tangannya menjelajahi ladang miliknya.


"Ahk," desis Nada kemudian Radit menyeringai dan melepaskan Nada.


"Aku berangkat, pergilah. Aku mengijinkanmu," Pakai mobil ini," ucap Radit sambil meletakkan kunci di tangan Nada. Nada tampak mendadak beg*k. Aish, sepertinya dia bisa gila menghadapi mantan Casanova yang dimabuk cinta itu.


"Aku boleh pergi? tanya Nada meminta izin kembali. Radit memejamkan matanya.


"Boleh, sebelum aku berubah pikiran," ucap Radit. Nada tersenyum dan mencium tangan Radit.


"I love you," ucapnya.


"I Miss you," jawab Radit.


"I need you," balasnya lagi.


"Sepertinya kita harus membuat panggung untuk konser bersama Yang," ucap Nada. Radit mengacak puncak kepala Nada yang berkerudung dan melangkah, Nada mengikuti Radit sambil membawa tas kerja Radit.


"Hati-hati,"ucap Nada sambil menyerahkan tas tangannya pada Radit ketika di depan pintu.


"Hem, kamu juga. Aku berangkat, assalamualaikum," ucap Radit kemudian melangkah pergi.


Nada tampak terbengong di dipan pintu, memandang punggung suaminya yang menjauh. Apa tadi? Assalamualaikum? Nada memejamkan matanya, meletakan kedua tangannya di dada.


Bahagianya dirinya saat ini, pernikahan yang terjadi karna sebuah keterpaksaan, kini membuahkan kemanisan.


"Semoga selalu seperti ini ya Allah, amin," ucap Nada lirih.

__ADS_1


😍😍😍


__ADS_2