Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 84


__ADS_3

"Wanitaku?" lirih Delon.


Radit tampak terkejut dan memejamkan matanya. Radit melepas cengkeraman dari kerah Delon. Delon mengibaskan jasnya dengan elegan. Tangan kananya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Apa maksud dari semua ini Marvel?" Delon menatap Radit yang masih tampak emosi, Radit menatap ke arah Nada dengan sorot mata yang tidak bisa untuk diterjemahkan.


Nada juga menatap bergantian ke arah Radit dan Delon, dipastikan mereka adalah sahabat. Nada memejamkan matanya, tak mungkin Radit akan mengatakan kebenaran. Dadanya terasa sesak. Dia tak mau terluka lebih dalam lagi karna tak diakui Radit. Nada melangkah pergi dengan tergesa.


"Apa maksud dari semua ini Marvel?" sentak Delon. Radit menggeleng pelan.


"Aku akan menjelaskan nanti, aku harus mengejarnya," ucap Radit kemudian berjalan tergesa mengikuti langkah Nada.


Delon menghela napas panjang, apa yang terjadi? Delon juga mengikuti langkah kedua orang itu.


"Hentikan langkahmu Nona Nada," Sentak Radit dengan suara lantangnya. Nada tak kuasa lagi melangkah. Nada menghentikan langkahnya. Radit berjalan mendekati Nada dan berdiri di depan wanita cantik yang sangat dia rindukan.


"Apa yang kamu mau?" tanya Nada di sela isak tangisnya.


"Mau kemana kamu? Kamu harus bertanggung jawab atas ulahmu," ucap Radit sinis.


"Apalagi yang harus aku lakukan? Bukankah aku sudah melakukan semua yang kamu mau? Aku lelah, biarkan aku pergi!" ucap Nada sambil mengusap air matanya.


Deg, Radit merasakan sakitnya diabaikan Nada. Nada marah? Apa salahnya?


"Kenapa kamu marah? Seharusnya aku yang marah!" sentak Radit.

__ADS_1


"Bukankah memang marah sudah menjadi kebiasaanmu? Kenapa harus bertanya? Marah ya marah saja," sentak Nada. Radit tampak mengepalkan tangannya. Ada apa dengan Nada?


"Kau, tak puas kamu berduaan dengan Rafa. Lalu, kau juga perpegangan tangan dengan Delon. Lalu, seenaknya kau marah-marah tak jelas? Aku yang seharusnya marah, istri macam apa kau ini?" sentak Radit.


Nada memejamkan matanya. Satu tamparan tangannya melayang ke arah pipi Radit. Rasanya kesabarannya sudah habis. Radit mengepalkan tangannya. Apa yang terjadi?


"Jangan menuduhku!" ucap Nada.


"Tapi bukankah itu kenyataannya?" sentak Radit . Nada menghela napas panjang. Seharusnya dia bahagia, ternyata Radit perduli dengannya. Lalu, kenapa nama Amara seakan membuat dirinya ragu untuk tetap berada di samping Radit?


"Kalau memang iya kenapa? Bukankah itu bukan urusanmu?" tanya Nada lagi.


Radit tampak menahan emosi, dia melangkah maju. Nada benar-benar menguji kesabarannya. Nada ikut memundurkan langkahnya, Radit menekan pundak Nada sehingga istrinya memejamkan matanya menahan sakit.


"Kau berani bermain di belakangku?" tanya Radit. Radit terus maju hingga Nada membentur dinding. Keduanya saling menatap penuh emosi.


Radit menatap Nada dengan tenang, diraihnya Dagu Nada dengan tangan kananya. Keduanya saling menatap lekat, saling beradu, menutupi cinta dengan emosi.


"Jangan berani untuk berselingkuh di belakangku, Nona Nada. Kau milikku dan selamanya akan seperti itu," ucap Radit dengan tegas. Tatapan matanya seakan menjawab pertanyaan Nada.


Deg, jantung Nada bergetar hebat. Tapi, Nada seakan masih tak puas dengan apa yang diucapkan Radit. Nada mendorong tubuh Radit. Namun percuma, Radit meraih pinggang Nada dengan tangannya yang berlumuran darah. Tangan satunya kembali meraih dagu Nada.


Radit memiringkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Radit memberikan c*uman lembut di bibi* Nada. Meluapkan segala emosi dengan cinta dan menahan amarah dengan sayang. Nada mengalirkan air mata, tetapi dia merasakan kenyamanan di dalam hatinya. Aish, bahkan mereka lupa ini bukan di privat room meski tak ada orang.

__ADS_1


Nada mencoba mendorong Radit, Radit melepas ciuman manis itu, tangan kanannya mengusap air mata Nada, menatap wajah cantik yang tampak sembab itu.


"Bukankah kau tak pernah mendapatkan ciuman dari mereka?" tanya Radit sambil menerbitkan senyum di sudut bibirnya. Nada membelalakkan matanya, wajahnya merona merah. Dipastikan Radit tau dia memang tak pernah sekalipun ciuman dengan lelaki lain.


Nada mendorong tubuh Radit hingga menjauh, Radit mengejar langkah Nada dan mengangkat tubuh wanita miliknya itu. Nada terkejut dan melingkarkan tangannya di leher Radit. Keduanya saling menatap lekat.


Radit berjalan membawa Nada ke arah ruangan VVIP yang di pesan Nada. Sebelum mengejar Nada tadi, dirinya sempat melirik makanan yang masih utuh di sana. Dia tau, istrinya telah membohonginya.


Radit menatap wajah Nada, begitupun sebaliknya.


"I never believed in love before i saw you. Never believed in marriage before i spoke with you but now i do believe in life because have you." lirih Radit. Nada memejamkan matanya. Apa tadi?


(Aku tidak pernah percaya pada cinta sebelum aku melihatmu. Tidak pernah percaya dalam perkawinan sebelum berbicara denganmu, tetapi sekarang aku sangat percaya dalam hidup karena aku memiliki kamu.)


Nada membuka matanya dan menatap ke arah Radit dengan tenang.


"Masih tak terima? Apa aku harus tetap bilang I Love you begitu?" sinis Radit. Nada terkekeh kecil dan mengusap sudut bibir Radit yang berdarah.


Keduanya sampai di ruangan itu, Radit mendudukan Nada di salahsatu bangku.


😘😘😍😍😀


Diluar sana, Delon tampak menghela napas dalam-dalam. Dia yang khawatir pada Nada dan Radit mengikuti langkah keduanya. Bahkan dia juga menyaksikan adegan dewasa tadi. Lalu, apa hubungan keduanya benar-benar sejauh itu? Nada bukan wanita murahan. Lalu, bagaiamana bisa pernikahan itu terjadi? Bagaimana dengan Vino? Apa tidak akan merusak persahabatan mereka? Aish, Delon tampak mengusap kasar wajahnya.


"Marvel, kau berhutang penjelasan padaku."

__ADS_1


😀😍😍😍😍😍


cielehhhh....Radit Nada.. jelek. Lik komen yak. banyak aku up lagi.


__ADS_2