Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Bukan permainan


__ADS_3

"Ayo!" tanpa ragu Vino menarik tangan Micel yang kini terdiam karna ucapannya. Micel menarik tangannya dan menatap ke arah Vino yang berdiri.


Menikah di usia dini sebenarnya masih menjadi keraguan baginya, apalagi benteng kepercayaan pada Vino seakan telah terkikis oleh ketidak hadiran Vino dua hari yang lalu. Dan sekarang Vino datang membawa harapan yang saat itu sempat menyesakan dadanya? Micel menghela napas panjang. Ingatannya yang sangat terbatas membuat dirinya semakin ragu.


Netranya menatap Vino dengan sorot mata tajam, ucapan Vino yang mengatakan bila dirinya sangat mencintai Vino masih menyisakan tanya. Seperti itukah kebenaranya? Bahkan memang melihat Vino sangat membahagiakan dirinya. Akan tetapi kenapa keraguan itu masih menyisa?


"Apa lagi Baby?" Vino mendesak seakan waktunya sudah tak ada lagi. Yang benar saja, dia melihat beberapa orang dengan tubuh besar berada di arena parkir.


Micel terdiam dan masib menatap ke arah Vino dengan segala rasa yang mengganjal.


"Maaf Kak, tapi aku tidak bisa percaya padamu," ucapnya sambil menarik tangannya dengan cepat. Vino memejamkan matanya, kenapa Micel yang hilang ingatan sukar sekali dibujuk? Bukankah memang wanita itu sangat memuja dirinya?


"Kau meragukanku?" tanya Vino.


"Aku tidak bisa percaya, pernikahan bukan mainan dan aku tidak bisa menerimanya saat ini," jelas Micel dengan tegas.


Disaat yang bersamaan, Vino melihat beberapa orang semakin mendekat. Tak tau lagi bagaimana caranya untuk membujuk gadis kecil itu, seketika Vino mengangkat tubuh Micel dan membawanya ke arah parkiran.


Micel yang terkejut melingkarkan tangannya di leher Vino, mencoba memberontak pun percuma, kekuatanya tak tak seimbang dengan kekuatan Vino.

__ADS_1


Vino mendudukan Micel di jok mobil, dengan gerakan cepat dia berlari menuju ke arah kemudi. Tak lama kemudian, Vino menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Micel memejamkan matanya, dirinya merasa panik. Ada apa ini? Netranya melirik ke arah sepion, dilihatnya dua mobil mengejarnya dan berusaha untuk mendapatkan keduanya.


"Kak, ada apa?" tanya Micel dengan panik.


"Diamlah," jawab Vino.


Vino terus saja mengawasi pergerakan beberapa mobil di belakangnya dari kaca sepion. Vino kembali menambah kecepatan mobilnya sehingga mobil di belakangnya ikut bertambah.


Micel lagi-lagi memejamkan matanya, rasa takut dan was-was menggerogoti hatinya.


Vino enggan menjawab, Dia terus saja menghindar enggan untuk meladeni pergerakan dua mobil di belakangnya. Vino mengeluarkan alat komunikasi dan menaruh di telinganya. Dia mencoba menghubungi Wili dan Rendi, dua orang kepercayaan keluarganya.


Vino menghentikan mobilnya ketika dua mobil itu telah mengepung mobilnya. Beberapa orang dengan sragam identitas yang tak asing berhamburan ke luar dari mobil. Micel tampak terkejut dan menutup mulutnya.


"Micel, jangan keluar. Tetaplah di sini," pintanya pada gadis cantik yang kini terlihat ketakutan itu.


"Tapi, Kak," sahut Micel.

__ADS_1


"Aku mohon Baby, Aku akan melawan mereka." ucap Vino.


Micel hanya bisa terdiam, netranya melihat pertandingan enam orang melawan satu orang saja. Micel mendapati wajah tenang Vino yang menghadapi mereka.


Vino membagi tendangan dan pukulan, hingga Menumbangkan tiga lawan, namun beberapa orang menyerang dari belakangnya dan membuat Vino tersungkur. Micel tampak tak kuat lagi. Dia menghubungi ponsel Radit, yang benar saja Radit tak mengangkatnya. Micel menghela napas panjang. Jika bersama dengan kakak iparnya, dipastikan kakaknya itu tidak bisa diganggu.


"Menyerahlah dan ikut kami, Tuan. Jika kau masih sayang dengan Nyawamu," ucap salah satu diantara dua orang yang masih berdiri.


"Cih, apa kau tidak takut terkapar seperti temanmu? Menyingkirlah!" ucap Vino dengan suara beratnya.


"Jangan sombong kau Tuan!" bentak orang itu juga, Kedua orang itu maju bersamaan. Menyerang dan terus memberikan tendangan. Satu tendangan berhasil mengenai dada Vino, membuat dirinya mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya.


Tak mau kalah, Vino kembali memberikan tendangan dan pukulan hingga membuat dua orang yang menyerangnya tersungkur.


Vino terkejut saat melihat orang yang tersungkur di depanya kembali bangun. Lagi-lagi mereka kembali bangkit dan mengelilingi Vino.


Di tengah kepanikannya, Micel merasakan kepalanya yang sangat berat. Seperti ingin membantu. Bahkan dirinya merasa dia sering melakukan pertarungan seperti itu. Bayangan tak jelas menjelajahi otaknya, Tuhan apa ini? Batin Micel menjerit sambil terus saja memegang kepalanya yang sakit dan tak kunjung reda.


🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2