
Radit menatap Zifana dengan tenang, meskipun dia sangat terkejut mendapati wanita itu di depannya.
"Zifana," ucapnya sambil menatap ke arah wanita yang menatapnya dengan linangan air mata.
"Minggir," ucap Radit.
"Aku ingin kita bicara," sahut Zifana.
"Bicara apa? Aku tak ada waktu meladenimu Nona," balasnya.
"Tolong kali ini saja dengarkan aku," ucap Zifana sambil melangkah Maju.
Radit hanya diam, bahkan untuk menatap wajah wanita yang sejak dulu dijodohkan dengannya itu tak mampu dia lakukan. Zifana pernah menolaknya sebelum pertemuan mereka, Zifana menganggap Radit adalah lelaki tua yang hanya akan merepotkan dirinya.
Hingga pada akhirnya Radit tak pernah muncul, dan mereka bertemu di MRD group saat itu. Hais, setelah di injak apa dia harus berbaik hati? Bagi Radit tak ada sampah yang pantas di pungut kembali. Hanya pemulung yang akan membawanya ke tempat yang semestinya.
"Aku bilang tidak ada waktu, minggirlah Zifana Sinatria!" sentaknya sambil mendorong tubuh Zifana.
Zifana menarik tangan Radit kemudian berjinjit mengambil satu ciuman di bibir Radit. Memberikan satu kecupan yang sanggup membuatnya membeku. Akan tetapi, membuat rasa marah membuncah di benak Radit ketika mendapati wanita itu begitu lancang dengannya.
Radit mendorong tubuh Zifana sehingga wanita itu menjauh darinya. Radit menatapnya dengan tajam. Yang ada di pikirannya hanya Nada, bertemu dengan Nada.
"Kau terlalu berani Nona Zifana," ucapnya sambil mengusap bibirnya yang basah.
Zifana menatap Radit penuh damba, mencoba mengemis perhatian dari seorang Marvel Raditia Dika.
"Aku mencintaimu Radit, tolong lihat aku sebentar saja. Aku mencintaimu, kau tidak bisa menyiksaku seperti ini," ucapnya.
"Aku tidak pernah melakukan apapun bahkan untuk menyiksamu. Semua yang kau lakukan adalah buah dari kesalahanmu sendiri, Zifana Sinatria! Minggir aku bilang!" sentaknya kemudian mendorong Zifana menjauh darinya.
Radit melenggang pergi, dia harus ke rumah sakit sekarang untuk menemui istri tercinta.
__ADS_1
Zifana menghapus air matanya. Bahkan Radit tak sedikitpun mau melihat ke arahnya. Zifana mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang berada di sebrang sana.
"Aku mau kau lenyapkan wanita yang aku kirimkan fotonya ke ponselmu, aku tidak mau tau. Lenyapkan dia malam ini juga," tegasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan mansion utama keluarga Radit.
Zifana menancap gas mobilnya, nama Nada terukir di otaknya dengan segala kebencian. bersemayam di hatinya dengan segala kedengkian.
"Nada Aira, kau harus hancur, jika aku tidak bisa memeiliki Radit. Maka kau juga tidak akan pernah bisa hidup bahagia dengannya." ucap Zifana dengan tangan yang terkepal kuat.
🎀🎀🎀🎀🎀
Sorot mata tajam Vino memandang ke arah lalu lalang orang yang yang kini tengah berbahagia di bawah sana. Vino memejamkan matanya, hatinya bergemuruh marah mengingat ucapan Radit. Dari ruangannya yang berada di lantai lima puluh, Vino menatap indah pemandangan di bawah.
Vino menatap luar jendela dengan perasaan yang campur aduk, bahkan saat ini pikiranya memikirkan keadaan Nada yang berada dalam gosib yang begitu panas. Emely yang entah bagaimana keadaanya, namun yang melekat di hatinya justru adalah nama Micel.
Kenapa hatinya tak bisa melupakan wanita-wanita yang ada hubungannya dengan Radit itu? Kenapa? Kenapa selalu saja dirinya harus berurusan dengan Radit?
Tangan Vino teekepal kuat, dirinya dan Radit sama-sama memiliki wajah tampan. Memiliki kekuasaan. Akan tetapi Radit selalu mendapatkan apa yang dia mau, sedangkan dirinya harus selalu mengalah? Oh No, mengalah apa memang kalah? Vino menghela napas kasar. Kali ini dia tidak bisa diam, jika Nada menjadi milik Radit. Maka Micel harus menjadi miliknya.
Vino mengambil ponselnya, menatap satu foto wanita cantik yang sempat bertunangan dengannya. Alexa Asyila, wanita yang masih mempunyai tempat di hatinya. Namun, dua tahun yang lalu suatu kabar kecelakaan terdengar di telingannya. Kabar yang sampai sekarang tak tau kebenaranya, entah Asyila benar-benar meninggal atau pergi entah kemana.
Vino menggeser ponselnya dan menatap wajah cantik Micela, Vino menghela napas panjang.
"Entah bagaimana nantinya hubungan kita, aku akan mendekatimu. Sampai aku bisa melupakan Nada dan hanya mengingatmu, Micela," ucap Vino. Vino berdiri sambil berjalan ke araj parkiran. Dia akan menuju ke rumah sakit dimana Micel berada. Bertemu Radit? Dia tidak perduli itu.
🎀🎀🎀🎀🎀
Gino sinatria, lelaki yang memdapatkan kabar dari Zifana bahwa Nada tengah hamil itu mengepalkan tangannya. Ginoe menghela napas dalam-dalam. Apa yang harus dia lakukan? Nada hamil anak orang lain? Apa dirinya tetap harus mengejarnya? ****, kenapa bisa dia tertinggal satu langkah?
Nada, wanita itu telah menjadi obsesinya, dia harus memiliki wanita itu, bahkan hidup atau mati sekalipun.
Gino melangkah pergi, dia harus ke rumah sakit saat ini juga.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀
Di pelataran rumah sakit, tiga mobil dari arah yang berbeda saling berhadapan. Penumpang dari masing-masing mobil segera keluar. Radit dengan wibawa dan ketampanannya berjalan menaiki anak tangga.
Sedangkan Vino masih jauh di belakang berjalan dan ingin segera bertemu dengan Micel.
Begitu juga dengan penumpang mobil satunya. Gino sedikit terburu karna ingin segera melihat kondisi Nada.
Di lantai yang sama para wartawan yang sudah kembali menunggu Nada keluar akan tetapi, netra mereka mendapati tiga pengusaha kaya yang saat ini berjalan dengan segala pesona menuju ke arah mereka dari arah yang berbeda.
Marvel Raditia Dika dengan segala karisma dan ketampanan yang melekat di dirinya. Rezhidan Alvino Pradikta dengan segala pesonanya. Gino putra Sinatria dengan senyum sinis yang mempesona.
"Lihat, apa mereka kesini untuk nona cantik itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Wah, amazing. Mereka tampan sekali, apa memang mereka di foto itu?" tanya yang lainya.
"Siapa ayah dari bayi itu?" tanyq lainya lagi.
"Sebaiknya kita bertanya pada ke tiganya," jawab yang lain lagi.
Mereka melangkah maju. Radit, Vino dan Gino terkejut dan berhenti saat wartawan berada di depan mereka secara tiba-tiba.
"Maaf Tuan-Tuan, boleh kami bertanya sesuatu?" ucap salah satu wartawan. Pertanyaan itu membuat ketiganya tercengang. Tuan-tuan? Artinya banyak, Radit, Vino dan Gino mengedarkan pandangan. Mereka terkejut saat memandang satu sama lain. Ketiganya mengepalkan tangannya dan saling berdiam.
🎀🎀🎀🎀
Nada memejamkan membuka matanya, dilihatnya mama mertua dan nenek yang tersenyum kepadanya.
"Nak, kamu sudah sadar? Terimakasih telah memberikan hadiah yang indah pada kami, nenek bahagia sekali. Nenek tambah bahagia lagi kalau para readers, memberikan juga like, komen, vote dan hadiah pada author ramah di hari senin ini,"😆😆😆 ucap nenek sambil tersenyum.
Nada tampak bingung, apa maksud dari nenek?
__ADS_1
😆🎀🎀🎀🎀