
"Cantik, menangislah bila itu bisa melegakan perasaanmu," ucap Nicho yang saat ini mengusap pundak Micel. Micel sesenggukan di dada bidang Nicho. Mencoba mencari ketenangan dan dia mendapatkannya. Entah, dia seperti pernah merasakan dekat dengan orang yang saat ini tengah menenangkannya.
Nicho merasakan sesak ketika harus memeluk Micel yang dikenalnya sejak sembilan tahun yang lalu itu ternyata adalah adik dari sahabatnya dan telah menjadi istri dari sahabat baiknya juga.
Merasa lega, Micel melepaskan pelukannya, menatap wajah tampan yang kini menatap dirinya dengan tenang.
"Maaf Kak Nicho, aku reflek," ucapnya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi cantiknya. Selalu saja Nicho, yang ada disaat dirinya tengah dalam keadaan tidak baik baik saja beberapa kali.
"Tidak papa, aku senang bila melihatmu bahagia, dari dulu aku benci melihatmu menangis," ucap Nicho. Nicho sengaja mengikuti kemanapun Micel pergi. Rasa khawatir pada orang yang dianggapnya adik tetapi mempunyai tempat sepesial di hatinya itu membuat dia menjaga Micela dari kejauhan.
Michel menautkan alisnya, mencoba memahami arah pembicaraan Nicho. Apa artinya Nicho mengenal dekat dirinya?
__ADS_1
"Kakak mengetahui kehidupanku? Bisa kakak membantuku untuk mengingat semuanya?" tanya Micel. Micel sepertinya sudah tidak bisa hidup dalam kebingungan, yang dia ingat hanya Vino dan Nada. Vino sangat abai padanya dan Kakak iparnya mempunyai masalah yang serius. Dia harus bisa mencoba mengingat dengan bantuan Nicho yang sepertinya tau banyak tentangnya.
Nicho memejamkan matanya sejenak, sepertinya dia salah bicara. Micel hilang ingatan dan akan merasakan sakit bila mencoba mengingat. Lalu apa yang akan dia lakukan?
"Kak Nicho bisa membantuku?" tanya Micel lagi. Nicho sempat ragu, akan tetapi pada akhirnya Nicho tersenyum, netranya memandang ke arah Micel yang kini menatap dirinya dengan penasaran. Tangan Nicho terulur menyelipkan anak rambut Micel yang berterbangan diterpa angin. Kebiasaan Nicho pada Michel yang memang suka mengucir asal rambutnya. Kebiasaan Nicho pada Micel yang dianggap kakak oleh gadis di depannya.
Micel memejamkan matanya, perlakuan hangat Nicho membuat sekilas bayangan tersambut hangat dan lembut
"Kakak, aku boleh ikut bersamamu?" tanya Micel yang seolah memiliki ikatan batin kuat dengan Nicho. Nicho tersenyum dan pada akhirnya mengangguk pelan.
"Ikut aku, kita makan masakanmu. Jangan dibuang. Masakanmu sangat enak," ucap Nicho lagi.
__ADS_1
Micel tersenyum, menatap ke arah rantang makanan yang sempat akan dia buang. Micel menangkap arah pembicaraan Nicho. Apa artinya dulu dia suka memasak? Kata bi Ira tadi tanpa diajari saja Micel sudah sangat ahli. Micel tersenyum bahagia. Fik, Nicho bisa membantunya.
Micel tak mau banyak bertanya pada Nicho, dia ingin tau kehidupannya dengan semua kosa kata Nicho yang selalu keceplosan itu. Karena Micel merasa, jika dia bertanya pasti Nicho akan mengelak jika dia mengenal dekat dengan Micel. Entah untuk alasan apa, yang jelas Micel yakin Nicho bisa membantu dirinya.
"Kemana kita pergi kak?" tanya Micel saat Nicho membuka pintu mobil untuknya.
"Ke suatu tempat, ikuti saja alurnya, Cantik," ucap Nicho. Micel masuk ke dalam mobil dikuti Nicho yang kemudian memutar langkah menuju ke arah kemudi.
Nicho melajukan mobil membelah jalanan kota, di sebrang sana dua pasang mata saling memandang. Rendi yang ingin menenangkan Micel juga dan juga Willy yang tadinya di tugaskan untuk menemani Micela.
"Apa yang akan terjadi bila Tuan Vino tau?" lirih Willy.
__ADS_1
😍😍😍😍