
Nada melangkahkan kakinya dan menuju ke arah kamarya, waktu menunjukan pukul 22.00. Kedua orang tuanya pasti sudah terlelap, dia tadi sudah mengirimkan pesan untuk pulang terlambat agar kedua orang tuanya tidak khawatir.
Nada masuk ke dalam kamarnya dan meletakan tasnya di meja rias.
Nada membaringkan tubuhnya di ranjang king sizenya.
Nada menatap bingkai foto di atas meja dan meraihnya. Foto keluarga, ayah ibu dan kakak lelakinya beserta dirinya. Nada mengusap pelan wajah orang terkasih. Tanpa mereka Nada bukanlah apa-apa, keluarga adalah segalanya. Meskipun mereka hidup sederhana dan bukan dari kalangan konglomerat, tapi mereka hidup bahagia dengan segala nikmat yang di berikan oleh Sang Maha Kuasa.
Nada meraih ponselnya dan mengamati wajah Amara di sana. Wajah sahabat serta kakak baginya. Usia mereka yang terpaut 2 tahun membuat dirinya menjadi adik terbaik.
Nada mahasiswa S1 terbaik yang mampu menyelesaikan kuliah dengan menempuh waktu 3 tahun saja. Di usia yang masih muda dengan mudah mendapatkan kesuksesan yang pantas untuk diperhitungkan.
"Terimakasih Amara, kamu terbaik yang mengajariku banyak hal," lirihnya.
Nada menggeser ponselnya dan menemukan foto Rafa, kakak dari Amara, lelaki tampan dengan sejuta pesona. Nada jatuh hati padanya, namun Rafa hanya menganggap Nada seorang adik seperti Amara.
Nada mengambil buku dan menggoreskan pena di sana, jari lentiknya menari dengan lincah melukiskan tentang perasaanya.
Tentang rasa yang bergelayut manja
Tentang rasa yang bersemayam di hatiku
Tentang cinta yang hanya aku yang tau.
Tentang perasaan yang tak akan pernah bersinar
Redup, bagaikan cahaya yang malam yang di terjang angin yang berhembus kencang.
Semua tak seperti yang di harapkan
Cinta hanya ada dalam angan.
Cinta hanya ada dalam hati
Dan hanya terungkap lewat mimpi.
Hati ini terpaut padamu kala pandangan matamu menusuk jantungku
Aku mencintaimu,
Dan aku hanya mampu mengungkap dalam anganku.
Nada aira
__ADS_1
Nada memeluk buku itu. Hanya buku itu yang selalu menemani nya untuk mencurahkan isi hatinya. Isi hati yang penuh luka tak berdarah.
Nada melepas hijab cantik yang menghiasi kepalanya, meletakan buku kesayangannya di laci. Dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibanya empat rokaat. Berdoa dan meminta kebaikan kepada Allah SWT.
Setelah selesai menunaikan ibadah, Nada berbaring kemudian memejamkan matanya. Belum juga matanya terpejam sempurna, bayangan seseorang menyelinap masuk dalam pikirannya. Nada membuka matanya dan terbangun.
Nada meraih gelas berisi air putih di atas nakas. Bagaimana bisa bayangan Radit berada dalam otaknya? Makhluk mesum dan menyebalkan itu mengganggu pikirannya.
"Astagfirullah," lirihnya.
"Nad, sudah pulang Nak?" tanya ibunya yang melihat kamar Nada tampak terbuka. Bu Lisa melangkah mendekati putrinya.
"Iya bu, baru saja," sahutnya sambil tersenyum.
"Ada masalah?" tanya ibunya. Nada menggeleng pelan. Ibu Lisa duduk di samping Nada dan mengusap pelan pundak Nada.
"Nada mau kembali mengurus butik boleh bu?" tanya Nada.
Ibunya memejamkan mata, itu artinya nada harus kembali berjauhan dengannya.
"Baru beberapa hari di rumah dan kamu mau kembali?" tanya ibunya. Nada meraih tangan ibunya dan menciumnya.
"Mumpung Nada masih sehat, jadi biarkan nada berkarya. Nanti ada saatnya Nada di rumah seperti ibu," ucap Nada mencoba meyakinkan.
"Tiga hari lagi, Nada berangkat," ucapnya. Ibu Nada kembali mengusap pelan pundak Nada dan menatap putrinya.
"Apa tidak ada hal lain selain itu?" tanya ibunya. Nada menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ibu, Nada baik-baik saja," ucapnya.
"Bukan juga karna ayah berbicara tentang perjodohanmukan?" tanya ibunya lagi. Nada menggeleng cepat.
"Ya sudah, tidurlah! Ibu akan mencoba untuk berbicara pada ayahmu," ucap ibunya sambil menatap lekat wajah cantik putrinya.
Nada mengangguk dan mencium pipi ibunya kemudian membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjangnya.
🎀🎀🎀🎀🎀
Pagi hari di kediaman Radit, lebih tepatnya kediaman kakak angkat Radit. Mereka sarapan bersama, lagi-lagi Radit harus merasakan sesak di dadanya ketika melihat wanita yang dia cintai sekarang telah menjadi kakaknya.
Walaupun tidak pernah mengungkapkan cinta, tetapi rasa sakit itu benar-benar mengusik hatinya. Namun, pagi ini sepertinya Amara tak pulang ke rumah, sehingga dia tak ada sarapan bersamanya.
"Radit, kamu benar-benar akan pergi dan merintis karir sendiri?" tanya Micho setelah mereka menyelesaikan sarapan bersama.
__ADS_1
Ya, tadi malam Radit memberikan pesan pada Radit untuk pergi dari kota ini. Radit menatap ke arah kakaknya dan tersenyum.
"Apa kau yakin?" tanya Micho.
"Aku yakin Kak," sahut Radit.
Micho memejamkan matanya. Radit, adiknya itu tampak menyembunyikan sesuatu yang dengan jelas bisa di baca oleh Micho.
"Apa ini ada hubungannya dengan aku dan Amara?" tanya Micho.
Radit tampak terkejut, sejujurnya memang itu yang dia hindari. Perasaanya pada Amara yang menguasai dirinya tak sanggup dia tahan. Sepertinya menjauh lebih baik.
"Kau menyukai istriku?" tanya Micho. Radit terdiam. Pertanyaan kakaknya seperti sambaran petir di siang bolong.
"Aku tau batasanku Kak. Aku tak seberani itu, berbahagialah dengan Amara. Lagi pula Amara tidak mengenalku dengan baik," ucap Radit.
Micho menghela napas panjang, dia tau bagaimana rasanya melihat wanita yang dicintai menambatkan hati pada lelaki lain.
"Kau akan mendapat hal yang indah di waktu yang akan datang Radit, berangkatlah. Ku serahkan semua pekerjaan di sana padamu," ucap Micho. Radit mengangguk pelan.
Micho memberikan tugas pada Radit menghendel pekerjaan di kota X dan Radit menyetujuinya.
"Terimakasih, Kak. Oh iya Kak. Aku ada sedikit tabungan, aku sudah mentrasfer pada kakak. Kakak bisa menggunakan untuk menambah modal di perusahaan kakak yang sempat terpuruk karena membantu perusahaan Papa," ucap Radit.
Micho mengeryitkan dahinya, dan menatap ponselnya. Radit mengirimkan nominal yang begitu banyak, dari mana dia mendapatkannya?
"Heh, kakak masih bisa menghidupi diri dengan penghasilan restauran. Kau tak usah menghawatirkan aku. Lagi pula dari mana kau punya uang sebanyak ini?" ucap Micho. Radit tertawa.
"Sudahlah kak, itu uang halal," ucap Radit.
"Tapi dari mana sebanyak ini? Kakak berhutang padamu," ucap Micho lagi.
Radit tertawa dan mendekat ke arah kakaknya.
"Itu Radit berikan pada Kakak, Radit bahagia selama ini mendapat kasih sayang dari kakak dan ibu. Uang itu tak ada apa-apanya dengan apa yang telah kakak berikan," ucap Radit sambil menepuk pundak Micho.
Micho meraih Radit dalam dekapannya. Sedih? Pasti. Kebersamaan mereka benar-benar membekas di hati, dan perpisahan yang entah kapan terjadi itu pasti membuat keharuan di antara mereka.
"Jangan main perempuan dan minum terlalu banyak. Jangan memanfaatkan keberadaan kita yang jauh," ucap Micho tegas.
"Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha, Kak," ucap Radit sambil tersenyum getir.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Like jangan kendor yokkk...