
"Nada, Marvel?"
Radit, tampak terkejut. Sedangkan Nada yang ada beberapa langkah di belakang Radit kini menatap ke arah ayah, kakak, Vino dan juga Tuan Pradikta. Sepertinya mereka hendak bersama terbang ke pulau J malam ini juga.
Jantung Nada berdetak tak beraturan, apa yang harus dikatakan jika dia ditanya tentang kebersamaannya dengan Radit? Dia tau pasti, bahwa Radit belum mau mengakui dihadapan publik tentang pernikahan mereka. Entah pertimbangan apa yang membuat dirinya melakukan itu.
Radit tersenyum singkat dan sedikit membungkukkan badannya.
"Kalian bersamaan?" tanya Tuan Pradikta sambil mengamati wajah Nada dan Radit bergantian.
"Maksud Om?" tanya Radit seakan tak mengetahui keberadaan Nada di belakangnya.
"Ayah," Nada melangkah maju dan mendekat ke arah ayahnya yang tampaknya juga khawatir seperti dirinya.
"Oh, Om pikir kalian bersama. Maaf Marvel, Om lupa jika apartemenmu juga ada di sini," ucap Tuan Pradikta.
"Apa Om mau pergi malam ini juga?" tanya Radit.
"Ya, om akan terbang. Kalau begitu sampai berjumpa lain waktu Marvel," ucapnya.
"Hati-hati dan selamat sampai tujuan Om Pradikta," ucapnya.Tuan Pradikta tersenyum dan mengangguk pelan kemudian melangkah pergi. Radit masih berdiri di tempatnya sedang
Nada ikut melangkah dan mengikuti gerombolan itu.
Vino tersenyum dan menatap ke arah Radit dengan tenang. Radit juga memandang sahabatnya itu.
"Kau yakin tidak mengenalnya?" Vino menatap Radit, dia tau ada gelagat tak beres yang ditunjukan oleh Radit dan Nada barusan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Radit sambil tersenyum tenang.
"Dia wanita baik-baik, Marvel." ucap Vino. Radit mengepalkan tangannya yang ada di samping, tentu saja tanpa sepengetahuan Vino. Radit menatap ke arah Vino dengan tenang.
__ADS_1
"Jangan mencurigaiku sobat, aku tau batasanku," ucap Radit sambil menepuk pelan pundak Vino kemudian melangkah masuk ke dalam pintu lift.
Vino menghela napas panjang, apa dirinya salah lihat tentang kedekatan mereka? Apa yang terjadi sebenarnya? Ada beberapa hal yang mengusik hatinya.
***
Radit segera memasuki apartemennya, apartemen yang semalaman dia tinggalkan. Kini dia menyibak gorden kamar dan menatap ke arah gerombolan orang yang tadi bertemu dengannya. Dilihatnya gerombolan itu berpisah mobil. Radit menghembuskan napas lega.
Vino? Kenapa dia seperti tak rela Nada dekat-dekat dengannya?
Radit mengganti bajunya dengan hodi tebal yang menggunakan penutup kepala. Radit meraih topi dan juga masker, dia menutup wajahnya dengan Rapat. Aish, kenapa dia sangat takut Nada berpaling? 😅😅
Radit mengambil langkah seribu, kini dirinya sudah seperti detektif yang siap menguntit setiap gerak-gerik Nada.
Nada, Arfan, dan ayah menuju bandara menggunakan mobil Arfan. Sedang, Tuan Pradikta dan Vino menggunakan sopir.
Arfan melirik sepion yang menampakan wajah cantik adiknya yang kini tampak berseri.
"Doakan Nada agar selalu bahagia, kak, yah," ucapnya.
"Apa Radit memperlakukanmu dengan baik?" tanya ayahnya.
Nada tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi, sepertinya dia masih belum ingin terbuka dengan status pernikahan kalian," ucap ayahnya sambil tersenyum.
"Biarkan mengalir seperti air, yang penting ayah dan ibu selalu mendoakan Nada," ucap wanita cantik itu.
"Sepertinya Radit tidak seperti yang kita bayangkan, ada kalanya pembisnis handal sepertinya ingin menjagamu dari bahaya sehingga menyembunyikan statusmu," ucap ayahnya.
Nada menghela napas panjang, entahlah. Yang dia tau, kini Radit sudah sedikit berubah.
__ADS_1
"Nada, Tuan Vino sepertinya juga sangat mengharap tentang perjodohan yang pernah dibicarakan. Namun, untuk menghindari kecurigaan, ayah hanya mengatakan biar Allah yang mengatur, jadi berilah jawaban yang bisa diterima dengan baik jika suatu saat nanti Tuan Vino mengatakan sesuatu padamu,"
"Iya, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya kak," ucap Nada.
😍😍😍
Beberapa menit kemudian, tibalah mereka di bandara. Mereka segera turun kemudian berjalan menyusuri jalan dan menikmati pemandangan orang yang berlalu lalang keluar masuk bandara.
Kini, Ayah segera mengatur segala prosedur pemberangkatan. Tuan Pradikta juga melakukan hal yang sama. Tak berapa lama kemudian, mereka segera berangkat setelah sebelumnya mengucapkan salam perpisahan pada ibu dan ayahnya.
Nada, Vino dan Arfan tampak berpandangan.
"Nad, dan Kau Dokter Arfan, bagaimana kalau kita makan dulu." Vino tampak tersenyum dan menatap Nada dengan tenang. Arfan dan Nada saling berpandangan.
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa." ucap Nada sambil tersenyum.
"Kenapa?Apa kamu masih sakit? Tadi pagi aku meng cancel jadwal pertemuan karna Sifa bilang kamu sakit," ucap Vino. Nada menghela napas panjang. Kenapa di cancel? Apa harus dirinya yang menghadiri? Kenapa Sifa tak mengatakannya? Nada hanya tersenyum tipis.
"Aku harus istirahat, Tuan Vino." Nada tersenyum dengan Ramah.
"Oh, baiklah. Jadi, apa kau mau pulang?" tanya Vino.
"Iya, tapi aku bisa pulang dengan kak Arfan," ucap Nada sambil tersenyum. Vino menghela napas panjang, rasanya sangat sulit untuk menjangkau Nada.
Nada tak enak ketika harus menolak. Tetapi memang dirinya harus melakukan ini. Dia melihat wajah kecewa dari Vino yang tampak jelas.
"Terimakasih, atas tawarannya Tuan, Kak aku jalan ke parkiran duluan," ucap Nada. Arfan mengangguk pelan.
Nada melangkahkan kaki dengan tenang keluar dari bandara. Nada menghela napas panjang sambil menatap ke arah mobil Arfan yang berada di pojokan. Langkahnya terhenti ketika dari belakang seseorang membekap mulutnya dan mengangkat tubuhnya.
Nada terkejut, jantungnya berdebar tak beraturan? Siapa dia? Apa dirinya menjadi korban penculikan?
__ADS_1
😆😆😆😆😆