
Di sebuah bandara di pulau J, jet pribadi mendarat dengan sempurna. Radit dan Nada turun dari pesawat kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Tampak dua orang tergopoh menuju ke arahnya dan membungkuk memberi hormat pada tuan dan nona mudanya, membawakan koper beserta beberapa perlengkapan milik tuan dan nona muda mereka.
"Mari silahkan masuk Tuan muda, Nona Muda," seorang ajudan yang dipersiapkan oleh om Hendra Wijaya membuka pintu mobil untuk Tuan muda dan Nona muda mereka.
Radit membuka pintu mobil untuk Nada, Nada masuk ke dalam. Radit kemudian memutar langkah masuk ke dalam mobil juga, mobil mewah berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan rata-rata.
Nada merasa lega telah sampai di pulau J dengan selamat setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam. Radit menatap ke arah istrinya yang masih betah mendiamkan dirinya sejak tadi.
Tak beberapa lama kemudian, sampailah mereka di depan rumah berlantai dua. Rumah sederhana, tempat kedua orang tua Nada bernaung. Pintu gerbang otomatis terbuka dan mobil mewah itu segera masuk ke halaman rumah.
Sopir paruh baya itu turun dan membuka pintu. Radit dan Nada keluar dari mobil dan disambut oleh beberapa pelayan yang sudah menanti dirinya sejak tadi. Mereka sedikit membungkuk memberi hormat pada tuan muda dan Nona mudanya.
"Selamat datang mbak Nada, Mas Radit" sambut mereka penuh penghormatan.
Radit dan Nada mengangguk pelan kemudian menatap ke arah rumah berlantai dua yang telah lama Nada tinggalkan. Radit menatap juga ke arah rumah sederhana yang berlantai dua, kediaman istrinya sejak kecil dan baru kali ini dia akan menginjakkan kakinya di sini.
Setelah beberapa menit berdiri, Radit dan Nada melanjutkan langkahnya ke atas. Radit menautkan jemari tangannya ke jari Nada. Masih sama, mereka masih terdiam. Akan tetapi, Radit tak perduli. Yang jelas, dia ingin selalu disamping istrinya itu meskipun di abaikan.
Para pelayan berjajar rapi menyambut Nada dan Radit, Radit memejamkan matanya. Untuk pertama dia harus berada di sini, entah kenapa suasana yang nyaman dirasakan sejak pertama kali menginjakkan kakinya.
Salah satu dari pelayan mengambil alih koper yang di bawa sopir kemudian berjalan di belakang Radit dan Nada dan membawanya mengikuti Radit dan Nada.
"Dimana Ayah dan Ibu, Bi?" tanya Nada pada Bi Ani sambil terus berjalan menapaki anak tangga dengan tenang.
"Ayah dan ibu ada di taman belakang, Mbak," ucap Bi Ani dan diangguki oleh Nada.
Radit dan Nada melangkah pelan menuju ke belakang. Nada membuka pintu yang menghubungkan taman dan rumah. Radit dan Nada menghentikan langkahnya saat melihat ke arah ibu dan ayah yang tampak menunggu dengan cemas kedatangan mereka.
"Ibu, Ayah," sapa Nada.
__ADS_1
Nada melepaskan jari tangannya dari genggaman jemari tangan Radit.
Ayah dan ibu mencoba tersenyum menyambut kedatangan putri dan menantu tercinta. Berita kepulangan Nada dan Radit yang di lihat dari televisi membuat ayah, ibu, tidak bisa melakukan aktivas apapun karena hawatir.
Ibu dan ayah segera mendekat ke arah Nada dan Radit. Mereka bergantian memeluk putri dan menantunya.
Berulangkali ibu mengusap perut Nada yang sudah tampak membesar.
Radit dan ayah saling menatap. Ini untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah lama berpisah.
"Sebaiknya kalian ke kamar dulu, istirahat. Biarkan Bi Ani menyiapkan makanan untuk kalian," ucap Ayah.
Nada menatap erat ke arah Ayahnya dan ibunya.
"Ayah, ibu, Nada ingin sendiri. Nada harap Ayah menyiapkan satu kamar untuk Mas Radit di sini," ucap Nada kemudian melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas.
Ibu dan Ayah terkejut dengan ucapan Nada, mereka menatap ke arah Radit yang kini menampakan wajah sedihnya.
"Radit, maafkan sikap Nada," ucap ibunya.
"Kalau begitu istirahatlah di ruang tamu, Pasti kamu juga sangat lelah," ucap Ayahnya.
"Maaf Yah, untuk sementara Radit akan tinggal di rumah kakak. Jadi Radit ke atas dulu pamitan sama Nada," ucap Radit.
Ibu dan Ayah hanya bisa menghela napas panjang. Melihat Nada dan Radit seperti ini membuat mereka juga bersedih.
🌹🌹🌹
Nada membuka pintu kamarnya menatap ruang kamar yang membuat dirinya merasa lebih nyaman. Nada meletakkan kopernya dan membaringkan tubuh lelahnya di sana. Air matanya mengalir deras.
Semoga semuanya bisa diatasi dengan baik, amin. Maaf bila aku kali ini sangat egois. Tapi aku butuh waktu untuk menerima semuanya.
__ADS_1
Radit melangkah menuju ke kamar Nada. Dibukanya pintu kamar dan membuat Radit bisa melihat dengan jelas bahwa Nada berbaring di ranjangnya. Radit mendekat dan mencium puncak kepala Nada yang memunggunginya.
"Aku pergi sekarang Dear, baik baik kamu disini. Lima hari ke depan aku akan datang dan membawa bukti bila memang aku tak bersalah," ucap Radit. Nada terdiam, perih dirasakan. Air matanya bercucuran keluar.
Radit yang mendapati sikap acuh Nada seakan geram, emosi sedikit memenuhi hatinya. Radit menghela napas panjang dan menarik Nada untuk menghadap ke arahnya. Seketika Nada berbalik arah. Mereka saling memandang, Radit menatap tajam ke arah istrinya yang tengah salah paham itu.
"Apa lagi? Pergilah, bukankah kita sudah mempunyai kesepakatan?" ucapnya sambil menepis tangan Radit.
"Kita memang mempunyai kesepakatan, tapi tidak dengan emosi seperti ini. Coba dengarkan penjelasanku, aku tidak tau jika pada akhirnya berita itu menyebar Dear," ucap Radit.
"Penjelasan yang bagaimana yang harus aku dengarkan? Aku tidak berpikiran apapun tentang berita itu. Yang aku inginkan sekarang, kamu mencari kebenarannya untukku, itu saja." ucap Nada.
Pemikirannya sendiri yang telah menghancurkan hatinya. Air matanya mengalir deras. Antara sakit dan kecewa Radit menghadapi sikap Nada yang seperti ini. Nyatanya Cintanya yang tulus tidak terbaca oleh mata Nada.
"Stop sifat egoismu itu. Coba mengerti perasaan orang lain Dear. Jangan pernah merasa benar dengan pemikiranmu sendiri." ucap Radit dan mampu membuat Nada menatap tajam ke arah Radit.
Air mata Nada mengalir deras kembali. Nada bangun dari tidurnya dan memandang Radit dengan derai air matanya. Berita dan gosip di luaran sana benar-benar mengganggu pikirannya.
"Kamu bilang aku egois? Lalu apa yang yang kamu lakukan tidak egois? kamu melakukan pertemuan dengannya tanpa persetujuan ku?
Apa kamu merasa benar memposisikan aku sebagai wanita yang bahagia diatas penderitaan wanita lain? Apa kamu merasa benar dengan menjadikan aku istri satu satunya tetapi diluaran sana ada orang yang sama mengandung anakmu?" tanya Nada dengan tangisan pilunya. Radit diam.
"Pergilah, Yang. Pergilah dan kembali membawa cinta yang hanya ada untukku dan baby kita," ucap Nada dengan putus Asa.
Radit menghela napas panjang, ya Nada sangat sensitif sekali dan sulit untuk diajak bicara. Radit mengepalkan tangannya, bertekat akan membereskan semua secepatnya.
Radit mengusap perut Nada dan menciumnya dengan lembut.
"Papa pergi baby, jaga mama baik baik," ucap Radit kemudian melangkah pergi.
Nada memejamkan mata indahnya. Pesan dari Selena yang masuk ke ponselnya beberapa jam yang lalu membuat dirinya menjadi sesedih ini.
__ADS_1
Nada, tolong aku. Bantu aku. Aku mohon,
😍😍😍😍