
"Kak Arfan?" tanya Nada dan diangguki oleh Sifa. Segera Nada mengambil ponsel itu dan menjawab panggilan Arfan yang memang berulang kali berdering.
"Hallo kak, ada apa?" tanyanya pada Arfan di sebrang sana.
"Keadaan Micel memburuk, bisa kau dan Marvel datang kesini? Beri dukungan padanya, semoga dengan kehadiran kalian bisa membantu," ucap Arfan tampak memohon dengan suara yang bergetar.
Nada tampak memejamkan matanya. Rasanya sakit mendengar kabar ini.
"Kami akan segera kesana Kak," ucap Nada kemudian menutup ponselnya.
"Ada apa?" tanya Radit.
Nada memandang Radit, kepalanya semakin pusing. Bahkah sekedar untuk berucap dia tak mampu lagi. Nada sedikit terhuyung, segera Radit mengangkat tubuh istrinya itu.
"Hei, kenapa?" tanya Radit sambil menatap wajah Nada yang memucat. Wajah yang saat ini berhiaskan linangan air mata. Keadaan Nada membuat Radit semakin khawatir.
"Keadaan Micel memburuk, sebaiknya kita datang kesana Yang," ucap Nada.
Deg
Radit memejamkan matanya. Baru saja dia tenang, sekarang di bikin sport jantung lagi. Hati Radit seakan membeku, wajah yang masih tampak dongkol karena ulah Vino tadi, kini menjadi wajah khawatir.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Vino sambil menatap Radit dan Nada bergantian.
"Adikku kritis karna kecelakaan, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Radit.
"Adik?" sahut Nico. Sejak kapan Radit punya adik? Bahkan selama ini tak pernah sekalipun dia mengenalkan sosok adik pada ke tiga sahabatnya sehingga saat ini ke tiga sahabatnya tampak teecengang.
"Iya, adiku menjadi korban kecelakaan semalam. Keadaannya lumayan parah," ucap Radit lagi.
Deg,
jantung Vino seakan juga berdetak dengan kencang. Emily, adiknya itu kecelakaan di area yang dekat dengan mansion keluarga Radit. Lalu, apa ini adalah kebetulan yang sama?
"Kau mempunyai adik?" celetuk Vino.
Radit berjalan, Nada tetap berada dalam gendongannya, bahkan sampai saat ini banyak sekali mata yang menatap mereka dengan penuh selidik, heran dan tercengang.
Mereka tak percaya melihat pemandangan ini, seorang Nada Aira yang identitasnya tidak diketahui sama sekali oleh publik, kini berada dalam rengkuhan CEO MRD group yang dikenal banyak pembisnis kelas dunia.
Bahkan, saat ini para wartawan mengambil gambar mereka berdua. Radit tak perduli, bahkan jika dunia tau pernikahan itu, dia sudah siap.
Yang terpenting baginya adalah Nada baik-baik saja dan mereka bisa segera melihat keadaan Micel.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, Vino mendapat panggilan dari Emely. Segera Vino mengangkat ponselnya.
"Hallo, assalamualaikum kak," ucap Emely terdengar ketakutan dan panik. Terdengar juga isakan tangis disana.
"Em, ada apa? Kenapa menangis?" tanya Vino tampak khawatir pada adiknya itu.
"Kak, aku disekap di sebuah rumah di kawasan terpencil kak," ucap Emeli di sela isak tangisnya dan suaranya terdengar lirih sekali.
"Siapa yang menyekap?" tanya Vino. Belum juga masalah Micel tuntas. Kini Emely mendapat masalah.
"Kakak dari korban yang aku tabrak kak, dia tidak terima dengan keputusan polisi yang membebaskan aku, dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Saat ini adiknya kritis, dan keadaannya memburuk. Maka dari itu, setelah aku kesana tadi, dia tidak di terima maafku, bahkan sekarang aku di sekap olehnya. Aku tidak tau ini ada dimana kak," ucap Emyli di tengah isak tangisnya lagi. Vino menghela napas kasar.
"Kenapa kau sendiri Em, harusnya menunggu kakak atau Willy," ucap Vino sambil mengusap kasar wajahnya.
" Aku merasa bersalah Kak, makanya aku buru-buru ke sana. Kak, jangan libatkan polisi. Sepertinya harus kakak yang bicara padanya agar bisa ketemu solusi yang terbaik," ucap Emyli.
"Tenanglah, kakak akan memikirkanmya. Yang penting sekarang kamu jangan panik, jangan sampai orang itu mengambil ponselmu," ucap Vino.
"Iya kak," jawab Emily kemudian mematikan ponselnya. Emili menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Siapa yang kau hubungi?" Suara itu membuat emely terperanjak kaget. Dia menatap seorang yang kini berjalan penuh amarah ke depannya.
__ADS_1
🤣🤣🤣😊