
Di sebuah gedung kosong.
Gino dan Tuan Sinatria mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa perusahaan MRD malah meroket dan tidak turun sedikitpun walau gosip menerpa? Gino dan Tuan Sinatria yang geram, kini berjalan ke dalam gedung.
Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di atas pecahan kaca dengan tangan yang diikat ke atas dan mulut di sumpal dengan kain. Netranya menatap ke arah putrinya yang tengah kesakitan di atas kursi. Seorang lelaki paruh baya yang baru saja datang, tersenyum melihat wanita itu tampak kesakitan.
Sedangkan Selena, yang sadar dari pingsannya merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Selena mencoba menetralkan pandangannya tetapi tetap saja gelap. mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun tak bisa juga.
Ingatan Selena melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dirinya mencoba untuk menghubungi Nada untuk meminta tolong, akan tetapi belum selesai mengutarakan maksudnya, Gino datang dan mengacaukan semua.
Untung saja Selena melempar ponselnya entah kemana sehingga Gino tidak bisa mengambil nomor ponsel Nada.
"Siapa disitu? Dimana ini?" ucap Selana yang mencoba melepas ikatan yang menjerat tangan dan kakinya.
"Selena. Kau sudah siuman rupanya?" Seseorang bertanya sambil berjalan ke arah Selena. Suara hentakan sepatu terdengar nyaring berjalan mengelilingi Selena.
"Gino Br*ngs*k, mau apa kalian? lepaskan aku!" sentak Selena. Lelaki di sampingnya menyentuh pipi Selena dengan telunjuknya. Selena memalingkan wajahnya.
"Bahkan dalam keadaan tak berdaya kaupun masih tak mau mengancam Nada dan Marvel. Kau juga akan mendapatkan bagian, kalau berhasil," ucap Gino.
"Apa kau tuli Gino? Lebih baik kau membunuhku dan ibuku, aku tidak akan melakukan apa yang menjadi kemauanmu," teriak Selena sambil tertawa.
"Owhh. Ternyata kau lebih sayang mereka dari pada nyawamu?" Gino mengangkat dagu Selena dan mencengkramnya dengan kuat. Sehingga kuku tajam Gino menggores wajah Selena hingga berdarah. Selena merasakan sakit, bergerak kesana kemari mencoba melepas tangan Gino dari dagunya.
"Lepaskan aku Gino. Apa yang kau mau?" teriak Selena.
Gino melepas dengan kuat penutup mata Selena sehingga kepala Selena membentur sudut benda lancip di sampingnya dan mengakibatkan pelipisnya mengeluarkan darah segar. Selena merintih sakit merasakan perih yang bertubi. Netranya bersitatap dengan ibunya. Ibunya yang terkejut anaknya terjerumus dalam lembah hitam, ingin anaknya berubah dengan tidak melakukan kesalahan dan membuat rumah tangga Nada dan Radit itu kacau.
Selena menoleh, saat ini pandangannya dengan jelas memandang lelaki bangsa* di depannya. Lelaki yang pernah menemani harinya dan membuat dirinya mengandung.
__ADS_1
"Apa salahku? kenapa kau begitu jahat Gino?" tanya Selena. Gino tertawa dan menatap tajam ke arah Selena.
"Memang, memang kau tidak mempunyai salah apapun Selena. Bahkan seharusnya aku menjagamu, tapi kau terlalu bodoh dan sok baik. Sok Suci, andai saja kau mau menekan Marvel Raditia Dika. Kau bisa hidup dengan layak," Bentak Gino.
Gino meraih Rambut Selena dan menarik dengan kuat. Selena menggerakkan kepala menahan sakit. Air matanya menetes.
"Aku sudah banyak dosa, bahkan aku memilih mati ditanganmu dari pada hanya menambah dosa lagi, seharusnya kau yang bertanggung jawab atas anakku. Bukan orang lain, Gino." teriak Selena.
"Diam kau, jangan banyak bicara!" bentak Gino semakin menarik rambut Selena. Selena mengerang kesakitan. Wajahnya merah menahannya. Perutnya yang sudah mencapai kehamilan tujuh bulan terasa kram, Selena menutup matanya, menahan rasa sakit yang diberikan Gino.
"Sakiti aku, jika itu membuatmu puas. Lakukan saja Gino. Tuhan akan membalas segala perbuatan yang engkau lakukan dengan ganjaran yang impas," ucap Selena. Gino tersenyum sinis.
"Tau apa kau tentang ganjaran, ******?" Gino berteriak sambil menghempaskan kepala Selena hingga kembali membentur kursi. lagi-lagi Selena menutup mata menahan rasa sakit yang menusuknya.
"Gino aku yakin kau tidak sejahat ini. Aku yakin kau punya hati nurani. Cobalah berfikir jernih, kita bicarakan secara baik. Jika kau meminta baik baik perusahaanmu, ku pikir Marvel dan Nada akan membantu," ucap Selena.
"Bahkan Marvel tidak pernah mendengar penjelasanku, dia memblacklist semua perusahaan agar aku tidak bisa bekerja. Dan kau tau, Zifana adikku pergi entah kemana. Marvel telah menghancurkan keluargaku dan aku tidak bisa diam saja,"
"Cukup Selena, jangan mendongengiku. Jangan berharap aku kasihan dan kemudian melepaskanmu, aku ingin Marvel mengembalikan semua asetku," ucap Gino sambil mengarahkan pistol ke arah ibu Selena.
"Katakan iya, atau aku tembak ibumu?" sentaknya.
"Sudah aku katakan, bunuh saja Kami,"
Dor
Satu tembakan melayang dari luar sana, mengenai kaki Gino yang mencoba berlari. Beberapa polisi, menyebar luas mengejar Gino dan juga Tuan Sinatria.
Delon dan beberapa orangnya mendekat ke arah Selena dan juga ibunya. Membuka beberapa tali yang mengikat kedua wanita berbeda generasi itu. Selena mendekat ke arah ibunya dan memeluk ibunya dengan haru. Air mata mereka mengalir deras. Beberapa kali ibu Selena mengusap pundak putrinya yang kini menderita luka luka.
__ADS_1
Delon menatap ke arah dua wanita itu.
"Selena, sebaiknya kau dan ibumu ke rumah sakit," ucap Delon yang tampak prihatin dengan keadaan wanita hamil di depannya.
Selena melepaskan pelukan ibunya dan menatap ke arah Delon yang kini menatap dirinya dengan deraian air mata.
"Terimakasih Delon, telah menyelamatkan kami," ucap Selena ditengah isak tangisnya.
"Berterimakasihlah dengan Radit, dia yang memintaku untuk membebaskanmu disini. Akan tetapi, dia meminta bantuamu untuk meyakinkan Nada bahwa anak yang ada di dalam kandunganmu bukan anaknya," ucap Delon.
Ibu Selena dan juga Selena bernapas lega, bisa selamat dari Gino dan papanya adalah anugerah terindah.
Selena mengangguk pelan. Apapun akan dia lakukan, untuk membalas kebaikan dari Marvel Raditia Dika.
"Baik, terimakasih Delon. Maaf juga karena aku terpaksa membuat berita ini. Nyawa ibuku tengah terancam waktu itu," jelas Selena.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang sebaiknya kau dan ibumu ke rumah sakit, biar orangku yang mengantarkanmu," ucap Delon dan kemudian diangguki oleh Selena.
Selena menurut, dia dan ibunya menuju ke parkiran mobil di depan yang disiapkan oleh Delon.
Delon menghela napas panjang, pada akhirnya pencariannya berhasil setelah beberapa hari mencari informasi. Delon mengirim beberapa berkas pada Radit dari emailnya.
Delon menghela napas panjang, berharap hubungan Nada dan Radit akan kembali seperti sedia kala. Nada yang tengah hamil diberikan kesehatan, dilancarkan segalanya sampai lahiran. Amin.
Delon keluar dari gedung kosong itu, polisi berhasil mengamankan Gino dan Tuan Sinatria dengan dua tembakan di kaki kiri masing-masing.
Delon berdiri di depan Tuan Sinatria dan juga Gino.
"Ku harap kalian bisa berubah, waktu untuk berubah masih ada. Jadilah manusia yang lebih baik," ucap Delon kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
😍😍😍😍😍