
Radit melepaskan kaca mata, netranya menatap bidadari berkerudung yang tampak cantik saat menatap ke arahnya. Hembusan angin malam menerbangkan jilbab Nada, membuat Radit tampak terpesona.
Keduanya saling menatap, segera Nada berjalan ke arah Radit dan berhenti setelah beberapa langkah ada di depannya.
Nada tersenyum pada manusia tampan yang kini bersandar di pintu mobil sambil meletakkan kedua tangannya di saku celana. Hembusan angin membuat rambut pendeknya bergoyang sehingga membuat dirinya semakin terlihat tampan.
"Assalamualaikum, Yang."
"Selamat malam Dear,"
Nada dan Radit berucap bersamaan, keduanya terkekeh bersama pula.
"Berangkat sekarang?" tanya Nada.
"Apa mau besok pagi?" sahut Radit sambil berdecak.
"Micel ikut kita," ucap Nada saat Micel kini berada di dekat Nada.
"Aku bilang suruh dia pulang," ucap Radit dingin.
"Tapi yang," sanggah Nada.
__ADS_1
"Aku atau dia yang pergi?" tanya Radit dengan nada kasarnya. Micel tersenyum ke arah Nada kemudian mengusap pipi cantik Nada.
"Jangan mengkhawatirkan aku, Kak. Aku bisa pulang sendiri, aku yang seharusnya menghawatirkan keselamatan kakak. Karena bersama manusia sepertinya," ucap Micel sambil melirik ke arah Radit yang tampak tak suka dengan keberadaan Micel.
"Hati-hati, Micel." Nada mengusap pelan pundak gadis 18 tahun itu.
"Hem."
Micel melangkah pergi, Radit dan Nada menatap punggung gadis 18 tahun itu dengan tenang. Radit menghela napas panjang. Membenci Micel? Apa dibenarkan?
"Masuk," Radit membuka pintu untuk Nada. Nada melangkah dan duduk dengan tenang di dalam mobil. Netranya mengamati Radit yang kini mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Suasana hening tak ada perbincangan antara sepasang suami istri itu.
"Jika yang kita lihat adalah sebuah kesalahan, maka sampai kapanpun kesalahan tetap salah. Karna kesalahan adalah hal yang lalu dan tidak bisa di putar kembali. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki ke depanya. Bukan membuat semuanya berlarut," ucap Nada sambil memandang ke arah Radit yang seakan tak menanggapi ucapannya.
"Apa sudah selesai berbicara? Hemm??" tanya Radit. Nada memejamkan matanya, sepertinya harus pelan dia berbicara dengan Radit. Radit mempunyai suasana hati yang cepat sekali berubah.
"Dia adalah salah satu alasan papaku tak ada di dunia ini, lalu apa aku harus berbaik hati padanya begitu?" tanya Radit. Nada mengarahkan pandangannya pada Radit. Alasan papa Radit meninggal? Lalu, siapa papa Micel?
"Kalian berbeda ayah?" tanya Nada.
__ADS_1
"Keberadaan papanya membuat keluargaku dalam kehancuran," ucap Radit.
"Lantas kenapa kamu membenci dirinya? Bukankan kamu tau jika Micel tak tau apapun," ucap Nada. Radit terdiam, dia menatap ke depan.
"Mungkin, wajar jika kamu marah pada mama. Tapi, aku pikir tak seharusnya kamu marah pada Micel. Micel tak pernah bisa memilih dari mana dan dimana dia lahir. Jika dia bisa memilih, mungkin tidak akan dia memilih lahir dari rahim yang sama denganmu, tetapi berbeda ayah," ucap Nada. Nada mengarahkan pandangannya ke depan. Radit menghentikan mobil di pelataran apartemennya yang berdekatan dengan apartemen Arfan.
Radit memandang ke arah Nada yang tampak terdiam dan menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ucapan halus Nada mampu merasuki reluk hatinya dan mampu menggetarkan jiwanya.
"Dear," Radit menoleh dan mengamati wajah cantik yang kini menoleh ke arahnya.
"Hem," sahut Nada.
"Terimakasih," ucap Radit sambil menatap kedua bola mata indah Nada.
"Untuk?" tanya Nada.
"Untuk celotehmu yang membuat telingaku sakit,"🤣 ucap Radit sambil membuka pintu dan keluar dari Mobil.
Nada membelalakkan matanya, dia pikir akan mendapat tanggapan yang menyenangkan. Tapi, apa tadi? Aish kenapa tanggapan Radit begitu membuatnya sebal. Nada turun dari mobil dan mengikuti langkah Radit dibelakangnya. Saat ia hampir memencet lift, dari dalam keluarlah segerombol orang. Netra mereka saling beradu.
"Nada, Marvel?" 🙈🙈🙈🙈
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗🤗