
Orang itu membuka topinya dan menatap Nada dengan tenang.
Nada membelalakkan matanya saat dirinya melihat dengab jelas manusia tampan yang kini ada di depannya. Aish, ada julukan tambahan manusia tampan yang posesif dan sangat menyebalkan. Bagaimana bisa Radit merecokin nya? Dia ingin sekali menyapa mertuanya dan Radit sengaja merusaknya?
Nada mendorong tubuh Radit yang kemudian menjauh dari dirinya. Rasa sebal menggelayuti dirinya. Nada memutar langkahnya hampir saja pergi, namun Radit menarik tangan Nada sehingga keduanya saling berhadapan.
"Mau kemana?" tanya Radit dengan tegas.
"Pergi, bisakah memberi aku sedikit ruang. Ini impianku dan kamu merusak semua imajinasiku? Ini sangat memuakan, bercandamu tidak lucu Yang," ucap Nada diselimuti dengan rasa kecewa yang dalam.
Radit memejamkan matanya dan menatap Nada dengan bangga. Radit menangkup ke dua pipi Nada dan memandang wajah yang kini tampak jengkel itu.
"Aku membiarkanmu kesini, membiarkanmu menikmati kebahagiaan dan membiarkanmu mendapatkan keberhasilan. Lalu, impian mana yang aku hancurkan? Hem?" tanya Radit dengan tenang.
"Atau impian di lihat para lelaki kemudian kamu merasa aku menghalangimu dilirik lelaki lain begitu? Kau istriku, jika ingin menampakan dirimu kenapa tidak sejak dulu? Selama ini kamu hanya di balik layar, dan setelah kamu berhasil menggenggam dunia kamu akan muncul? Tidak bisakah kamu berfikir, bagaimana jika dengan kemunculanmu malah membuatmu dalam bahaya?" tanya Radit lagi sambil melepaskan kedua tangannya dari pipi Nada.
"Jika kamu merasa bahagia bisa memperlihatkan dirimu ke sana, maka aku akan mengizinkanmu," ucap Radit kemudian melangkah pergi menuju ke arah jendela dengan wajah kecewanya.
Nada tampak memejamkan matanya, kenapa rasa sombong menyelinap masuk dalam benaknya? Dia ingin membuktikan siapa dirinya di hadapan mertuanya, tapi melupakan segala komitmen yang dia pegang sejak dulu? Aish, Radit marah? Nada mengejar langkah Radit yang hendak melompat ke luar jendela.
Jadi, apa begini usaha Radit untuk bisa menjangkau dirinya dan mencoba menyelamatkannya? Aish, kenapa dia marah jika Radit hanya menunjukkan cintanya? Bukankah ini yang dia mau?
"Yang, jangan pergi," ucap Nada saat Radit hampir saja melompat, merayapi dinding lantai tiga itu.
"Cari kebahagiaanmu, bukankah aku hanya perusak imajinasimu?" Nada memejamkan matanya. Hatinya terasa sesak mendengar ucapan Radit. Aish, apa dia keterlaluan?
"Yang, aku minta maaf. Aku hanya ingin berbincang dengan mama, itu saja. Aku tidak bermaksud untuk memperlihatkan apapun di depan khalayak," ucap Nada lagi.
Radit seakan tak mau mendengar dan menapakan kakinya untuk tetap turun. Nada memejamkan matanya dan mengangkat kakinya keluar dari jendela.
"Aku ikut lompat kalau kamu tetap pergi," ucap Nada dengan tegas. Radit terkesiap kaget dan menatap Nada yang bersiap untuk mengikuti jejaknya. Aish, Radit menghentikan aksinya dan kembali ke atas. Nada, wanita itu selalu bisa mengendalikan dirinya.
Kini Radit kembali naik dan merayap di pinggiran dinding kemudian menyambar tubuh mungil istrinya kembali ke dalam ruangan.
Radit menurunkan tubuh Nada dan menatap lekat wajah cantik yang kini tampak khawatir itu.
"Jangan mencoba untuk mengancamku. Kau tau, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu," ucap Radit dengan tegas. Jatuh cinta? Ya, cinta Nada membuat dirinya jauh lebih baik. Bahkan, dia benar-benar tidak bisa lagi berpaling dari mahkluk cantik itu.
Nada merasa tersentuh, benar dia Raditkan? Seorang pemain wanita yang berkali-kali berganti wanita? Bahkan beberapa minggu ini, benar-benar Nada tak lagi menemukan bekas lipstik di bajunya.
__ADS_1
Nada melangkah maju, berhambur ke dalam pelukan Radit yang kini berdiri di depannya. Radit memejamkan matanya. Sentuhan Nada membuat segala kegundahan, keresahan dan emosi hilang musnah entah kemana.
"Aku minta maaf, okey aku tidak akan menampakan diri," ucap Nada dengan kelapangan hati.
"Kamu ingin berbincang dengan wanita itu? Kamu ingin menunjukkan siapa dirimu? Lakukan saja, kamu istri sah dari Marvel Raditia Dika, kamu bebas melakukan apapun di Mansion itu. Bukankah pengakuanku sudah lebib dari cukup memberimu kekuatan?" tanya Radit pelan. Nada mengangguk pelan.
Radit melepas pelukan Nada dan menatap istrinya itu penuh cinta.
"Nenek merindukanmu, apa kamu mau pulang sekarang? ikutlah denganku," ucap Radit.
"Aku bawa mobil," ucap Nada.
"Biarlah orangku yang akan mengurusnya." ucap Radit dan diangguki oleh Nada.
"Aku tunggu di bawah," ucap Radit kemudian melangkah ke jendela. Nada menatap ke arah Radit dengan was-was.
"Nada,"
Deg, suara itu membuat Nada terkejut. Bagaimana jika mereka melihat Radit? Aish, Nada menutup jendela dan memutar langkahnya menatap ke arah Emily, Vino dan Sifa bergantian.
"Apa yang kamu lihat di bawah?" tanya Emyli. Nada memejamkan matanya, dia tidak bisa menyembunyikan ke kawatirannya pada suaminya.
"Kucing?" tanya Emyli lagi.
"Hem, kucing," sahut Nada sambil mengusap kepalanya yang tidak gatal.
Emily melangkah dan menuju ke ke jendela. Nada tampak memejamkan matanya kembali. Bagaimana jika Radit belum sampai ke bawah? Entahlah.
"Mana kucingya Nad? Tidak ada apapun," ucap Emily. Nada menghela napas lega. Setidaknya Radit sudah selamat sampai bawah.
"Tadi di situ," jawabnya santai.
"Jadi hanya karna kucing, sehingga kamu tak naik catwalk?" tanya Vino sambil menatap ke arah Nada. Nada tersenyum, ya gara-gara kucing. Kucing lapar, lebih tepatnya. 😀😀.
"Maaf, aku hanya tidak biasa. Sifa yang selalu mewakili," ucap Nada. Nada melirik Sifa yang membawa piala bergensi itu.
"Terimakasih Vino dan Emily, tanpa kalian aku tidak bisa seperti ini," ucap Nada.
"Sama-sama, lalu apa kamu tidak berniat mentfaktir kami? Sepertinya kamu harus merayakan momen ini," ucap Emili.
__ADS_1
"Pasti, aku akan menjadwalkannya nanti." ucap Nada.
"Hem, jadwalkan juga waktu khusus untuk Tuan Vino," ucap Emyli sambil tersenyum. Nada hanya tersenyum tipis.
"Bukan apa-apa, tapi sepertinya tidak baik jika hanya berdua. Rame-rame lebih asik," ucap Nada. Emyli tersenyum.
"Sifa, tolong bantu aku ke belakang," ucap Emyli dan diangguki oleh Sifa.
Kini hanya Nada dan Vino yang masih berada di tempat itu. Tak ada percakapan, keduanya hanya diam.
"Nad, boleh aku berbicara sesuatu?" tanya Vino dengan hati-hati.
"Bicaralah," ucap Nada.
"Aku,"
Sebelum Vino berkata, deringan ponsel Nada berbunyi. Nada melirik ponselnya dan melihat nama Tuan Marvel, memang dirinya belum sempat mengganti nama kontak suaminya semenjak pertama kali bertemu.
"Maaf, aku angkat telepon dulu," ucap Nada. Nada menggeser tombol hijau dan menempelkan di telinga.
"Halo assalamualaikum," ucap Nada.
"Waalaikumsalam, kenapa lama sekali? Kamu masih mau lama-lama berpacaran?" ketus Radit. Nada memejamkan matanya. Aish, tadi manis, sekarang ketus, nanti menyebalkan. Lalu apalagi? Nada menghela napas panjang.
"Turun sekarang juga," ucap Radit lagi sebelum Nada menjawab pertanyaannya.
"Iya, seben..." tut tut tut, terdengar Radit mematikan ponselnya dan membuat nada menghela napas kasar. Belum juga selesai menjawab suaminya itu sudah mengakhiri panggilannya.
"Maaf, Vino. Aku harus segera pulang. Ada yang menungguku," ucap Nada.
"Nad, sebentar saja," ucap Vino. Nada tersenyum tipis.
"Maaf Vino, aku tidak bisa. Lain waktu kita bicara," ucap Nada.
"Aku pamit, assalamualaikum," ucap Nada kemudian melangkah pergi.
Vino hanya menatap punggung Nada yang menjauh dari pandangannya.
😍😍😍😍
__ADS_1
Like komen yak. 50 200 yokk. wkwkkwkw