
Nada dan Radit berkutat dengan dapur, mereka tidak pulang ke mansion, melainkan pulang ke apartemen. Apartemen yang lebih dekat dengan MRD group tapi berbeda area dengan yang di tempati oleh Mira.
Radit melipat lengannya dan memeluk erat pinggang Nada yang kini Menyiapkan makanan di meja makan.
"Aku ke kantor, ada grand opening pelatakan batu pertama dengan Pradikta group." ucap Radit tepat di samping telinga Nada.
"Hem, Aku ke rumahsakit sore nanti Yang. soalnya pagi ini aku mau ke butik dulu. Apa boleh Yang? Ada juga acara ke luar nanti siang, kata sifa ada undangan lewat email, tapi sampai sekarang aku belum membukanya," sahut Nada.
Radit memutar tubuh Nada sehingga dia berhadapan dengannya. Mengusap pelan pipi mulus Nada dan menatapnya dengan tenang.
"Acara apa?" tanya Radit. Nada menggeleng pelan.
"Aku belum tau pasti," jawabnya santai.
"Apa kau masih bekerjasama dengan Pradikta grup?" tanya Radit lagi dan diangguki oleh Nada.
"Sepertinya kita ada di acara yang sama," ucapnya sambil melepas pelukannya dan duduk di kursi yang telah di persiapkan oleh Nada.
Nada tampak terdiam, dan menatap ke arah Radit yang kini menikmati makan paginya. Semalaman lelaki itu tak mau makan karena banyak hal, sehingga saat ini dirinya tampak lahab sekali.
"Mungkin, aku adalah salah satu investor di Pradikta group," jawab Nada.
"Selain Ouner Syena bontique kamu mencoba menjadi pembisnis?" tanya Radit.
"Hem, akan ku saingi MRD gruop dan akan menjadi orang kaya nomer satu, biar aku disayang ibu mertua," ucap Nada sambil terkekeh.
__ADS_1
Uhuk uhuk..
Radit tersedak udara dan menatap Nada dengan tatapan gemas.
"Apa kamu yakin bisa menyaingiku Nyonya Marvel?" tanya Radit sambil terkekeh.
"Tentu, aku wanita hebat. Bahkan Tuan Marvel ouner MRD group bertekuk lutut di hadapanku. Sahutnya. Radit merai pinggang Nada dan memangku Nada hingga berada di pangkuannya.
"Apa kamu berniat datang?" tanya Radit sambil mengamati Nada yang kini menatapnya. Nada tersenyum, kemudian tangan Nada terulur mengambil piring dan sendok dan menyeduh sop hangat kesukaannya. Beberapa lama tak pernah makan sop, dan hari ini dia menginginkannya.
"Apa katamu, kalau boleh aku datang. Kalau tidak aku akan di butik saja," ucap Nada. Radit tampak berpikir keras dan menatap ke arah Nada yang tampak menikmati sop yang sangat menggoda selera.
Radit yang mengamati Nada tampak menikmati makananya, mengalihkan tangan Nada dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. Nada tersenyum dan membenahi duduknya, menatap ke arah Radit yang ingin di suapinya. Di arahkanya sendok itu ke dalam mulut suaminya yang tampaknya terpesona dengan sop itu juga.
"Datanglah, aku tidak ingin membatasi pergerakanmu. Tapi ingat, jangan menggoda lelaki lain," ucap Radit sambil mengakhiri sarapan paginya.
"Tapi kau sangat mempesona Dear, kalaupun kau tidak menggoda, mereka akan tergoda," sewot Radit dan mampu menerbitkan kekekehan kecil di mulut Nada.
"Jangan seperti itu, aku malu Yang, aku tak sesempurna itu," ucap Nada sambil membereskan piring makannya.
Radit berdiri dan memegang kedua pundak Nada, menatap lekat istri cantik yang tadi memberikan kehangatan dan kenikmatan yang begitu membuai dirinya. Kenikmatan tiada tara yang membuat candu untuknya melakukannya lagi dan lagi.
"Kamu seperti berlian yang siapapun melihatmu akan terpesona, dan aku tidak mau itu terjadi," ucap Radit sambil menatap ke arah Nada yang kini memandangnya dengan wajah merah merona.
"Gombal, dasar mantan casanova menyebalkan," celetuk Nada sambil berjalan menjauh dari suaminya. Radit tersenyum tipis dan memakai jas kerjanya yang sudah di siapkan Nada beserya dengan dasi yang senada dengan celana.
__ADS_1
Radit meraih dasi dan memakainya, Nada yang baru saja keluar dari dapur segera berdiri di depan Radit dan membantu suaminya itu untuk memakai dasi.
"Acaranya nanti siangkan?" tanya Nada dan diangguki oleh Radit.
"Jangan lupa, tidak boleh berdandan berlebihan," ucap Radit mencoba memastikan.
"Apa aku harus bercadar saja agar tidak di lihat orang?" tanya Nada sewot.
"No, kau pergi ke sana sebagai pemilik butik, bukan sebagai istri Tuan Marvel Raditia Dika," ucap Radit sambil menatap Nada yang kini sibuk dengan dasinya.
"Selesai," ucap Nada kemudian menatap Radit yang juga menatapnya.
"Okey, jadi aku berperan sebagai wanita singel?" tanya Nada lagi. Radit seakan tak terima, ia membungkam mulut Nada dengan ciuman hangat yang memabukan. Membuat Nada tak mampu bicara lagi dan menikmatinya.
"Bukan wanita singel, kau bersuami dan aku akan memperhatikanmu, jangan macam-macam Nona Nada," ucapnya sambil menatap ke arah Nada dengan tatapan tajam.
Nada terkekeh dan mengusap pelan dada suaminya.
"Aku suka posesifmu Tuan," ucap Nada kemudian melangkah pergi ke dapur.
😍😍😍😍
Vino mempersiapkan beberapa berkas, urusan dengan polisi diserahkan sepenuhnya pada Willy. Tiba-tiba saja pikirannya melayang jauh, membayangkan wajah cantik gadis 20 tahun yang kemarin menangis karna ulahnya.
Entah kenapa, wajah itu tampak jelas dibpelupuk matanya.
__ADS_1
"Kenapa mengganggu pikiranku gadis? Nanti siang kita bertemu," lirihnya.
😍😍😍