
"Sebaiknya kita juga segera ke dalam," ucap Delon dan diangguki oleh ke tiga sahabatnya.
Ke empat orang itu melangkahkan kaki kokoh mereka ke dalam gedung yang begitu megah itu. Tatapan mata semua orang yang sudah berada di tempat itu seolah terkesima dengan langkah beberapa pemuda yang berjalan, lebih terkesima lagi dengan dua makhkuk cantik yang kini berjalan tak jauh dari ke empat pria tampan itu.
Nada duduk berdampingan dengan Sifa di sebelah kanan. Sedang ke empat pria tampan berada di deretan kiri. Radit berada di tengah, yang berada di ujung dan berdekatan dengan Nada namun terpisah jarak selebar karpet adalah Vino.
Radit mencoba untuk untuk tenang, hingga pada akhirnya acara dimulai. Rentetan segala susunan acara dimulai bersamaan dengan datangnya beberapa tamu undangan yang berasal dari perusahaan yang terkenal lainnya.
Mira adalah salah satu orang yang menikmati acara ini dengan tenang. Namun, pandangan matanya tak lepas dari sosok Nada yang duduk dengan anggun di deretan kursi paling depan.
"Siapa Nada?" Bahkan kedatangan Nada yang menyita perhatian banyak orang juga disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Beberapa orang berdatangan, Zifana dan juga Gino duduk di salah satu kursi yang berada di samping Mira berada. Mereka saling berjabat tangan, saling berangkulan. Bahkan kabar Micel yang tengah mengalami kecelakaan juga sampai di telinga Zifana.
"Bagaimana keadaan Micel, tante?" tanya Zifana dengan tenang. Mira menatap ke arah Zifana yang kini menatapnya dengan hawatir.
"Micel masih kritis Zifana, dan hal yang sangat menyakitkan adalah ketika Marvel mengusir tante dari rumah. Tante benar-benar sedih, Zifana. Bahkan tante tau, kali ini memang tante sangat keterlaluan, tapi bukankah tidak seharus nya Marvel menjauhkan tante dari Micel." Air mata Mira luruhlah sudah, membasahi pipinya.
Zifana memejamkan matanya, entah kenapa dia juga merasakan dongkol mendengar penuturan Mira. Dongkol karena Mira ternyata tak ada artinya sama sekali di mata Marvel atau entah kenapa.
"Tante sabar, nanti aku akan mencoba berbicara dengan Marvel. Semoga saja Marvel mau mendengarkan apa yang aku ucapkan." Zifana menghela napas dalam-dalam sambil memandang ke arah Nira kemudian menarik Mira dalam pelukan hangatnya.
"Aku yakin ini semua karna hasutan wanita murahan itu, sebelumnya Marvel tidak pernah melakukan semua ini. Lalu, ketika dia dekat dengan wanita itu, dia sangat berubah drastis. Entah, sihir macam apa yang dipergunakan wanita itu untuk menahlukan hati seorang Marvel," ucap Nira lagi.
Zifana mengeratka tangannya dan mengepalkan tangannya. Hatinya seakan bergemuruh, dia harus tau secepatnya wajah wanita itu. Bahkan, sampai sekarang pun orang suruhannya tak tau wajah di balik cadar dan dimana keberadaannya.
Mencari tau dari Mira, sepertinya percuma. Mira tak lebih dari butiran debu yang berada di samping Marvel. Bahkan keberadaan Mira di samping Marvel tak merubah apapun.
"Tante yang sabar, nanti aku bicara sama Marvel. Dia sudah sangat keterlaluan sekali tante." Zifana mengusap pelan pundak Mira. Apalagi kalau tidak berpura-pura baik. Dia harus tetap menjaga imej baik di depan Mira. Bahkan sebenarnya dia juga tidak peduli dengan keadaan Micel sama sekali.
__ADS_1
"Terimakasih Zifana, kau memang sangat baik. Tante tak bisa lagi harus berbuat apa, bahkan tante sering sekali merepotkanmu," ucapnya.
"Tidak papa, Tante. Zifana ikhlas melakukan untuk tante," ucapnya.
Mira melepas pelukan dari Zifana kemudian Mira menatap ke arah Nada, rasa benci semakin menggelayut di hatinya. Dia mengira, Nada datang dengan Mobil pemberian putranya. Bahkan jikapun dia berbisnis, pasti uang dari hasil pemberian putranya.
Mira mengepalkan tangannya, ingin sekali dia mencabik-cabik wajah ayu dari wanita yang berstatus menjadi menantunya itu.
Hingga pada saatnya, duduklah beberapa wanita yang ternyata adalah teman Mira. Mereka duduk di sebelah Mira dan mereka saling bercengkerama. Sedangkan Zifana kini bergeser duduk, karena teman Mira masih berdiri satu orang.
Demi mendapatkan imeg bagus, Zifana rela bergeser dan duduk di samping Gino yang memikmati acara dengan senyuman sinis.
"Jadi apa lelaki pujaanmu mu ada di sini? Mana dia? Biarkan aku berbincang hangat dengannya, gadis," ucap Gino sambil menatap ke arah adik kesayangannya.
Zifana tersenyum dan mencoba mengedarkan pandangannya, sehingga pada akhirnya dia menemukan keberadaannya gerombolan Radit yang berada di depan sana. Akan tetapi, Radit tak terlalu tampak wajahnya.
"Di depan, saat ini terlalu ramai untuk kesana. Nanti saja saat acara rehat kita berjalan ke depan. Sekalian kita bertemu dengan Tuan Pradikta beserta dengan klien penting lainya." ucap Zifana dan diangguki oleh Gino.
"Bahkan dia menolak pesona adik cantik dari Gino sinatria, dan menikah dengan orang yang sepertinya juga sangat misterius dan sangat dijaga ketat olehnya. Aku ingin tau, seberapa berpengaruh wanita itu. Jika wajah dan dan harta sepadan dan cocok untukmu. Kakak akan pastikan dia akan menjadi milikmu," ucapnya lagi dan sanggup membuat Zifana tersenyum.
"Jika dia benar-benar cocok untukmu, kakak akan melakukan sesuatu untuk membuatnya bersanding denganmu. Meskipun dengan cara yang ekstrim sekaliapun. MRD group bukan sembarangan perusahaan, kita akan beruntung jika mampu berhubungan baik dan mampu menjalin kerja sama diatas pernikahan," ucap Gino sambil tersenyum sinis.
"Okey kak. Kita akan bertemu dia nanti," jawab Zifana dengan tenang. Mereka mengarahkan mata mereka ke depan dan menikmati acara dengan khidmad.
Pada akhirnya rentetan acara telah selesai, bahkan acara tanya jawab dengan proyek besar ini juga sudah dilakukan. Hiburan juga mengalun di atas panggung.
"Eh, bu. Itu bukannya wanita yang mengisi acara beberapa minggu lalu di acara ulang tahun pradikta grup ya?" tanya wanita yang duduk di depan Mira sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Nada yang sedang menikmati hiburan.
"Mana?" tanya wanita yang satunya.
__ADS_1
"Itu, sahutnya,"
Nyonya Ira, Nyonya Dina dan Nyonya Ina mengikuti arah telunjuk wanita itu. Ketiga teman Nyonya Mira itu menatap ke arah depan, namun Nyonya Mira seakan tak peduli karena yang ada di pikirannya saat ini adalah Micel. Dia tidak tau, kalau teman-temannya membahas tentang menantunya.
"Iya, itu wanita waktu itu," sahut Nyonya Dina.
"Wah, kita minta agar dia bernyanyi yuk," ucap Nyonya Ira.
"Ide yang bagus," sahut Nyonya Ina.
Pembawa acara berbicara panjang lebar dan kemudian menatap ke arah semua hadirin.
"Sebelum acara kita akhiri, mungkin ada hal yang mau ditanyakan lagi?" tanyanya. Tak ada sahutan.
"Okey kalo gitu..."
"Maaf Tuan," Nyonya Dina yang sempat beediskusi dengan kedua temanya kini berdiri dan menyita perhatian orang-orang karna suaranya. Bahkan Nyonya Mira juga terkejut dan menatap sahabatnya.
"Baik, ada yang ingin ditanyakan Nyonya cantik?"
"Boleh kami mengajukan permintaan untuk satu lagu untuk hiburan kali ini?" tanyanya sambil tersenyum.
"Wah, dengan senang hati grup hiburan kita akan membawakannya," sahutnya sambil tersenyum.
Ucapan Nyonya Dina menyita banyak perhatian dan bisik-bisik yang mengganggu.
"Tapi saya mau yang menyanyi adalah Nona cantik di depan yang memakai kerudung warna merah Muda," ucapnya.
Semua mata mengarahkan tatapan ke arah dimana wanita yang di maksud berada. Nada terkejut saat menyadari yang dimaksud adalah dirinya saat Sifa menepuk pundaknya pelan dan menunjuk kerudung Nada yang berwarna merah muda. Radit mengepalkan tangannya dan menatap ke arah Nada. Mira membelalakkan matanya.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣