Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC. Ekstra part. Peluru yang menumbuhkan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Vino keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk, rambutnya yang basah meneteskan air yang menambah ketampanannya.


Micel juga baru saja mandi di kamar mandi bawah, rambutnya digulung dengan handuk kecil dan memperlihatkan leher jenjang yang menggiurkan di depan meja rias. Vino yang berada di depan pintu kini menatap setiap gerakan yang dilakukan makhluk cantik di depannya itu.


Micel menatap kaca riasnya, dengan lincah tangannya bergerak di kepala, mencoba mengeringkan rambutnya. Micel terkejut saat menangkap bayangan Vino yang mengamatinya dari pantulan cermin di depannya.


Micel menoleh, Vino maju beberapa langkah dan mendekat ke arah Micel.


"Sejak kapan disitu Kak?" tanya Micel sambil berbalik arah dan menghadap ke arah Vino. Debaran jantungnya seakan maraton menatap wajah Micho yang terlihat segar dan tampan.


"Baru saja," jawabnya santai sambil melangkah ke arah Micel. Ia berjalan mendekat kemudian menatap hangat wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdebar.


Micel terdiam dan mengamati sosok tampan yang kini hanya berjarak dua langkah darinya, darahnya seakan berhenti.


Vino mengusap pelan pipi mulus Micel sehinga Micel merasakan hawa panas yang menjalar ditubuhnya, seperti sengatan listrik yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Sebaiknya kita segera berpakaian Kak, nanti masuk angin. Handuknya dingin," ucap Micel kemudian mencoba melangkahkan kakinya. Namun, dengan gerakan cepat Vino menarik tangan Micel sehingga membuat langkah Micel tertahan ditempatnya. Micel berhenti dan menoleh kemudian memutar tubuhnya menatap ke arah Vino.

__ADS_1


"Mau kemana hem?" tanya Vino.


"Aku mau ganti baju,"


Micel terdiam, rasa sesak menyeruak di dadanya. Vino perlahan mendekat, menatap lekat wajah cantik Micel dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.


Vino mendekap erat tubuh sintal istrinya. Micel merasakan kebahagiaan dan haru yang bersamaan membuat buliran bening jatuh dipipinya. Merasakan isakan Micel, Vino melepas pelukannya dan menatap Micel dengan teduh. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata istrinya.


"Kenapa menangis? Ada yang menggangu pikiranmu?" tabya Vino. Micel hanya diam menikmati sentuhan hangat tangan Vino di pipinya.


"Aku hanya teringat masa lalu kita, ketika kita memiliki masa lalu yang sangat buruk. Bahkan aku tak percaya, bagaimana bisa aku terlibat di dalamnya," ucap Micel.


"Yang lalu biarlah berlalu, yang jelas kita harus memperbaikinya. Jangan sampai anak kita melakukan hal yang sama," ucap Vino.


Vino mulai mendekatkan bibirnya, tubuh Micel mulai menegang dan memanas. Desakan rasa aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertautan. Tubuh mereka sedikit bergetar merasakan sensasi panas dingin yang melebur menjadi satu.


Micel yang kehabisan tenaga kini mendorong tubuh Vino, ditatapnya lekat wajah yang tersenyum senyum tak jelas itu.

__ADS_1


"Kak, kenapa tersenyum?" tanyanya.


"Aku bahagia mendapat ciuman, sepertinya akan tambah bahagia jika pistolku menembak dengan sempurna dan memberikan peluru yang menumbuhkan," ucap Vino.


"Peluru yang menumbuhkan?" tanya Micel dan diangguki oleh Vino.


"Ya, peluru yang menumbuhkan bibit unggul yang nantinya akan memberikan kehidupan di sini," ucap Vino sambil mengusap pelan perut Micel.


Micel memejamkan matanya, merasakan kebahagiaan yang sulit untuk dijelaskan.


"Mana ada pistol yang seperti kamu jelaskan itu kak?" tanya Micel.


Vino terkekeh, menggenggam tangan Micel dan membawanya berkelana.


"Coba saja kamu sentuh,"😂😂😂😂.


🙈🙈🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2