
Nada terkejut, jantungnya berdebar tak beraturan? Siapa dia? Apa dirinya menjadi korban penculikan?
Sepertinya Radit tidak seperti yang kita bayangkan, ada kalanya pembisnis handal sepertinya ingin menjagamu dari bahaya sehingga menyembunyikan statusmu
Ucapan ayahnya mengiang di pikirannya. Nada terkejut dan mendongak menatap ke arah manusia yang kini membawa tubuhnya berjalan, Nada meronta mencoba untuk lepas dari bahaya ini.
Nada memukul dada orang yang tengah menggendong tubuhnya. Namun, tetap saja kekuatan dirinya tak sebanding dengan kokoh lengan yang kini berhasil memasukan dirinya di mobil berwarna merah metalik yang terparkhir jauh dari pelataran bandara.
"Ini aku," bisik Radit di telinga Nada.
Deg, jantung Nada berdetak tak beraturan saat mendengar suara yang familiar di telinganya. Radit melepas masker, kemudian melepas penutup kepala. Netranya memandang ke arah Nada yang kini menatapnya dengan terkejut. Keduanya saling berpandangan. Tatapan mereka saling beradu.
Radit? Apa dirinya tidak sedang bermimpi? Kenapa dia tampak tampan sekali? Aish, kenapa malah terpesona? Seharusnya dia memaki manusia yang cepat sekali berubah suasana hatinya itu.
"Kenapa memandangku seperti itu? Kau terpesona? Bukankah memang sedari dulu aku tampan?" tanya Radit dengan suara menjengkelkannya.
"Iya, makanya aku terpesona sejak pertama bertemu." Nada mengalihkan pandangannya. Kini Radit mendekat dan mengusap pipi mulus milik Nada Aira Azzahwa istrinya.
"Sejak pertama?" tanya Radit memastikan. Nada mengangguk pelan, dia mengangkat wajahnya dan memandang kearah Radit.
"Kamu itu sangat tampan," Radit tersenyum mendengar ucapan Nada.
"Tetapi sombong dan sangat menyebalkan," lanjutnya sambil mendorong tubuh Radit menjauh darinya. Nada menutup pintu mobil.
Radit yang semula tersenyum, kini berubah masam. Sepertinya Nada sengaja membalas ucapan sebelum ke apartemen tadi. Aish, tampaknya dia mendapatkan istri yang sebanding dengannya. Radit memutar langkahnya dan segera masuk ke dalam mobil.
Radit melajukan mobilnya membelah jalanan. Tak ada percakapan antara keduanya, sehingga hanya terdengar lantulan lagu-lagu jawa timuran yang terdengar mendayu-dayu.😂.
Nada melirik Radit yang tampak menikmati alunan lagu, terbukti dengan Radit yang menggerakan kepala dan kakinya.
"Berencana mau menculiku kemana?" Nada bertanya dengan tenang. Membuat orang yang merasa diajak bicara kini menoleh dan tampak membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Apa ada penjahat sebaik aku?" tanya Radit.
"Didepanku," ucap Nada. Rafut tampak mengabaikan ucapan Radit. Keduanya hanya terdiam.
Beberapa menit berlalu, Radit menghentikan laju mobilnya di subuah hamparan taman indah.
Nada takjub dengan keindahan yang tampak memukau dimalam ini. Segera Nada membuka pintu mobil dan turun, dirinya berjalan mendekati taman bunga itu. Nada merentangkan tangannya. menghirup udara dalam-dalam. Angin sepoi berhembus, memberikan hawa dingin yang menusuk.
"Kau suka?" Radit berdiri di samping Nada sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.
"Hem, aku suka," Nada menghentikan ucapanya ketika jari telunjuk Radit mendarat di bibirnya.
"Jangan mengatakan apapun, aku bisa melihat jawabannya dari matamu," Radit menatap lembut Nada, memandang dengan puas wajah Istri yang begitu mengusik hatinya.
"Apa benar begitu?" Nada bertanya.
Radit mengambil napas dalam-dalam, menggenggam tangan Nada dengan mesra.
keduanya terdiam menyelami samudra kecanggungan yang melanda. Sisi galak Nada yang dulu melekat menghilang entah kemana. Bahkan dia berubah menjadi sosok wanita yang lembut dan sangat patuh.
Setelah beberapa menit berlalu dan saling diam, keduanya saling memandang dan tersenyum bersama.
"Sebaiknya kamu yang mengatakan terlebih dulu," Radit mempersilahkan Nada mengatakan apa yang akan dia katakan.
"Aku mau bilang, lain kali kalau nyulik yang jauh. Ini bisa dijangkau," celetuk Nada, Radit membelabakkan matanya. Wajah yang tadinya lembut berubah menjadi dingin. Dia melepas genggaman tangan Nada. Radit menghela nafas panjang memandang istrinya yang tampak tersenyum jahil.
Nada yang tadinya manis dan imut seperti kelinci, kini berubah drastis seperti kucing liar yang jahil. Radit menghela nafas panjang dan meletakkan kedua tangan nya di pundak Nada.
"Jadi kau ingin dibawa kemana? Nyonya Marvel?" tanya Radit dengan senyuman yang begitu mempesona.
"Di sini," Nada menyentuh dada Radit. Radit memejamkan matanya. Jawaban Nada yang singkat padat dan sangat jelas itu begitu menyesakkan dadanya.
__ADS_1
Radit maju beberapa langkah dan menarik pinggang Nada. Mereka tampak dekat dan Merapat. Tangan Nada melingkar di leher Radit, dia mendongak menatap ke arah lelaki tampan yang kini menatapnya dengan tenang.
"Tidak puaskan kau berdiri di sampingku, sehingga meminta tempat di hatiku?" tanya Radit.
Deg, Jantung Nada seakan mendapatkan tamparan yang menyakitkan. Pertanyaan Radit sangat menyakitkan dirinya. Buliran air mata jatuh tanpa diminta, Nada melepaskan dirinya dari pelukan Radit.
Dia menjauh, memandang hamparan taman yang indah itu. Nada mengusap air matanya, sesak sekali rasa hatinya.
Radit memejamkan matanya, entah apa yang dia rasakan. Radit mengambil sesuatu dari sakunya, dia berjalan ke arah Nada. Radit memeluk Nada dari belakang dagunya menempel sempurna di kepala Nada.
"Kenapa menangis? Aku tidak suka melihatmu bersedih," ucap Radit. Radit memutar tubuh Nada sehingga keduanya saling berhadapan.
"Ini untukmu," Radit meraih tangan Nada dan memasang cincin indah yang berkilau. Nada terdiam. Kenapa Radit seolah mempermainkan dirinya?
"Aku tidak butuh ini," sahut Nada.
"Itu adalah tanda jika kita telah berbaikan," ucap Radit. Nada memejamkan matanya dan menatap Radit dengan tenang. Radit mengusap buliran air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Kau memang belum menduduki posisi sebagai orang yang aku cintai.Tapi, kau perlu tau. Kau punya posisi sebagai sahabat bagiku," ucap Radit. Nada mendongak menatap Radit dengan tatapan yang hangat.
"Sahabat?" tanyanya.
"Sahabat, sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka," ucapnya. Nada tersenyum di dalam isak tanginya. Nada secara reflek berhambur ke pelukan Radit. Radit membalas pelukan Nada.
Entah, Radit merasakan kenyamanan yang sangat menentramkan hatinya. Beberapa saat kemudian, terdengar ponsel Radit berbunyi dan menampakan nama Dani disana.
Segera Radit meraihnya, tangan kirinya masih saja memeluk hangat tubuh Nada di tengah terpaan angin malam.
"Halo, ada apa Dan?" tanya Radit.
"Halo, maaf Marvel. Proyek di negara X mengalami masalah yang serius, kepala direksi meminta agar kau mengurusnya dan berangkat malam ini juga," ucapnya.
__ADS_1
Deg, Jantung Radit seakan sesak seketika. Haruskah dia meninggalkan Nada? Netranya mengamati wajah cantik yang kini berada dalam rengkuhannya.
😊😊😊