
Di dalam sebuah kamar dengan suhu yang panas, Radit mencoba menenangkan Nada dengan memberikan ciuman mesra, iapun tak menyerah, mencoba lagi dan lagi.
Radit dengan peluh yang menetes berusaha untuk menerobos gawang yang kini masih saja tertutup rapat seperti masih segel, padahal baru saja tadi pagi dia melakukan ritual. Dengan segala perasaan cintanya, Radit mengerahkan segala kemampuannya untuk bisa menerobos gawang itu. Berharap tercipta maha karya yang indah dari usahanya di rahim sang istri tercinta, tentu saja Karna Ridho Sang Maha Pencipta.
Nada mengerang hebat, saat Radit berhasil menerobos gawang miliknya. Bahkan rasa semalam masih membekas dan sekarang dirasakan lagi, sangat memabukan. Radit menyeringai tipis, tak pernah dia merasakan sensasi yang begitu ekstrim bersama wanita bayaran. Hanya dengan Nada dia merasakannya.
"Akh,"
Cengkraman yang begitu dahsyat dirasakan bersamaan dengan de*ahan Nada yang terdengar merdu ditelinga Radit. Ya senjata ampuh milik Radit berhasil menerobos gawang seluruhnya. Membuatnya melayang dan tubuhnya seakan ringan, memberikan kenik*atan yang membawa mereka seakan terbang ke angkasa.
"Akhh. Yang, pelan-pelan," 😂😂😂.
Desis Nada yang merasakan nikmat yang luar biasa akibat gerakan buas Radit yang begitu memabukkannya. Radit tersenyum tipis, mendengar panggilan Yang dari istrinya itu. Panggilan yang selalu menjadi candu baginya.
"Hemmm. Aku akan bermain dengan tenang Dear," ucap Radit kemudian mengecup lembut bibir Nada yang terus saja menggodanya.
__ADS_1
Kini Radit mulai tenang, keduanya merasakan dan menikmati setiap kenikmatan yang tercipta dengan segala jiwa ragannya. Setelah lama dan puas menyatu, mereka merasakan melayang kelangit ke tuju.
"Yang, aku lelah..." ucap Nada. Radit mengakiri permainannya. Nada terkulai lemas, Radit menutup tubuh Nada yang menggunakan lingerie dengan selimut. Radit mengusap pelan puncak kepala istrinya yang kini memandangnya.
Radit tersenyum, malam ini dia memiliki Nada sepenuhnya lagi. Radit menempatkan tubuhnya di samping Nada, melingkarkan tanganya di pinggang ramping istrinya.
"Aku mau mandi, masih jam 20.30." ucap Nada.
"Hem, kita mandi sama-sama,"
Vino yang berkutat dengan komputer hanya tersenyum saat mengingat Micela adelia, gadis cantik yang baru saja membuat dirinya geram dan bahagia secara bersamaan. Terlintas juga bayangan Nada yang selalu misterius. Nada, mencoba melupakan dia? Akhh, bahkan masih saja tak mampu.
Masih saja teringat Nada, meskipun dia mencoba mengalihkan perhatiannya pada Micel. Vino harus menyatakan perasaannya besok setelah acara Grand Opening proyek baru. Nada yang menjadi salah satu Investor akan hadir, entah harus sakit hati atau tidak, yang jelas besok dia harus mengatakan perasaannya.
Tangan Vino terulur untuk menghubungi Nada. Aish, tapi ini sudah malam, sopankah? Pada Akhirnya Vino hanya mengirim email undangan pada Nada.
__ADS_1
Vino memejamkan matanya, mengalihkan perhatiannya pada Micel? Apa namanya bukan pelarian? Entahlah, Lelaki 27 tahun itu tampak prustasi.
"Malam Kak." Emely masuk ke kamar Vino dan memberikan beberapa berkas.
"Persiapan untuk besok, kita upayakan yang terbaik. Aku harus ke proyek malam ini untuk memastikan semuanya aman, dan akan mempersiapkan segala keperluan untuk grand Opening peletakan batu pertama untuk besok." ucap Emyli.
"Hem, kau harus hati-hati," sahut Vino.
"Kakak ada masalah?" tanya Emily. Vino terdiam.
"Nada? Sepertinya kau harus segera menuntaskan, entah bagaimana hasilnya. Yang pasti aku setuju jika dengan Nada. Bukan gadis kecil yang mempermalukan kakak seperti tempo hari," ucap Emily kemudian menepuk pelan pundak kakaknya. Vino menghela napas panjang.
🙈🙈🙈🙈🙈
Nanti lagi.. like yang banyak.
__ADS_1