Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 7


__ADS_3

Nada dan Rafa menikmati makan malam dengan lahab di sebuah restauran yang tak jauh dari rumah sakit. Nada mengamati Rafa yang tampak murung setelah selesai makan.


"Kakak kenapa?" tanya Nada.


"Aku hanya menghawatirkan Amara. Dia menikah dengan orang yang menoreh luka di hatinya, bagaimana bisa dia bahagia," ucap Rafa. Nada tersenyum dan menatap Rafa.


"Kak, percayalah. Jodoh sudah ada yang mengatur, jodoh juga tidak akan salah tempat. Jadi kakak tidak usah khawatir," ucap Nada bijak.


Nada memejamkan matanya, kenapa bisa dia menasehati Rafa, sedangkan dia tidak bisa menasehati dirinya sendiri? Lelucon macam apa yang dibuatnya?


"Terimakasih, Nada. Setidaknya kakak lega mendengar ucapanmu," sahut Rafa.


"Sama sama, Kak," ucap Nada.


"Lalu, kapan kamu sendiri menikah?" tanya Rafa sambil menyeruput kopinya. Nada menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya.


"Aku belum menemukan orang yang tepat, Kak. Kakak aja duluan, aku belakangan," ucap Nada. Rafa tersenyum dan menggenggam tangan Nada yang berada di atas meja. Membuat perasaan Nada tak beraturan. Seharusnya dia tidak boleh membiarkan Rafa menyentuhnya, namun egonya terlalu besar sehingga mengalahkan akal sehatnya.


"Kakak bahagia jika melihat adik-adik kakak bahagia. Menikahlah, Nada. Carilah bahagiamu," ucap Rafa kemudian bangkit dan melangkah pergi.


Nada menghela napas panjang dan menahan sesak di dadanya. Nada menatap punggung Rafa yang menjauh darinya. Rasa sesak menderanya.


"Aku mencintai mu, Kak Rafa." ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa dia minta.


"Nada, aku berharap kau bahagia dengan orang lain. Aku tau kamu menyimpan rasa cinta, tetapi aku tidak bisa lebih dari hubungan kita saat ini," lirih Rafa di luar reatauran, netranya mengamati wanita cantik berhijab yang mengusap air matanya. Dia pun melangkah pergi setelah memastikan Nada beranjak dari tempatnya.


Nada melangkahkan kakinya dan berjalan tanpa arah. Hatinya begitu sakit, dia tau Rafa mencintai orang lain.


Brak

__ADS_1


Nada terkejut saat dia menabrak meja seseorang. Makanan di atas meja tampak berantakan.


"Kalau jalan pake mata jangan ngelamun!" ucap seorang yang kini membersihkan baju karna terkena jus yang di tumpahkan Nada.


"Maaf Mbak, aku tidak sengaja. Aku akan menggantinya," ucap Nada panik.


"Maaf, memang bajunya bisa kering dengan permintaan maafmu itu?" bentak wanita itu.


"Saya juga akan ganti rugi mbak," ucap Nada. Orang itu tampak kesal dan berdiri, ia menatap Nada dengan sorot mata tajam.


"Maaf mbak," ucap Nada lagi. Seorang pria tampak menatap tajam ke arah dua wanita yang tengah beradu mulut itu.


"Apa yang bisa kau lakukan untuk mengganti kerugiannya?" tanya suara serak yang kemudian mengalihkan perhatian Nada. Sejenak mereka saling memandang. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Kau?!!!" ucap Nada tampak terkejut.


"Sayang, kau mengenalnya?" tanya wanita yang berada di depan Radit. Radit mengangguk pelan dan menatap sinis ke arah Nada. Gara-gara wanita di depannya Micho marah padanya dan sampai saat ini kakaknya itu mendiamkannya.


Nada menghela napas panjang dan mengambil cek didalam tasnya.


"Tulis berapapun yang kalian mau, jangan mengajakku untuk bermalam bersamamu!" ucap Nada sambil meletakan cek di atas meja kemudian melangkah.


Radit mengernyitkan dahinya, dia tidak terima dengan tuduhan Nada. Radit menarik tangan Nada hingga mereka saling berhadapan dengan sorot mata yang tajam. Nada merasa takut dengan orang di depannya yang kini mencengkram erat tangannya.


"Lepaskan," ucap Nada sambil menarik erat tangannya. Radit menggeleng dan tampak emosi.


"Kau pikir uangmu bisa menyelesaikan persoalan? Jangan sombong, Nona. Tidak semua bisa di selesaikan dengan uang!" ucap Radit. Nada menghela napas kasar.


"Kau pikir kau cantik sehingga mengira aku mengajakmu bermalam? Jangan mimpi, banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih cantik dari wajahmu itu," ucap Radit kemudian menghempaskan tangan Nada. Nada merasa nyeri yang amat luar biasa.

__ADS_1


"Astagfirullah" ucap Nada lirih.


Radit mengambil cek diatas meja dan merobek cek di depan wajah Nada. Meremas cek itu dan membuang ke tempat sampah di sampingnya.


"Itu tempat yang patut untuk untuk sampah yang berserakan," ucap Radit kemudian melenggang pergi. Nada menatap punggung Radit yang menjauh dari tempatnya.


"Jangan membangunkan singa yang tertidur, Nona cantik," ucap wanita cantik berpakaian seksi itu di telinga Nada. Wanita itu pergi meninggalkan Nada. Nada menghela napas panjang dan pergi dari tempat itu.


🎀🎀🎀🎀


"Sayang, kau kenapa? Siapa wanita tadi?" tanya Selena, wanita cantik yang sering berkencan dengan Radit.


"Dia tidak penting, sekarang kau pulanglah baby. Aku ada urusan di dekat sini bersama kakakku," ucap Radit. Selena mengangguk pelan. Radit memberikan cek pada Selena dan memintanya pulang sendiri.


"Aku pulang sekarang, Sayang," ucap Selana.


Radit menahan Selena, satu tangan Radit memegang tengkuk Selena, memberikan ciuman di bibir seksi milik Selena. ******* benda kenyal itu dengan rakus, satu tangannya meremas dua gundukan yang terhalang kain penyangga.


Ciuman itu semakin dalam, semakin dalam dan membuat keduanya terbuai dalam kenikmatan surga dunia yang tak tentu arah.


"Argghhh," Suara d*s*han Selena membuat Radit tersenyum kemudian melepas wanita cantik itu.


"Pulanglah," pintanya dan diangguki oleh Selena. Selena melangkah pergi. Radit menatap punggung wanita itu dengan tenang.


"Amara, hanya kamu yang terpikir di otakku saat aku bersama mereka, kau sebenarnya ada dimana?" lirih Radit.


🎀🎀🎀🎀


Jangan lupa ritualnya ya... Like komen, kembang kopinya, eak eak😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2