
Nada tersenyum dan mengusap pelan dada Radit. Bertemu nenek mertua? Lalu siapa lagi? Ah, Nada merasakan deguban jantung yang tak beraturan.
"Benarkah?" tanya Nada.
Nada melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Nada menatap lekat wajah Radit yang begitu tenang. Tetapi dirinya seakan terjebak dalam kegugupan.
"Sebaiknya kita masuk." Radit menggenggam tangan Nada dan mengajak wanita cantik itu masuk ke dalam mansion mewah itu.
Tanpa meolak, Nada mengikuti langkah Radit yang kini melewati pintu masuk. Beberapa pelayan berjejer rapi menyambut kedatangan kedua orang itu. Tuan mudanya membawa wanita? Siapa itu? Kenapa sepesial sekali? Radit tak pernah sekalipun membawa seorang wanita ke rumah ini.
"Dimana nenek?" tanya Radit saat melewati para pelayan itu.
"Nyonya besar ada di ruang santai, bersama Tuan Besar, dan Nyonya Mira," jawab yang paling ujung.
Radit membawa Nada melewati beberapa ruangan yang begitu megah dengan arsitek yang indah. Jantung Nada berdetak tak beraturan saat Radit membawanya ke arah tiga orang yang tengah berbincang hangat di ruang keluarga.
"Selamat malam." Radit menyapa sehingga tiga orang yang tengah berbincang itu menoleh bersamaan. Ketiga orang itu berdiri, Nada memejamkan mata sejenak menatap ke arah kakek yang pernah bertemu dengannya. Dan dia mengedar pandangannya ke arah dua wanita yang berdiri di samping kakek.
Deg,
Jantung Nada seakan bermaraton ketika pandangan matanya bertemu dengan pandangan dua orang yang menampakan senyum, tetapi senyuman itu memudar setelah beberapa saat. Tergantikan dengan sorot mata yang tak bisa diungkapkan dengan kata.
Mira, wanita itu menatap Nada. Kilasan beberapa kejadian berputar di otaknya. Ya, dia ingat betul wajah wanita yang pernah membuat dirinya terhina beberapa hari yang lalu.
Nenek Amy memandang Nada, ada rasa kagum pada kecantikan paras wajah cantik itu. Tapi dia terkejut saat melihat gadis ceroboh beberapa hari yang lalu yang pernah di temuinya.
__ADS_1
"Nek, dia Nada. Istriku," ucap Radit sambil melepaskan tangan Nada dari genggamannya kemudian menghampiri neneknya dan menciumnya.
"Kakek bilang nenek sakit, tidak mau makan dan kakek bilang juga nenek hanya mau makan makanan masakan istriku, apa benar begitu?" tanya Radit.
Nenek yang semula terdiam kini menatap Radit dengan tenang.
"Dia istrimu?" tanya neneknya. Radit memandang Nada, kemudian memandang kembali ke arah nenek dan kakeknya.
"Ya, statusnya adalah istriku, sampai beberapa waktu yang aku mau. Nenek bisa meminta apapun makanan yang nenek suka darinya," ucap Radit sambil menatap ke arah neneknya dengan bahagia.
Deg,
jantung Nada terpompa dengan cepat, hatinya merasakannya sesak yang amat sangat. Kenapa dia bisa berharap lebih pada manusia yang memang menikah dengannya hanya karna sebuah proyek? Air mata Nada luruhlah sudah. Rasa sesak menghujam batinya.
Ada seluas senyum dari sudut bibir Mira yang terukir. Kini dia yakin bahwa memang putranya itu menikah kontrak saja. Nenek Amy memandang Nada. Dia tau gadis cantik itu terluka.
"Nada, kau bisa berbincang dengan mereka. Kamar tamu ada di lantai dua, kau bisa meminta pelayan untuk mengantarmu kesana nanti," ucap Radit sambil mencium pipi neneknya kemudian melenggang pergi.
Ya, memang Radit tidak pernah tidur di kamarnya. Ada segudang kenangan bersama ayahnya sehingga dia memilih tidur di kamar tamu. Tapi sayang, ucapan itu di sangka lain oleh Nada.
Deg, kamar tamu? Apa begitu tidak berarti dirinya sehingga Radit menempatkannya di kamar tamu? Nada yang menunduk kini mengusap air matanya. Nada melangkahkan kaki memdekat ke arah tiga orang di depannya. Kakek mengusap pelan pundak Nada. Nada mengulurkan tangan dan mencium telapak tangan kakek.
"Berbincanglah dengan nenek dan juga ibu mertuamu, kakek pergi dulu," ucap kakek kemudian melenggang pergi.
Kini, tiga wanita berbeda generasi itu saling berpandangan. Nada mengulurkan tangannya pada Nenek, nenek Amy sangat tidak suka kecerobohan sehingga waktu itu terbawa suasana dan tampak acuh pada Nada. Tapi, kemampuan masak Nada yang enak menjadi sebuah pertimbangan untuk menilai kembali Nada.
__ADS_1
Menilai seseorang, tidak dilihat dari satu sisi saja. Ada beberapa sisi yang harus dipertimbangkan. Jangan mudah untuk termakan omongan manusia, kenali dan buktikan sendiri.
Nenek Amy membalas uluran tangan Nada dan mengusap pelan pundak cucu menantunya.
"Assalamualaikum, nenek," sapa Nada dan diangguki oleh nenek Amy. Nada berlalu dan kini mengulurkan tangan pada Mira yang kini memandangnya dengan sinis.
"Berapa uang yang kau dapat untuk menjadi istri dari putraku? Benarkan, kau itu wanita rendahan. Menolak pemberianku waktu itu, setelah mengetahui aku, kau menggait dan menggoda putraku? Sangat mencengangkan," ucap Mira sambil menepis tangan Nada. Dia melirik ke arah Nada yang memakai baju kekinian dan tampak cantik di badannya. Berbeda sekali dengan waktu itu.
"Sepertinya kau sudah banyak menerima uang dan berfoya-foya dengan uang anakku. Dasar wanita rendahan, aku pastikan kau tidak akan lama berada di samping marvel," ucap Mira. Nada memejamkan matanya, rasa sesak menyeruak di dadanya. Beginikah nasipnya?
"Mira, jaga ucapanmu. Dia istri putramu," tegas nenek. Mira tampak kesal kemudian melangkah pergi.
Nenek mengusap pundak Nada dan memandang gadis cantik di depannya.
"Istirahatlah dulu, biar pelayan mengantarkanmu ke kamarmu," ucap nenek.
"Bukankah nenek harus makan?" tanya Nada. Nenek tersenyum dan menatap cucu menantunya.
"Besok saja, istirahatlah dulu,"
"Bi, antar nona muda ke kamar," ucap nenek kemudian melenggang pergi.
Seorang pelayan mengantarkan Nada ke kamar yang di tunjuk Radit tadi.
😢😢😢😢😢
__ADS_1
Sedihkan jadinya?
Hai, sambil nunggu up. Kalian bisa baca juga karya Author yang lain. Sampai akhir nanti dulu, baru aku bukan musuhmu. Tak kalah menarik kok. Bima-Zahira, Sabrina-Andika, Amara dan Micho.