Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 97


__ADS_3

Pagi hari yang indah, Nada membuka matanya dengan perlahan. Sinar lampu merasuk ke dalam retina membuatnya mengerjab beberapa kali untuk menetralkan pandangan.


Nada menatap ke arah manusia tampan yang kini memeluk erat tubuhnya, manusia yang semalam memberikan kenikmatan yang tiada tara sehingga membuat bagian intimnya mengeluarkan tetesan d@ rah yang kini jelas terlihat di spray meski warnanya telah menghitam.


Nada menatap lekat wajah tampan yang seperti boneka itu, mengusap pelan wajah yang selalu membuat jantungnya berdebar tak beraturan. Nyatakah atau hanya mimpi, seorang Marvel Raditia Dika berubah drastis seperti kucing rumahan? Aish, kelinci rumahan yang begitu imut.


Nada menepuk-nepuk pipinya, masih tak percaya dengan kejadian semalam. Hingga pada akhirnya dia merasakan cubitan kecil di pinggangnya.


"Aduh," pekik Nada. Dia menatap tangan kekar yang tadi mencubitnya kini mengeratkan pelukannya dan membuat tubuh mereka rapat.


Nada menatap wajah di depannya yang kini telah membuka matanya dan tersenyum.


"Apa masih berasa mimpi? Kau itu sudah aku miliki dan tidak per@ wan lagi," desis Radit sambil tersenyum menggoda istrinya. Nada memejamkan matanya. Aish, kenapa dia tampak malu sekali? Tidak per@ wan lagi? Aish, benar sekali, keperaw@ nannya telah di persembahkan kepada manusia yang kini memeluk dirinya dengan posesif.


"Maaf, aku hanya masih tak percaya jika kamu berubah seperti ini." Nada menyusupkan wajahnya di dada bidang Radit.


"Kau masih tak percaya jika manusia tampan sepertiku jatuh cinta pada wanita yang biasa saja sepertimu, begitu?" Radit kembali menggoda Nada dan terkekeh geli saat Nada membelalakkan matanya dan mendorong tubuhnya.


"Ish, kamu terlalu narsis. Kalau aku biasa saja lalu kenapa kamu jatuh cinta? Kasian sekali jika seleramu hanya wanita biasa saja sepertiku," ucap Nada. Nada duduk membenahi lingerie yang dia pakai sambil mengerucutkan bibirnya.


Radit juga duduk dan meraih boxer yang ada di sampingnya kemudian memakainya. Dia menatap Nada dan meraih Nada sehingga wanita itu kini duduk di pangkuannya.


"Yang, mau apa? Ayo mandi, kita shalat subuh dulu," ucap Nada sambil menatap ke arah Radit dengan teduh.


"Hem, kita mandi bersama, setelah itu kita menghabiskan waktu di sini seharian," ucap Radit. Nada membelalakkan mata indahnya.


"Seharian?" Nada bertanya sambil menelan ludah dengan susah payah. Hari ini memang hari minggu, dan tentunya keduanya sama-sama libur bekerja.

__ADS_1


"Hem," jawab Radit.


Nada mendorong dada Radit sehingga manusia tampan itu terkekeh dan malah melingkarkan tangannya di pinggang Nada.


"Aku mau mandi," ucap Nada lagi.


"Oke," sahut Radit.


"Aku mandi sendiri," ucap Nada lagi.


Nada hampir saja berdiri, namun daerah intimnya terasa sangat sakit sehingga dirinya meringis kesakitan. Radit tau, Nada masiih merasakan sakit karna keni kmatan semalam.


Tanpa aba-aba Radit menyambar tubuh ramping Nada dan mengangkat tubuh Nada ke arah kamar mandi.


Sontak Nada mengalungkan tangannya ke leher Radit. Aish, kenapa Radit sangat manis sekali? Radit menggigit bahu Nada dengan gemas, Hingga Nada tampak membolakan matanya menatap ke arah Radit, sehingga pada akhirnya keduanya sampai di kamar mandi.


"Kenapa masih di situ? keluarlah," geram Nada. Bukannya keluar, Radit malah ikut masuk ke dalam batup dan membuat Nada berdiri tiba-tiba.


Radit menarik tangan Nada sehingga dia jatuh di pangkuan Radit yang duduk di pinggiran bathup. Nada yang takut terjatuh mengalungkan tangannya di leher Radit. Radit tersenyum tipis, netranya memandang bibir Ranum merah muda yang sangat dekat dengannya.


Bibir yang tampak menggoda karna basah terkena tetesan air. Aish, semua yang ada pada Nada tampak menggoda dirinya. Radit mendekatkan bibirnya ke arah Nada, dengan perlahan menyambar bibir istrinya dengan lembut.


Nada memejamkan matanya, dirinya tak sanggup untuk menolak, bahkan dirinya merasakan keni*kmatan. Radit tak tinggal diam, tangannya mengelana di bawah sana dan bermain maju mundur di hutan belantara. Nada merasakan tubuhnya bergetar hebat karna permainan suaminya itu.


Tak hanya puas di hutan belantara, Radit kembali berkelana memainkan bukit tinggi himalaya yang membuat pemilik gunung kembar itu tampak membusungkan dadanya. Membuat dar ahnya seakan mendidih.


Lenguhan terdengar bersahutan, Keduanya saling berpandangan, Radit merasakan miliknya kembali menegang sempurna.

__ADS_1


"Biarkan belut masuk sebentar saja," ucap Radit penuh damba.


Nada memejamkan matanya, ingin menolak tapi tubuhnya meminta. Aish, dosakah? Tanpa mendengar persetujuan Nada, Mantan casanova itu membawa Nada berdiri dan merapatkan tubuh Nada ke dinding, Radit menyingkap lingerie yang menutup. Setelah sudah terbuka aksesnya, belut Raksasa milik Radit itu mulai melanglang buana. Masuk ke dalam lubang yang memberikan kenikmatan yang seperti candu.


Radit bergerak maju mundur membuat Nada membuka dan memejamkan matanya silih berganti karna kenikmatan yang diberikan, dan juga karna dirinya mencari kepuasan dan kenikmatan.


"Dear, sebut namaku," ucap Radit di tengah ******* yang terdengar di kamar mandi itu.


"Kenapa?" tanya Nada di tengah kenikmatan yang dia rasakan.


"Sebut namaku agar kamu selalu ingat, bahwa hanya aku yang bisa memberikan kenikmatan seperti ini," ucap Radit.


Nada mengangguk pelan, anggukan Nada membuat Radit bersemangat dan semakin bergerak memaju mundurkan pinggulnya memberikan kenikmatan pada dirinya dan juga Nada.


"Sebut namamu Dear," pinta Radit di tengah Nafas yang semakin memburu. Nada terdiam, Radit menyesap bulatan diatas gunung yang kini menegang hebat. Disesapnya bergantian Membuat Nada mendesah hebat.


"Ahk, Marvel." desah Nada saat mencapai puncak kenikmatan dan mampu membuat senyuman tipis di bibir Radit.


Waktu terus bergulir, setelah beberapa saat membersihkan badan dan shalat berjamaah. Kini mereka menghabiskan waktu di atas tempat tidur.


Radit meletakkan kepalanya di pangkuan Nada, menggenggam erat tangan Nada dan menciumnya beberapa kali. Masih jelas terasa bagaimana nikmatnya permainannya dengan Nada semalam dan barusan tadi.


"Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku," Radit menatap Nada dengan sorot mata teduhnya.


"Apa?" tanya Nada sambil mengusap wajah Radit yang begitu halus itu.


"Aku sangat penasaran, apa yang membuat dirimu berada di bar waktu itu?" tanya Radit. Nada membelalakkan matanya dan memandang ke arah Radit. Haruskah dia menjawab dengan jujur?

__ADS_1


😀😀😀😗


__ADS_2