
"Seperti tisue itu, akan berada dalam tempat yang semestinya," ucap Radit kemudian bangkit.
Mira tampak geram dan menatap tajam ke arah putranya, putra yang selama ini sangat membencinya.
"Apa maksudmu Marvel?" bentaknya.
Radit membalas tatapan mata mamanya dengan tenang.
"Aku bilang aku juga akan menjaga kesetabilan perusahaan dari manusia munafik yang bisa saja menghancurkan masa depan perusahaan. Apa aku menyinggungmu Nyonya Mira? Apa kau berencana menghancurkan perusahaanmu sendiri sehingga kau tersinggung?" tanya Radit dengan tenang.
Mira hanya memejamkan matanya, suasana semakin dingin. Micel hanya mengepalkan tangannya sambil melirik ke arah empat orang di depannya secara bergantian.
"Kak, bisa lebih sopan?" tanya Micel yang tidak terima dengan ucapan Radit. Radit menatap MIcel dan tersenyum tipis.
"Kau diamlah," ucap Radit dingin.
Micel memejamkan matanya, selalu begini. Radit selalu mengacuhkan dirinya. Nenek Amy berjalan ke arah Radit dan mengusap punggung cucunya. Kakek Rey tampak menatap ke arah ibu dan anak itu bergantian.
"Marvel, dia ibumu. Jangan seperti ini," tegas kakeknya.
"Aku tidak mengatakan apapun tentangnya kem. Sudah siang, aku berangkat dulu," ucap Radit kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
"Marvel," suara itu menghentikan langkah Radit.
Radit berhenti tetapi tetap pada posisinya, menunggu orang yang memanggilnya berjalan ke arahnya. Mira berdiri di depan Radit dan menatap sosok tampan dan dingin itu. Dia tersenyum dengan tenang.
"Kau boleh membenci mama, yang jelas mama adalah ibumu!" ucapnya dengan tegas.
Radit hanya terdiam, tangannya terkenal kuat. Ibu? Ibu macam apa yang tega merusak kepercayaan anaknya? Radit menggeleng kemudian melangkah pergi. SementaraMira tersenyum sinis sambil mengamati punggung Radit yang menjauh darinya.
"Aku ibumu, aku bisa juga mengendalikanmu," lirihnya kemudian melangkah pergi.
Hanya tinggal Micel dan nenek yang ada di ruang makan. Micel mendekat ke arah neneknya dan menatap perempuan berusia lanjut itu.
"Tidak ada yang membencimu, Kak Marvel juga sangat menyayangimu. Sabar saja, semua butuh waktu," ucap neneknya.
"Sekarang berangkatlah. Kau harus mendapat nilai yang bagus," ucap neneknya.
Micel mengangguk kemudian mencium tangan neneknya dan melangkah pergi.
Nenek Amy berjalan menemui Mira diluar sana, ia mengamati hamparan tanaman yang sangat indah. Mira tampak beebicara dengan seseorang dengan sambungan telepon. Kemudian nenek Amy mendekat setelah Mira menyelesaikan percakapannya.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya nenek Amy. Mira menoleh ke arah ibunya yang kini menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Apa yang ibu mau tau? Aku punya banyak rencana untuk kita, ibu tau Zifana? Putri dari Raharja winata? Dia sangat menyukai Marvel, dia hanya meminta waktu untuk bertemu dengan Marvel. Aku harap Marvel akan setuju dengan pertemuan ini," ucapnya.
"Marvel bisa mencari pasangannya sendiri," ucap Nenek Amy.
"Aku tau, tapi belum tentu pilihan Marvel orang yang sepadan dengan kita ibu. Biarkan aku turut andil," ucap Mira.
"Kau tidak bisa memaksanya Mira," lirih nenek Amy.
"Aku berhak atas Marvel. Walau bagaimanapun aku adalah ibunya," ucap Mira.
"Sebaiknya ibu bersiap, kita segera berangkat ke kantor sekarang juga," ucap Mira kemudian melenggang pergi.
Nenek Amy menghela napas kasar, Mira? Putrinya itu adalah wanita yang sangat nekat. Bahkan persetruannya dengan putranya belum juga membaik, ia sudah merencanakan sesuatu yang belum tentu di sepakati dan di setujui oleh putranya.
Nenek Amy menghela napas kasar kemudian bersiap mengambil tas dan melangkah ke arah parkiran diikuti oleh beberapa pelayan yang membuka pintu mobil. Mira melirik ibunya dan tersenyum.
"Kita berangkat sekarang, ibu," lirihnya kemudian masuk ke dalam mobil setelah pelayan membuka pintu mobil.
Pak Hanan, sopir pribadi keluarga itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan dengan tenang.
🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1