Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Berkunjung ke rumah Micho


__ADS_3

Radit memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang besar di pinggiran jalan. Nada menatap ke arah rumah yang beberapa tahun silam dia datangi. Rumah yang saat itu mempertemukan dirinya dan Amara dengan seorang ibu, asisten rumah tangga yang baik hati.


Jika Radit berkata dia punya ibu angkat, apakah wanita itu? Entahlah. Radit segera turun dan membuka pintu untuk Nada. Nada keluar sambil membawa paper bag, bingkisan untuk Amara dan Baby Zie. Keduanya memutar pandangan saat melihat banyak sekali mobil berjejer di sini. Ada apakah?


Segera Radit menggandeng tangan Nada dan mengajak Nada untuk segera naik ke atas sana. Menapaki anak tangga menuju ke pintu utama.


"Yang, apa ada acara?" tanya Nada. Radit menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


Entah, Nada merasa gugup sekali, tanganya menggenggam erat jari jemari Radit yang sepertinya sama gugup juga sepertinya.


"Asalamualaikum," Radit membuka suara. Mengucapkan salam kepada penghuni rumah yang ternyata sangat ramai.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Beberapa orang yang berada di ruang tengah menatap ke arah Radit dan Nada. Semua mata terpesona dengan pasangan yang kini sedang berdiri di depan pintu.


Amara dan Micho yang saat ini sedang mengamati baby Zie yang tengah di gendong oleh Mama Hana dan Papa Rusdi tampak mengamati seseorang disana.


Amara melangkah, memisah dari kerumunan. Netranya mengamati pasangan yang mencuri banyak perhatian itu. Amara tersenyum, baru dia percaya bahwa itu Nada dan Radit. Orang yang dekat dengannya dan Micho. Amara menatap Micho yang sama terkejutnya. Keduanya berjalan ke arah Nada dan Radit.


"Nada," Amara berjalan ke arah Nada dan memeluk sahabat baiknya itu. Nada yang sama juga merindukan Amara memeluk Amara.


"Rara, aku merindukanmu," lirih nya. Hampir satu setahun tidak bertemu membuat mereka saling merindukan.


"Aku juga merindukanmu," ucap Amara menyambut Nada.


Radit menatap kakaknya, Micho mengamati Radit dari atas sampai bawah penampilan Radit benar benar-benar berbeda. Ceo MRD group, orang terkenal tetapi sejak kecil hidup bersamanya? Seorang yang sangat susah dibilangi. Pemabuk dan pemain wanita itu kini berubah drastis.


Micho dan Radit saling berpelukan erat.


"Kakak," sapa Radit. Radit menghela napas panjang. Micho tampak bahagia, Radit ternyata orang yang istimewa dibalik semua keunikannya.


"Hei, kau hebat bisa mendapatkan hati Nada Radit," goda Micho saat mengamati Nada yang kini tengah melepaskan pelukannya pada Amara.


Mereka melepaskan pelukannya dan menatap ke arah orang orang yang berkerumun di sana.


"Ada acara apa?" tanya Radit.


"Tiga bulanya baby Zie tadi, makanya pada ngumpul diaini." jawab Micho. Nada dan Amara saling memandang.

__ADS_1


Amara menatap Radit yang kini menatapnya juga. Nada memejamkan matanya, rasa cemburu menyelinap masuk dalam benaknya.


"Hei adik ipar, jangan menyakiti hati Nada Aira azzahwa sahabatku, kalau sampai menyakiti awas saja. Aku tidak akan tinggal diam," ucap Amara sambil merangkul pundak Nada.


Radit dan Micho tertawa, Micho tau, pernah ada nama Amara di hati Radit. Tapi dia yakin, bahwa Nada telah memiliki hati Radit seutuhnya.


"Kau tenang saja, Nada pelabuhan cintaku. Terimakasih telah mempertemukan aku dan Nada di clup kalau itu. Mabukmu membuat aku bertemu bidadari cantik di sana," ucap Radit sambil tertawa.


Nada membelabakkan matanya, Micho menautkan alisnya. Sedangkan Amara menatap Radit dengan jengkel.


"Oh, jadi aku penghubung cinta di club malam? Kenapa aku begitu jelek sekali?" tanya Amara.


Nada terkekeh pelan dan menatap Amara yang kesal. Micho mengamati wajah istrinya dan mengingat saat Nada membawa Amara yang tengah mabuk ke apartemen waktu itu.


"Sepertinya memang kalian ditakdirkan untuk bersama, bahkan aku dan Amara memang berencana menjodohkan kalian," ucap Micho. Mereka tertawa bersama.


"Kalau begitu ayo kita masuk, disana ramai sekali," ucap Amara.


Amara menggandeng tangan Nada dan membawa wanita berhijab itu ke ruang tengah.


"Kejutan," teriak Amara dengan segala keriangannya.


"Nada," sapa Mama Hana sambil mendekat ke arah Nada. Mereka semuanya bercengkrama dan melepas Rindu. Mereka semua merasa bahagia bahwa Nada telah menemukan tambatan hati.


"Wah ramai sekali, kebetulan aku membawa banyak makanan, mari kita makan bersama," suara yang tiba-tiba terdengar disela kesunyian.


Suara itu membuat orang-orang itu menoleh bersamaan. Rafa datang dengan beberapa kantong plastik di tangannya.


Rafa yang sangat sulit menghubungi Amara memilih menghubungi orang rumah dan mendapatkan kabar jika orang di rumah sedang ke rumah Micho dan Amara yang sedang mengadakan acara tiga bulanan.


Rafa pun membelikan banyak bungkusan makanan mengingat ada banyak orang di sana. Diluar dugaannya ternyata Andika dan Bima juga datang bersama istrinya.


"Kak Rafa," sapa Nada pada Rafa yang kelihatan sibuk.


Mendengar namanya di sebut membuat Rafa mengarahkan pandangan pada suara yang tak asing di telinganya.


Rafa menatap ke arah Nada yang kini menatapnya.


"Nada," sapanya kemudian meletakkan beberapa kantong plastik. Rafa melangkah ke arah Nada dan mengamati wajah cantik yang telah dianggapnya sebagai adik itu. Rafa tersenyum, tangannya terulur untuk memeluk Nada. Tidak tau saja bila di belakang Nada ada Radit yang dari tadi merasa panas karena panggilan Nada pada Rafa.

__ADS_1


"Selamat sore, Tuan Rafael Rusdiantoro," ucap Radit dan sanggup menghentikan gerakan Rafa.


Rafa menatap ke arah Radit dan tersenyum. Rafa mengamati wajah tampan Radit yang dulu pernah bertemu dengannya. Saat itu, malam hari di depan apartemen Nada. Radit mengulurkan tangannya dan disambut oleh uluran tangan Rafa.


"Perkenalkan Marvel Raditia Dika, suami dari Nada Aira Azzahwa," ucap Radit dengan mengeratkan genggaman tangan pada Rafa. Seolah menegaskan bahwa Nada hanya miliknya.


Nada menghela napas panjang, menatap Amara yang kini juga menatapnya. Amara tau, Radit pasti cemburu karna dulunya cinta Nada seutuhnya untuk kakaknya itu.


"Okey Tuan Marvel Raditia Dika, aku Rafael Rusdiantoro, seperti apa yang Anda ucapkan tadi. Aku kakak dari dua wanita cantik di sampingmu," ucap Rafa kemudian melepaskan tangannya dan menepuk pundak Radut.


"Nada, bilang padanya aku adalah kakakmu. Katakan pada Kakak jika dia menyakitimu, akan kakak habisi dia saat itu juga," ucap Rafa dengan keketusannya dan melenggang pergi. Rafa menghela napas panjang. Kenapa banyak pasangan dia sendiri yang masih jomblo? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


"Bik Asih minta tolong siapkan makan malam untuk kami ya..." ucap Amara. Acara tasyakuran sudah selesai. Tinggal mereka makan bersama dan berkumpul bersama.


Bi Asih mengangguk dan mengambil beberapa kantong plastik dari meja.


"Kalian Ikut aku, Biarkan para laki-laki menunggu disini sebentar," ucap Amara sambil menatap ke arah Sabrina, Zahira dan Nada.


Ke empat wanita cantik itu melenggang pergi, sedangkan putra putri mereka bersama ayah masing masing. Bima, Andika, Rafa, Radit dan Micho saling memandang diantara mereka berlima hanya Rafa dan Radit yang belum menggendong anak.


"Rafa, segera menyusul. Apa tak ingin seperti Kami?" goda Andika pada Rafa.


"Bukan aku saja, dia juga," ucap Rafa sambil melirik Radit.


"Jangan salah, aku sudah berhasil Tuan. Apa tidak tau perut adikmu membuncit karena keperkasaanku?" sewot Radit. Rafa mengepalkan tangannya. Sepertinya Radit masih saja menyimpan cemburu yang berhasil membuatnya terasa sebal saat ini.


"Bulan depan aku menikah, datang ke pernikahan ku. Akan kubuat pesta terbesar di dunia nantinya." ucap Rafa sambil melirik ke arah Radit.


"Omong kosong," decak Radit. Rafa menghela napas panjang. Memang dirinya asal ngomong saja.


Micho dan Andika juga Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Radit dan Rafa.


"Maaf Tuan Tuan, Nona Amara meminta kalian untuk segera berkumpul. Makan malam sudah siap," ucap Bi Asih dan diangguki oleh Micho.


"Mari kita makan," ucap Micho sambil menatap ke arah saudara saudaranya.


Mereka segera berjalan menuju ke ruang makan, berkumpul dengan Papa mama yang tadi ikut meramaikan acara tiga bulanan Baby Zie.


Mereka menikmati makan malam dengan hikmat. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนโคโคโคโค


__ADS_2