
"Oke, sebaiknya kita pulang. Ini sudah malam, kamu harus istirahat. Biarkan baby kita juga istirahat. Aku yakin, dia sangat sedih tadi melihat kita bertengkar," ucap Radit.
Nada menghela napas panjang dan mengusap sisa air mata yang jatuh membasahi pipinya. Radit membantu mengusap juga pipi istri cantiknya itu. Menggenggam tangan halus dengan jemari lentik yang berhiaskan cincin pernikahan.
"Hem, sebaiknya kita pulang. Mama, nenek dan kakek sudah berulang kali menghubungiku. Pasti mereka hawatir hingga jam segini aku masih belum pulang juga," ucap Nada. Tanganya terulur untuk mengambil paper bag yang berisi daster cantik yang dibelinya dari Mol.
"Apa yang kamu beli Yang?" Radit menatap ke arah paper bag itu, Nada tersenyum dan membuka paper bag cantik itu kemudian mengeluarkan daster cantik yang tadi di pilihkan oleh Micela. Radit tersenyum dan memandang daster bermotif gambar bunga dan kupu itu.
"Cantik kan?" Nada tampak girang dan kembali memasukan Baju ke paper bag lagi.
"Cantik, tapi kecantikan siapapun dan kecantikan apapun tak pernah bisa menyaingi kecantikan dari Nada Aira Azzahwa istri tercintaku," ucap Radit.
Nada menatap Nada dengan tenang, senyum indah terukir di bibir Nada yang kini menatap Radit dengan bahagia.
"Kamu gombal, gombal sekali. Sampai aku tidak pernah bisa jauh darimu karena ini. Hati istri yang mana yang mampu membenci orang sepertimu? Aku sangat mencintaimu, Tuan Marvel Raditia Dika," ucap Nada.
"Aku tau itu, bahkan pesona dari Marvel Raditia Dika tak pernah ada yang menandingi. Buka bukankah begitu?" tanya Radit Nada terkekeh dan melepaskan genggaman tangan Radit.
"Hem, memang begitu." jawab Nada.
Deringan ponsel Nada terdengat kembali, segera Nada mengambil ponselnya dan melihat kontak mama Mira di sana.
"Asalamualaikum, halo ma," Nada menyapa.
"Waalaikumsalam, Sayang. Dimana saja? Kami sedari tadi menghubungimu Nak. Kami menghawatirkanmu," ucap Mama Mira tampak panik.
"Nada masih di butik Ma, ada Mas Marvel juga di sini, mama tidak usah menghawatirkan Nada." ucap Nada sambil menatap ke arah Radit.
"Cepatlah pulang, kita makan malam bersama. Mama juga mau mengundang Micel dan juga keluarga Vino." Mama Mira menjelaskan. Nada tersenyum tipis.
"Oh, kalau begitu kami akan segera pulang Ma," jawab Nada.
"Okey Sayang, hati hati jangan ngebut," ucap Mama Mira di sebrang.
"Iya Ma," jawab Nada lagi.
"Asalamualaikum,"
"Waalaikumsalam Ma,'
Nada menutup ponselnya dan meletakkan kembali ke dalam tas. Radit menatap istrinya dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Radit.
"Kita harus segera pulang, di rumah akan ada makan malam bersama," jawabnya.
Radit merangkul pundak Nada, kemudian mengangkat wanita cantik yang tengah berbadan dua itu. Nada seketika melingkarkan tangannya pada Radit. Menampakkan wajah yang kesal pada suaminya itu.
"Mari kita pulang, Nona Muda," ucapnya kemudian melangkah ke luar ruangan.
"Kenapa di gendong? Aku bisa jalan sendiri, malu juga di lihat karyawan di depan Yang," gerutu Nada. Radit tak menghiraukan ucapan Nada. Dia membuka pintu ruangan dengan lututnya dan berjalan ke luar.
Sifa yang kini sedang memberi arahan pada bawahannya, kini menoleh dan melihat keromantisan sepasang suami-istri itu hanya tersenyum.
"Sifa, kami pulang," ucap Nada yang sebenarnya sangat malu sekali. Akan tetapi memberontak pun percuma. Radit tak akan pernah mau menurunkannya.
"Baik Bu, Pak," jawabnya sambil tersenyum. Para karyawan hanya tersenyum melihat kelakuan big bos Sheyna bontique itu.
Radit membawa Nada pergi ke parkiran, mendudukkan Nada di sana, memasang sabuk pengaman buat Nada, kemudian menancap gas mobilnya.
βΊπΉπΉπΉπΉπΉ
Vino memijit pelipisnya, menghubungi ponsel papanya dan tak kunjung mendapat jawaban, dia ingin mengatakan bila tak bisa ikut acara, suasana hatinya saat ini kacau dan tak menentu. Undangan makan malam bersama dengan Keluarga MRD membuat Vino beberapa kali menghubungi Micel dan tak diangkat dan membuat dirinya emosi. Puncak emosinya ketika ternyata Micel tak ada di rumah, dan dia malah mendapatkan kabar jika Micel di serang.
Rasa hawatir merasuk dalam hatinya hingga dirinya harus mencari Micel. Akan tetapi entah rasa apa yang menggelayut ketika melihat Micel bersama dengan lelaki lain.
"Kak, lihat tanganmu. Kau harus ikut denganku, aku akan mengobatimu dulu," ucap Micel. Vino tampak mengabaikan Micel dan enggan memberi kabar tentang makan malam lagi.
Vino melirik ponselnya lagi. Lagi-lagi tak ada jawaban dari papanya. Vino mengepalkan tangannya. Vino mengibaskan jasnya dengan elegan kemudian menatap ke arah Micel.
"Lepas tanganmu," ucap Vino dingin.
"Tidak akan, ada apa kakak tadi menghubungi?" tanya Micel mencoba mencairkan suasana.
Vino terdiam, menarik kasar tangannya dan meninggal Micel mematung di tempat. Vino menancap gas mobilnya melewati jalanan yang sepi. Pikirannya melayang jauh. Nama Micel Adelia terngiang di otaknya. Apa yang sebenarnya mendera perasaannya?
"Micela," lirihnya.
Micel mengepalkan tangannya, haruskah dia selalu mengalah seperti ini? Apa mau dari Vino? Kenapa selalu berubah ubah? Micel memejamkan mata indahnya, air matanya mengalir deras.
Vino yang masih bisa melihat Micel di belakang sana dari kaca spion merasakan sesak ketika melihat Micela tampak kecewa. Vino kembali memutar mobilnya dan berhenti tepat di samping Micela.
"Masuklah," ucapnya. Micel membuka mata indahnya. Melirik ke arah mobil Vino yang tebuka dengan sendirinya.
__ADS_1
"Masuk atau aku tinggal, Rendi mungkin sudah pergi dan Nicho sepertinya juga tidak di sini," ucapnya. Micel menghapus air matanya kemudian menutup pintu dengan keras sehingga Vino terkejut.
"Aku tidak butuh tawaranmu," Micel berjalan ke arah mobilnya yang tadi di bawa dengan Rendi. Rendi? Entah kemana dia tak menampakan batang hidungnya.
Micel menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati mobil Vino. Vino terkejut dan mengejar laju mobil yang berjalan dengan kecepatan Maksimal itu.
"Micela?" ucapnya lirih. Vino tampak khawatir saat Micel tampak oleng dan tak berarah. Vino mencoba mengkhlakson dan menghentikan laju mobil Micel. Akan tetapi Micel tak menghiraukan.
Vino tampak geram dan menambah gas kemudian memaksa berhenti di depan mobil gadis cantik itu.
Cittttt
Suara decitan mobil Vino dan Micel yang berhenti dengan dadakan di tepi jalan. Vino keluar dari mobilnya dan mengetok pintu mobil Micel. Micel keluar dengan sorot mata tajam. Vino menatap Micel dengan tajam juga.
"Apa kau berencana mati muda Nona Micela adelia? Kenapa membahayakan nyawamu?" bentak Vino dengan geram.
"Apa perdulimu? Jangan menganggu jalanku, singkirkan mobilmu!" bentak Micel. Vino memejamkan matanya.
"Aku suamimu, Apa kau lupa?" tanya Vino. Micel menatap Vino dengan sorot mata benci. Micel mengamati Vino, ia yakin sedang tidak baik-baik saja.
"Suami? Suami macam apa?' tanya Micela. Vino memejamkan matanya. Hatinya serasa kacau. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat hatinya marah. Vino masih terdiam dan mengusap kasar wajahnya.
Vino maju beberapa langkah, sepertinya dia harus berdamai dengan keadaa. Micel hanya korban dari orang masa lalunya, sehingga terlibat sejauh ini pada manusia jahat itu. Tak seharusnya dia memperlakukan Micel seperti ini.
Micel mendongak dan menatap Vino yang tampak gelisah. Vino memegang kedua pundak Micel dan menatap Micel dengan tenang.
"Maafka aku, Gadis." ucap Vino sambil memandang Micel dengan tulus. Micel tampak mengusap kasar wajahnya dan menatap Vino. Panggilan Vino yang terdengar merdu di telinganya membuat Micel merasakan desiran hangat di hatinya. Akan tetapi saat ini benci lebih mendominasi.
"Maaf katamu?" tanya Micel sambil menggelengkan kepalanya.
Vino memejamkan matanya dan meraih tangan Micel, menunjukkan pada Micel bahwa dia bersungguh-sungguh. Micel menatap tangannya yang di genggam erat oleh Vino. Sebenarnya ada sebuah Kenyamanan yang dirasakannya.
"Jangan banyak bicara, aku tidak punya banyak waktu. Lepaskan tanganmu, Tuan Vino!" ucap Micel dengan tegas. Micel menarik tangannya dari genggaman Vino dan membuka pintu mobil.
Vino menahan pintu mobil sehingga membuat Micel tampak marah. Micel yang tampak marah menatap Vino dengan sorot mata tajamnya. Vino menatap Micel dan menarik Micel dalam dekapannya.
Micel tampak merasakan kedamaian. Vino mengusap pelan punggung Micel. Micel terkejut dan tampak mematung, pelukan yang seperti ini adalah pelukan yang pernah dirasakan saat di peluk oleh Radit, kakaknya.
"Tenangkan dirimu, Baby. Tenangkan dirimu," ucap Vino pelan. Micel yang sedang emosi tampak sedikit tenang. Vino melepas pelukannya dan menatap Micel dengan sorot mata teduhnya.
"Mama Mira mengundang kita makan malam, Mama Elina dan Papa Pradikta sudah menuju ke sana. Kak Radit dan juga kakak ipar juga sudah mengirim pesan," ucap Vino.
__ADS_1
ππππ