
Vino hanya menatap punggung Nada yang menjauh dari pandangannya. Kini, Vino berjalan ke arah jendela. Vino menatap ke arah dimana Nada tadi melihat kucing. Kini, netranya memandang dengan jelas, di bawah sana Nada masuk ke dalam sebuah mobil berwarna merah metalix dan dia begitu paham siapa pemilik mobil mewah itu.
"Nada, apa yang kau sembunyikan? Hubungan yang bagaimana yang terjadi antara kau dan Marvel?" lirih Vino sambil menghela napas panjang.
Yang membeli baju Nada adalah Nyonya Mira yang tak lain adalah ibu Radit. Lalu, drama apa yang dimainkan sehingga tadi ibu Radit tampak penasaran dengan owner sheyna bontique? Vino menggeleng pelan. Merasakan sesak di dadanya.
Sepertinya dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada Nada jika memang keduanya ada hubungan. Bersaing dengan Radit? Dia tau, Jika sudah mencintai seseorang maka Radit akan menjaganya. Bahkan apa yang dia miliki pantang untuk dimiliki orang lain. Lalu, apa benar sang casanova itu sudah benar-benar berubah? Entaah.
Vino berjalan menyusuri lorong panjang yang menghubungkan jalan ke arah Lobi. Dia bergerak dengan tenang dan berbelok mendadak.
"Brak," Vino tampak menabrak seseorang.
Gadis kecil itu tampak terpelanting. Segera Vino menarik pinggang ramping gadis kecil itu sehingga dia dekat merapat dengan Vino.
Mendadak mata Vino terasa panas dan ternggorokannya kering hingga dia harus menelan ludah berkali-kali. Bahkan meski belum melihat wajahnya, Vino bisa langsung mengenalinya dengan jelas.
"Maaf," ucap gadis kecil itu dengan tenang. Gadis kecil itu mendongak, netranya berbinar saat melihat pria tampan pujaan hatinya kini berdiri dan memegang dirinya.
Menyadari itu Vino segera melepaskan tangannya dan mendorong gadis kecil itu sehingga menjauh darinya.
"Om tampan," ucapnya sambil tersenyum. Vino tampak memejamkan matanya.
Mimpi apa semalam? Kenapa harus bertemu dengan mahasiswi semester dua yang tampak suka sekali mengejarnya itu? Mahasiswi yang begitu cerewet dan sangat manja. Micel Adelya, ya nama itu nama mahasiswi yang sempat ikut dalam acara seminar yang pengisi acaranya adalah dirinya.
Gadis yang sangat menjengkelkan namun mempunyai wajah yang begitu cantik.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?" sentak Vino pada gadis yang kini menggunakan celana jins dan kaos oblong dengan rambut yang berkucir kuda itu.
"Aku mencari mama," jawabnya.
"Kau pikir disini ajang pencarian mama?" sentak Vino kemudian melangkah pergi. Micel menepuk jidatnya. Memangnya Vino tau siapa mamanya? Aish, Micel berlari ke arah Vino dan menghentikan langkah Vino.
"Om, aku juga tidak meminta bantuan Om untuk mencarinya. Kenapa sewot sekali?" ucapnya.
"Pergilah, aku tidak ada waktu meladenimu. Sebaiknya kau pulang, apa mau jadi Cleaning servis seperti mereka?" ucap Vino sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang tengah berlalu lalang membersihkan ruangan.
Micel mengedarkan pandangannya dan menatap ke arah manusia tampan yang dipastikan usianya jauh di atasnya itu.
"Om, boleh aku minta Foto?" tanyanya.
"Am, Om kau pikir aku om mu?" sentaknya lagi. Vino melangkah pergi tak menggubris gadis yang menjengkelkan itu.
"Itu lebih baik," ucap Vino sambil menoleh ke arah Micel yang kini menghentikan langkahnya.
Membicarakan kakak membuat wajahnya yang biasanya tampak ceria itu mendadak sedih. Vino yang melangkah beberapa langkah di depan Micel mundur dan berdiri di depan gadis manja itu.
Vino menatap ke arah Micel yang tampak bersedih. Vino memandang wajah cantik itu kemudian menyelipkan anak rambut Micel yang berjatuhan ke telinga Micel.
"Kenapa bersedih?" tanya Vino. Micel mengedipkan matanya, menetralisir air mata yang hampir saja jatuh. Segera ia menatap Vino dan memandang manusia tampan itu.
"Aku tidak bersedih, idih perhatian ya?" ucapnya sambil tersenyum. Vino menggelengkan kepalanya. Kenapa juga dia harus peduli dengan gadis itu. Menyebalkan. Vino melangkahkan kakinya dan meninggalkan Micel.
__ADS_1
"Kak, luangkan waktu untukku. Aku akan datang ke kantor kakak untuk mengajak kakak luch," teriak Micel dan membuat semua mata mengarahkan Pandangan ke pada Vino. Vino memejamkan matanya di berjalan kembali menuju ke arah Micel dan menarik gadis kecil itu mengikuti langkahnya.
🙈🙈🙈🙈🙈
Nada dan Radit tampak berdiam. Radit memasang GPS di ponsel Nada sehingga dia tau apapun yang dilakukan oleh istrinya itu. Nada tampak terdiam mendapati suaminya yang kini tampak sedang marah.
"Yang, masih marah?" tanya Nada. Radit tampak berdiam.
"Okey, marah saja tidak masalah. Sepertinya tempat tidur malam ini akan terasa longgar karna akan ada yang tidur di depan Tv," ucap Nada sambil memalingkan wajahnya.
Radit membelalakkan matanya, apa tadi? Tidur di depan TV? Radit memarkir mobilnya, Nada segera keluar. Radit mengejar langkah Nada yang kini tampak mengabaikannya.
"Assalamualaikum, Nek," sapa Nada pada nenek yang menunggu di depan rumah.
Nenek tersenyum dan mencium pipi Nada kemudian merangkul pundak Nada.
"Ayo ke kamar nenek, nenek mau bercerita denganmu," ucapnya.
Nada melirik Radit yang tampak tak mendapatkan tempat untuk bicara. Nenek dan Nada menuju ke kamar nenek.
"Marvel, kenapa mengikuti langkah kami? Kau itu tak ada urusan dengan nenek," ucap neneknya yang menyadari Radit mengikutinya.
"Nek, aku,,, "
"Waktu Nada untuk nenek, malam ini," ucapnya kemudian melanjutkan langkah.
__ADS_1
Radit memejamkan matanya, bisakah dia tidur malam ini tanpa memeluk guling hidup? 😀😀
🙈🙈🙈🙈🙈