Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC. Ekstra part. Pistol


__ADS_3

"Kita pulang sekarang, ada hal yang harus kita lakukan," ucap Vino sambil menatap ke arah istrinya.


"Apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Micel.


"Kau akan tau Nyonya Vino," ucap Vino sambil mengangkat tubuh Micel. Micel merangkulkan tangannya di leher Vino.


"Aku mencintaimu, Nona Micel. Aku berharap bisa mempunyai malaikat kecil seperti Marvel di tengah pernikahan kita," lirihnya, Micel memejamkan mata indahnya. Bahagia dia rasakan.


Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil, Micel menikmati pemandangan yang indah di luaran sana. Sebenarnya hatinya dah dig duh tak karuan. Apa yang akan terjadi? Malaikat kecil? Saat ini hubungan dia dan suaminya sudah membaik. Apa Vino akan meminta haknya?


"Apa pemandangannya mengalahkah ketampananku? Kenapa kamu tampak suka sekali melihat kesana?" Vino bertanya sehingga Micel menoleh ke arahnya, narsis sekali lelaki itu.


Micel menatap wajah Vino, mengingat masa lalunya bahkan masa lalu suaminya membuat dia penasaran. Semenjak ingatannya kembali, Micel tak pernah membicarakan ini semua. Karna jika membicarakan tentang masa lalunya yang terjerumus dalam hal yang berbelok itu membuat Radit, Mama, bahkan kakek dan neneknya merasa gagal mendidik Micel.


"Aku hanya nerves," sahut Micel dengan malu. Vino menepikan mobilnya dan berhenti di sebuah apartemen mewah di sebrang jalan. Ditatap nya wajah istrinya yang memerah.


"Nerves?" tanya Vino meyakinkan.


"Hem," sahut Micela.

__ADS_1


"Ternyata pendekar sepertimu bisa nerves juga," ucap Vino sambil terkekeh pelan. Micel memejamkan matanya, apa Vino bisa membaca pikirannya? Dia ingin membahas hal ini.


"Aku nerves karna berhadapan dengan mafia yang handal, pandai menghabisi siapa saja yang melawan," jawab Micel. Vino terkekeh lagi, ditatapnya wajah Micel dengan antusias. Diusap nya pipi Micel yang bersemu merah itu.


"Itu dulu, tidak untuk sekarang. Kalaupun menuntaskan orang yang melawan, orang itu adalah kamu," ucap Vino santai.


"Kenapa aku? Kakak mau membunuhku?" tanya Micel sedikit emosi.


"No, Aku ingin menuntaskan gelora asmara yang saat ini membuncah di jiwa," jawab Vino. Micel memejamkan matanya.


Astaga, apa ini? Batin Micel merasa senang, tetapi juga merasa dag dig dug tak karuan.


Vino terkekeh dan keluar dari mobil, berlari kecil membuka pintu untuk istrinya.


"Aku menyisakan satu pistol untuk menembakmu," lirih Vino.


"Sepertinya kakak memang mau membunuhku," jawab Micel.


"Pistol untukmu sepesial, bahkan akan memberikan kemikmatan," ucap Vino. Tangannya terulur mengangkat tubuh Micel dan membawanya menaiki anak tangga menuju ke apartemen miliknya.

__ADS_1


"Aku pernah memegang pistol, dan aku sangat lihai memainkannya, aku yakin aku juga bisa memainkan pistolmu dengan baik," ucap Micel dengan bangga. Vino terkekeh pelan.


Beberapa ART membuka pintu dan berjejer rapi di sana. Micel menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vino, empat bulan sudah mereka menikah. Banyak sekali suka duka yang mereka rasakan.


Vino menurunkan Micel di ranjang king size, Vino membuka jasnya dan meletakan di gantungan. Micel berdiri meraih dasi Vino, membantu suaminya itu berganti pakaian. Ditatapnya wajah tampan seseorang yang mampu membuat hatinya bahagia tersebut.


"Apa aku sangat tampan?" tanya Vino dan mampu membuat Micel terkekeh.


"Hem, kakak sangat tampan, sampai sampai aku tak bisa lepas dari jerat cinta kakak yang sangat menyesatkan," ucap Micel.


"Ayo ikut aku, aku akan menunjukan pistol padamu," ucap Vino.


"Memang kakak menaruhnya dimana? Bukankah kakak mau mandi?" tanya Micel tampak antusias.


"Justru itu kamu bisa memainkannya sepuasnya," goda Vino.


Micel memejamkan matanya, apa maksudnya? senyuman malu malu terbit di bibir Micel saat menyadari sesuatu. Vino terkekeh dan melenggang pergi.


"Astaga," lirih Micel.

__ADS_1


😍😍😍😆😆😆😆


__ADS_2